Makalah Observasi Baca Tulis Qur`an

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang Observasi

Al-Qur an adalah rahmat terbesar Allah swt. kepada manusia. Ia merupakan `Kitab Ibadah` sekaligus `Kitab Hidayah`. Sebagai `Kitab Ibadah`, setiap muslim dapat  beribadah dengan A-Qur an yakni dengan membacanya sesering mungkin agar dapat pahala yang berlimpah.

Rasulullah s.a.w. bersabda:

“siapa saja membaca satu huruf dari kitab Allah (Al-Qur an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas denga sepuluh kali lipatnya”. (H.R At-tirmidzi)

“dikatakan kepada ahli Al-Qur an, bacalah, naiklah dan bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membaca didunia karena kedudukanmu (di surga) terletak pada akhir ayat yang kamu baca”. (H.R At-tirmidzi)

Sebagai `Kitab Hidayah` Al-Qur an adalah sumber Petunjuk paling utama. Ia adalah manual book untuk menjawab semua persoalan hidup yang dapat membawa manusia sukses di dunia dan akhirat. Agar mendapatkan hidayah Al-Qur an, setiap muslim harus melalui tiga tahapan : 1. Memahami, 2. Menghayati, dan 3. Mengamalkan Al-Qur an. (DR. Ahmad Hatta : 2009 : hal. Mukadimah)

Al-Qur’an adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman yang ke tiga. Beriman kepada al-Qur’an harus dibuktikan dengan mempelajarinya dan mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari al-Qur’an adalah kunci sukses hidup dunia dan akhirat. (Khalid Abdul Karim Allaahim, 2004: 5 ). Dengan mempelajari al-Qur’an maka seseorang akan mempunyai banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Sebagaimana sabda-sabda Nabi Muhammad s.a.w. :

 

ثَلَا ثَةُ يُحِبُهُمْ الله عَزَ وَجَلَّ : رَجُلٌ قَامَ مِنَ الَّلَيْلِ يَتْلُو كِتابَ الله,… الخ (رواه الترمدي)

‍‍‍‍ )مختار الاحاديث النبويه. ١٤١٩ه : ٦٣  :٥٠٠(

Artinya: Tiga perkara yang disukai allah azawajalla : Orang yang membaca kitab Allah pada waktu malam,…dst. (H.R Atirmidi)

(Mukhtaarul ahaadits nabawiyyah. 1419 H. : hal. 63. No. 500)

 

القران : هو النور المبين, والذكرالحكيم, والصراط المستقيم. (رواه البيهقي) )مختار الاحاديث النبويه. ١٤١٩ه : ١١٥  : ٨٥٨(

Artinya : Al-qur an : itu cahaya yang nyata, pengingat yang bijaksana, dan penunjuk jalan yang lurus. (H.R Baihaqi)

(Mukhtaarul ahaadits nabawiyyah. 1419 H. : hal. 115. No. 858)

 

القران : يَقْرأُ بِلحونِ العربِ وأصْواتُها, واِيّاكمْ ولْحوْن أهلِ العشْق, ولحون أهل الكتابيْنَ, فاِنه سيجيْءُ بعدي قومُ يرْجعوْنَ باالقرْان تَرجِعُ الغِناءِ والنُّوحِ, لا يَجوْزَ حَناجرَهمْ, مفْتونةٌ قُلوبُهمْ وقلوبِ الّدينَ يُعْجِبُهمْ شأْنُهمْ. (رواه حديفة) )مختار الاحاديث النبويه. ١٤١٩ه : ١١٥  : ٨٥٩(

(Mukhtaarul ahaadits nabawiyyah. 1419 H. : hal. 115. No. 859)

 

مَثلُ الْمُؤمنَ الّدي يَقْرأالْقُرانِ كمَثلِ الأتْرُجَّة, رِيْحُها طيْبٌ وطعْمُها طيْبٌ, ومثَل المؤْمنِ الَّدي لايقْرأ القرْان كمثَل التَّمْرَةِ لارِح لها, وطعْمُها حُلْوٌ, ومثَل الْمُنافِقِ الَّدي يقرأ القُرْان كمثلِ رَيْحانةِ ريحُها طيْبٌ وطعمها مُرٌ, ومثلُ الْمُنافقِ الَّدي لايَقرأ القُرأنِ كمثَل الْحَنْظلَةِ ليْسَ لها ريحُ وطعْمُها مرٌ. (رواه البخاري ومسلم عن أبي موسى) )مختار الاحاديث النبويه. ١٤١٩ه : ١٤٢  : ١١٠٠(

Artinya: Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-qur an itu bagaikan buah durian, wanginya yang harum dan rasanya yang lezat, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-qur an itu bagaikan buah kurma yang tidak ada wanginya, dan manis rasanya, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-qur an itu bagaikan buah roihanah, wanginya yang harum, dan rasanya yang pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-qur an itu bagai buah hangdolah, yang tidak ada wanginya dan pahit rasanya. (H.R Bukhori dan Muslim dari Abi Musa)

(Mukhtaarul ahaadits nabawiyyah. 1419 H. : hal. 142. No. 1100)

 

عَنْ أبي هُرَيرةَ رضي الله عنه قالَ: قالَ رَسولَ الله (ص): مااجْتَمَعَ قوْمٌ في بيْتِ مِنْ بُيوْتِ الله يتْلونَ كِتابَ الله ويَتَدارَسونَهُ بيْنَهم ْاِلاَّنَزلَتْ عليْهمُ السَّكيْنةُ, وغَشِيَتْهمُ الرَّحْمةُ, وحفَّتْهمُ الْملاءِكةُ, ودَكرَهمُ الله فيْمَنْ عنْدهُ. رواه مسلمٌ. ( رياضالصالحين: ١٣٨٣ه: ١٣٨: ١)

Artinya: Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: dan apabila berkumpul suatu kaum dalam majlis (baitullah) untuk membaca kitab Allah dan mempelajari, maka pasti turun kepada mereka ketenangan dan diliputi oleh rahmat dan dikerumuni oleh Malaikat dan di ingati oleh Allah di depan para Malaikat yang ada padanya. (Muslim). (Riyaadhusshalihin: 1383 H: hal. 138. No. 1)

Bahasa Al-qur an adalah mu`jizat besar sepanjang masa, keindahan bahasa dan kerapian susunan katanya tidak dapat ditemukan pada buku-buku bahasa arab lainnya. Gaya bahasa yang luhur tapi mudah dimengerti adalah merupakan ciri dari gaya bahasa Al-qur an. (Drs. Miftah Faridl, Pokok-pokok Ajaran Islam, 1982 : 9). Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya dan menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran al-Qur’an pada tingkatan selanjutnya. Pada tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Qur’an dan tafsir al-Qur’an. Namun untuk menuju kepada tingkatan ini seseorang harus menempuh tingkatan awal yaitu membaca dan menulis al-Qur’an. Al-Ghazali berkata,” hendaklah seorang murid tidak mempelajari sebuah cabang ilmu sebelum menguasai cabang ilmu sebelumnya. ( Said Hawwa, 1999: 18 ).

Diantara tugas yang memerlukan keseriusan yang sangat dan kepedulian yang ekstra dari setiap pendidik adalah tugas mencari metode terbaik untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak- anak, sebab mengajarkan Al-Qur’an ( kepada mereka ) merupakan salah satu pokok dalam ajaran Islam.

Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan fitrahnya dan hati mereka pun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan.

Para sahabat telah mengetahui urgensi memelihara Al-Qur’an dan pengaruh yang akan ditimbulkan dalam jiwa anak- anak. Oleh karena itulah semoga Allah meridhoinya – mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada anakanaknya sesuai dengan anjuran Nabi.

Diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah bersabda: Orang yang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” ( HR. Ahmad ).

( Sa’d Riyad, 2007: 14 )

Berdasarkan hal itu, mengajarkan Al-Qur’an dapat memberikan sifatsifat yang terpuji kepada manusia, apalagi jika pengajaran dan pendidikan ini dikhususkan kepada keluarga. Pada saat yang sama, jika pengajaran Al– Qur’an ini terlaksana dengan baik, maka anak- anak pun akan dapat mencintai Al-Qur’an.

Dengan demikian, pengajaran yang sesuai dengan dasar-dasar yang benar, akan membuat anak- anak mencintai Al-Qur’an, sekaligus memperkuat iangatan dan pemahaman mereka. ( Sa’d Riyad, 2007:14 )

Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur’an. Hal ini disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar membaca Al Qur’an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al Qur’an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur’an ini sudah mulai langka.

Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin jauh dari tuntunan Rasululloh. Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur’an di rumah-rumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam, sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pada dekade belakangan ini telah banyak metode pengajaran Al-Qur’an dikembangkan, begitu juga buku-buku panduannya telah banyak disusun dan dicetak. Para pengajar  Al-Qur’an tinggal memilih metode yang paling cocok baginya, paling efektif dan paling murah.

Dunia pendidikan mengakui bahwa suatu metode pengajaran senantiasa memiliki kekuatan dan kelemahan. Keberhasilan suatu metode pengajaran sangat ditentukan oleh beberapa hal, yaitu :

1. Kemampuan guru.

2. Siswa.

3. Lingkungan.

4. Materi pelajaran.

5. Alat pelajaran.

6. Tujuan yang hendak dicapai.

Dalam mengajarkan membaca Al-Qur’an harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.

 

  1. B.     Maksud dan Tujuan Observasi
    1. 1.      Maksud

–         Mengetahui sejauhmana penggunaan Prinsip Dasar Metode Mengajar Al-Qur an.

–         Menganalisa permasalahan Metode Belajar Al-Qur an.

–         Memahami Kesulitan Peserta Belajar Al-Qur an.

–         Melejitkan DNA membaca Al-Qur an.

–         Meningkatkan minat baca Al-Qur an.

 

 

  1. 2.      Tujuan

–         Peserta Belajar Al-Qur an dapat cepat memahami dan melafalkan Al-Qur an dengan cepat dan benar.

–         Dapat mengatasi permasalahan Metode Belajar Al-Qur an.

–         Solusi untuk kesulitan Peserta pembelajaran Al–Qur’an.

–         Peserta belajar tertarik untuk membaca Al-Quran.

–         Menambah wawasan kelimuan tentang dunia pendidikan pada

umumnya dan pendidikan Al-Qur’an pada khususnya.

 

  1. C.     Sistematika Laporan Observasi

Sistematika penyusunan Laporan Hasil Observasi adalah sebagai berikut :

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Observasi
  2. Maksud dan Tujuan
  3. Sistematika Laporan

BAB II LAPORAN HASIL OBSERVASI

  1. Kondisi Objektif Lokasi Observasi
  2. Hasil Temuan
    1. Pelaksanaan
    2. Masalah
    3. Solusi

BAB III SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

BAB II

LAPORAN HASIL OBSERVASI

 

  1. A.     Kondisi Objektif Lokasi Observasi

Laporan Hasil Observasi ini dengan dukungan data yang di eksploitir secara sistematis dari lokasi observasi.

Meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh indera (Suharsimi Arikunto, 1997: 146).

 

  1. 1.    Sejarah singkat Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Sukajaya

Pondok pesantern Miftahul Huda 2 Sukajaya yang berada di kmpung Jamuresi desa Sukajaya kecamatan Rajadesa berdiri tahun 1404 H. di bawah pimpinan Syekh Maulana Malik Ibrahim kala itu.

Pesantren yang luasnya kurang lebih 50 x 30 m2 (keseluruhan areal) dan tempat yang strategis di tengah perkampungan dengan sumber air yang lebih dari memadai. Dengan fasilitas empat ruangan laki-laki (kobong) dan lima ruangan untuk perempuan serta mesjid yang berada dilantai dua.

Sekarang Pondok pesantren Miftahul Huda di pimpin Oleh Edi Nur Sodik sebagai penerus pertama dalam perkembangannya. Sebelumnya beliau mengakhiri pendidikan keagamaannya di Pondok Pesantren Manonjaya, Tasikmalaya. Selepas dari Pondok Pesantren tersbut (alumni) beliau secara berkesinambungan memimpin Pesantren Miftahul Huda.

Santri-santri Pesantren tersebut sekarang hanya anak-anak sekolah dari mulai SD hingga SLTA itupun hanya beberapa orang yang menginap, selain itu hanya anak-anak yang ikut mengajinya waktu malam saja (santri kalong) setelah selesai mengaji langsung pulang.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dari tahun 2003 kebelakang, Santri-santrinya bukan hanya dari daerah itu sendiri tapi dari luar daerahpun banyak yang menuntut ilmu di Pesantren ini bahkan Taman Kanak-kanakpun ada saat itu.

Walaupun demikian ternyata Ponpes. Miftahul Huda 2 Sukajaya tidak hanya menginginkan kuantitas semata, namun kwalitas yang menjadi tujuan utama.

 

 

 

  1. 2.    Karakteristik Responden

 

Tabel 2.1

Usia Responden

Usia

Jumlah

%

6-7

13

40,62

8-9

19

59,38

Total

32

100

Sumber: Data hasil olahan dari Observasi di lapangan.

 

Dari tabel diatas menunjukan bahwa responden atau peserta belajar yang mengikuti Belajar Al-qur an berusia antara 6-7 tahun yang berjumlah 13 orang sedangkan yang berusia antara 8-9 tahun berjumlah 19 orang. Hal ini menunjukan bahwa peserta masih berada pada masa kanak-kanak.

 

Tabel 2.2

Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Jumlah

%

Laki-laki

14

43,75

Perempuan

18

56,25

Total

32

100

Sumber: Data hasil olahan dari Observasi di lapangan.

 

Dari tabel di atas menunjukan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan. Hal ini dipahami bahwa jumlah wanita di Indonesia paling besar dibandingkan dengan jumlah laki-laki.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2.3

Tingkatan Belajar

Tingkatan Belajar

Jumlah

%

Jilid 1

5

15.62

Jilid 2

4

12,50

Jilid 3

7

21,88

Jilid 4

5

15,62

Jilid 5

3

9,38

Jilid 6

3

9,38

Jilid Gharib dan Musykilat

5

15,62

Jumlah

32

100

Sumber: Data hasil olahan dari Observasi di lapangan.

 

Dari tabel diatas menunjukan bahwa sebagian besar responden berada pada jilid 3. Hal ini disebabkan karena siswa belum fasih/benar dan lancar pada jilid sebelumnya atau pada jilid yang sedang di pelajarinya, sesuai dengan aturan Metode Mengajar Anak Usia 4 – 6 tahun (TK. Al-Qur an) salah satunya ialah murid diperbolehkan melanjutkan kejilid berikutnya jika mampu membaca lancar tanpa ada salah baca. (H. Dahlan Salim Zarkasyi : 1990).

 

  1. B.     Hasil Temuan

Berdasarkan fakta-fakta atau kejadian-kejadian pada objek Observasi dilapangan tepatnya di Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Sukajaya, kami menemukan metode yang digunakannya untuk pembelajaran Al-qur an ialah Metode Qira`ati. Metode baca al-Qu ran Qira’ati ini ditemukan KH. Dahlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-anak mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah.

Kiyai Dahlan yang mulai mengajar al-Qur’an pada 1963, merasa metode baca al-Qur’an yang ada belum memadai. Misalnya metode Qa’idah Baghdadiyah dari Baghdad Irak, yang dianggap metode tertua, terlalu mengandalkan hafalan dan tidak mengenalkan cara baca tartil (jelas dan tepat). Kiai Dahlan kemudian menerbitkan enam jilid buku Pelajaran Membaca al-Qur’an untuk TK al-Qur’an untuk anak usia 4-6 tahun pada l Juli 1986. Usai merampungkan penyusunannya, KH. Dahlan berwasiat, supaya tidak sembarang orang mengajarkan metode Qira’ati. Tapi semua orang boleh belajar dengan metode Qira’ati. Dalam perkembangan-nya, sasaran metode Qira’ati kian diperluas. Kini ada Qira’ati untuk anak usia 4-6 tahun, untuk 6-12 tahun, dan untuk mahasiswa.

Metode Qira`ati mulai di terapkan dipesantren Miftahul Huda 2 Sukajaya pada tahun 2007 sampai sekarang, dengan dua tenaga Pengajar itupun harus menyelesaikan dulu belajar Qira`atinya hingga lulus atau sampai ke tahap Pentasehan (berdasarkan ketentuan Metode Qira`ati) guru besar yang dilakukan di Koordinator kabupaten Ciamis yang salah satunya bertempat di Pondok Peantren Al-Ulfah – TKQ/TPQ Miftaahussa`aadah Karang Anyar, desa Rancah, kecamatan Rancah.

 

  1. 1.      Pelaksanaan

Dari Pedoman Observasi (Lampiran.1) dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan Kegiatan belajar mengajar Al-Qur an pada Ponpes. Miftahul Huda 2 Sukajaya dimulai pukul 18.30 – 19.30 WIB. dengan Proses Belajar Mengajar sebagai berikut :

  1. Klasikal I, yang terdiri dari Do`a sebelum belajar dan Hapalan Doa`doa Untuk TKQ/TPQ serta Bacaan Shalat dengan durasi 15 menit.
  2. Privat, kegiatan belajar Al-Qur an dengan durasi 30 menit.
  3. Klasikal II, di isi dengan pengevaluasian Bacaan yang dianggap sulit oleh peserta/siswa dan di tutup dengan do`a dengan durasi 10 menit.

Kemudian dalam penggunaan Prinsip-prinsip Dasar Metode Mengajar Al-Qur an pada Metode Qira`ati di Ponpes. Miftahul Huda 2 Sukajaya `Baik`, hal ini sesuai dengan penghitungan jumlah Prinsip-prinsip Dasar Metode Mengajar Al-Qur an yang dilaksanakan oleh pengajar atau Guru 1 dan Guru 2, selanjutnya kami persentasekan rata-ratanya dari dua pengajar itu dengan hasil angka 82,14 % atau dibulatkan menjadi 82 %.

 

 

Guru 1 ®         11/14 x 100 = 78,57 %

Guru 2 ®         12/14 x 100 = 85,71 %

Dengan menggunakan Rumus : NR =

 

 

NR =  

=

=

= 82,14 %

Keterangan :

NR = Nilai Rata-rata

X = Guru 1

Y = Guru 2

n = Jumlah Guru

 

Secara umum metode pengajaran Qiro’ati adalah :

  1. Klasikal dan privat.
  2. Guru menjelaskan dengan memberi contoh materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri (CBSA).
  3. Siswa membaca tanpa mengeja.
  4. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca dengan tepat dan cepat.

 

  1. 2.      Masalah

Berdasarkan Pelaksanaan di atas dengan hasil Nilai Rata-ratanya yang tidak sampai angka 100 % yang menjadi target Observasi kami, ternyata hanya sampai pada angka 82 %. Ini menunjukan adanya permasalahan yang mendasar pada diri pengajar itu sendiri, yaitu :

Pertama, Kurangnya pengetahuan tentang Prinsip-prinsip Dasar Metode Mengajar Al-Qur an. Kedua, sulitnya siswa dalam penglafalan kata/kalimat Qur an secara Makhorijul Huruf atau tempat keluarnya huruf, sehingga memungkinkan pendidik kurang sabar dalam menyikapinya yang berakhir pada kejengkelan. Dan yang ke tiga, jadwal pembelajaran yang telah di tentukan pihak pengajar dalam hal ini, siswa mau tidak mau harus selalu siap manakala sudah masuk pada waktu yang di tetntukan, jadi pengajar sudah tidak memperhatikan lagi kesiapan siswa/pelajarnya. (sesuai dengan Pedoman Observasi yang tidak dilaksanakan).

 

  1. 3.      Solusi

Dari permasalahan diatas, dapat dipahami bahwa solusi yang paling utama ialah pengajar/guru harus mengetahui Prinsip-prinsip Dasar Metode Mengajar Al-Qur an dan Karakteristik peserta didik serta psikologis anak pada usia-usia tertentu. Sehingga pengajar dapat lebih sabar dalam menghadapi tingkah laku anak didiknya.

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.     SIMPULAN
    1. Metode apapun yang berkembang, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Efektifitas, efisiensi, cepat mudahnya sebuah metode pengajaran berbeda-beda di tiap daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Penggabungan beberapa metode pengajaran belum tentu membuahkan hasil yang baik.
    2. Metode baca al-Qu ran Qira’ati ini ditemukan KH. Dahlan Salim Zarkasyi (w. 2001 M) dari Semarang, Jawa Tengah. Metode yang disebarkan sejak awal 1970-an, ini memungkinkan anak-anak mempelajari al-Qur’an secara cepat dan mudah.
    3. Mempelajari al-Qur’an berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya dan menulisnya.

 

  1. B.     SARAN
    1. Perlu konsistensi bagi pembina dalam menerapkan sebuah metode apabila telah dipilih, sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan kebingungan bagi pembina, terlebih lagi bagi santri.
    2. Para Pembina harus melakukan kajian yang mendalam, sebelum menetapkan metode apa yang akan dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur’an kepada santri. Beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode pengajaran antara lain :
      1. Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihan-pelatihan bagi para pembina.
      2. Mudah dikuasai oleh mayoritas Ustadz/ah
      3. Mudah dan murah mendapatkan buku panduan
      4. Mudah dan sederhana pengelolaan pengajarannya.

Jika beberapa metode lolos pertimbangan di atas, maka ditentukan pemilihan berdasarkan skala prioritas.

  1. Dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur’an harus menggunakan metode. Dengan menggunakan metode yang tepat akan menjamin tercapainya tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dan merata bagi siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

Lampiran 1. PEDOMAN OBSERVASI

No

PRINSIP DASAR

METODE MENGAJA R AL-QUR AN

KET. PELAKSANAAN METODE

YA

TIDAK

Guru 1

(x)

Guru 2

(y)

Guru 1

(x)

Guru 2

(y)

1

BERANGSUR-ANGSUR

ü   

ü   

 

 

2

LANGSUNG DIBACA/TIDAK DI EJA

ü   

ü   

 

 

3

DARI YANG DAPAT DILIHAT PANCA INDERA KEPADA HAL-HAL ABSTRAK

ü   

ü   

 

 

4

CARA BELAJAR SANTRI AKTIF

ü   

ü   

 

 

5

DENGAN UCAPAN YANG FASIH/BENAR

ü   

ü   

 

 

6

MEMUJI

 

 

ü   

ü   

7

TANYA JAWAB

ü   

ü   

 

 

8

MEMPERHATIKAN KESIAPAN/KEMAMPUAN ANAK

 

ü   

ü   

 

9

PERBANDINGAN

 

 

 

 

10

DARI YANG SEDERHANA KEPADA HAL-HAL YANG KOMPLEKS

ü   

ü   

 

 

11

DARI YANG MUDAH KEPADA HAL-HAL YANG SULIT

ü   

ü   

 

 

12

KLASIKAL I

ü   

ü   

 

 

13

PRIVAT

ü   

ü   

 

 

14

KLASIKAL II

ü   

ü   

 

 

Jumlah

78,57

85,71

 

 

             

 

HURUF

NILAI

KETERANGAN

A

91 – 100

Sangat Baik

B

81 – 90

Baik

C

71 – 80

Cukup

D

60 – 70

Kurang

NR =

=

= 82,14

 

Persentase Hasil Rata-rat pada Observasi :

 11/14 x 100 = 78,57 %

12/14 x 100 = 85,71 %       ®        Rumus NR =          ®

Lampiran 2. SURAT KETERANGAN OBSERVASI

 

PONDOK PESANTREN

MIFTAHUL HUDA 2 SUKAJAYA

RAJADESA

Jalan Jamuresi Desa Suajaya Telepon  Rajadesa 46254

 

SURAT KETERANGAN

Nomor : … /2010

 

Yang bertanda tangan dibawah ini pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Sukajaya, menerangkan bahwa :

Nama          : KUSAERY MUSTOPA

NIM           : 0951.063

Fakultas      : TARBIYAH

Jurusan        : PGSD/MI

Telah melaksanakan Observasi Metode Mengajar Al-Qur an di Pondok Pesantren Miftahul Huda 2 Sukajaya.

Demikian keterangan ini di buat agar yang berkepentingan menjadi maklum.

 

 

Sukajaya, Desember 2010

Pimpinan PONPES. MIFTAHUL HUDA 2 Sukajaya

 

 

 

EDI NUR SODIK                

 

Lampiran 3. FOTO-FOTO KEGIATAN BELAJAR AL-QUR AN

  1. 1.      Foto Kitab-kitab Dalam Metode Qira`ati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Foto Kegiatan Berlangsungnya Belajar Al-qur an

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 4. CIRI-CIRI QIRA`ATI

 

Ciri-ciri Qira`ati

  • Tidak dijual secara bebas (tidak di toko-toko)  •
  • Guru-guru lewat tashih dan pembinaan  •
  • Kelas TKQ/TPQ dalam disiplin yang sama  •
  • Dalam setiap jilid ada petunjuk mengajarnya (pada setiap jilid berbeda)  •

(H. Dachlan Salim Zarkasyi : 1990)

About Bang Akil Bent

Sudah Lahir Sudah Terlanjur...Mengapa Harus Menyesal...Hadapi Dunia Berani!!!

Posted on 2 Maret 2012, in Serpihan Perkuliahan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: