Makalah Pengelolaan Kelas Efektif

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang

Sering kali kita jumpai ada bapak ibu guru mengajarnya aktif , rajin, dan paling sibuk tapi banyak nilai siswanya yang jelek atau tidak mencapai ketuntasan. Anehnya mereka merasa sebagai guru yang paling baik dan paling layak mendapat imbalan yang tinggi. Bahkan tidak sedikit kepala sekolah yang menilai aktifitas sebagai tolak ukur prestasi dan bukan produktifitas. Jam kerja dan jam tambahan dijadikan peluang bagi orang-orang untuk memperlihatkan aktifitas dan dijadikan sebagai arena show bisnis.

Tugas utama seorang guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai pengajar, pendidik, pelatih dan pembimbing siswa. Sebagai pengajar seorang guru berperan dalam melakukan transfer of knowledge, yakni mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi (aspek kognitif). Tugas sebagai pendidik menempatkan guru dalam melakukan transfer of value yang meneruskan nilai – nilai kehidupan (aspek afektif). Sebagai pembimbing dan pelatih siswa guru berperan dalam mengembangkan keterampilan, memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam mewujudkan cita-citanya (aspek psikomotorik).

Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru diharuskan membuat rencana pembelajaran sebagai rambu-rambu atau acuan untuk memudahkan dalam melaksanakan proses belajar mengajarnya di kelas. Rencana pembelajaran yang dibuat harus memuat sasaran dan tujuan pembelajaran yang mencangkup aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik yang nantinya dituangkan dalam proses belajar mengajarnya. Ketiga aspek tersebut harus mendapatkan porsi yang sama dan tidak boleh mengutamakan salah satu dari ketiga aspek tersebut. Artinya ketiga aspek tersebut harus terintegrasi menjadi satu kesatuan yang seimbang dan utuh.

Untuk bisa melaksanakan tugasnya secara maksimal agar dalam proses belajar mengajarnya seorang guru dapat mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajarannya, maka seorang guru dituntut mampu menjadi guru yang efektif. Drs. Sukadi (2006 : 11) menegaskan bahwa guru efektif adalah guru yang mau dan mampu mendayagunakan (empowering) seluruh kemampuan dan potensi yang ada pada dirinya, peserta didiknya dan lingkungan belajarnya untuk mencapai sasaran dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Tidak hanya itu, Ia juga harus mampu menciptakan proses belajar mengajar yang efektif. Proses belajar mengajar yang efektif adalah suatu proses pembelajaran yang dapat memberikan hasil belajar maksimal berupa penguasaan pengetahuan, kemampuan, sikap, dan keterampilan kepada peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Nazarudin Rahman, 2009 : 131).

Tentunya untuk menjadi guru efektif yang mampu menciptakan proses belajar mengajar yang efektif tidaklah mudah, dibutuhkan tekad dan kemauan yang kuat yang timbul dari dalam diri seorang guru untuk terus meningkatkan kemampuan dan kompetensinya. Harus ada kesadaran yang muncul dari diri seorang guru untuk terus mau meningkatkan profesionalismenya dalam melakukan proses belajar mengajarnya di kelas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.     Pengertian Efektifitas

Efektitas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah dapat membawa hasil atau berhasil guna. Efektivitas adalah pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif atau pilihan cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainnya. Efektifitas bisa juga diartikan sebagai pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Sebagai contoh jika sebuah tugas dapat selesai dengan pemilihan cara-cara yang sudah ditentukan, maka cara tersebut adalah benar atau efektif.

Oleh karena itu Seorang Guru selalu dituntut untuk memperbaiki metode dan strategi belajar mengajarnya di dalam kelas, yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan latar belakang peserta didiknya. Sehingga guru senantiasa mengembangkan kompetensi dan kemampuannya dalam mengajar, baik dengan membaca buku maupun dengan mengikuti seminar atau pelatihan-pelatihan, Agar usaha yang dilakukan tidak sia-sia.

  1. B.     Kompetensi Yang Dimiliki Guru

PASAL 28 ayat 3 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan secara tegas dinyatakan bahwa ada empat kompetensi yang harus dimiliki guru sebagai agen pembelajaran. Keempat kompetensi itu adalah kompetensi pedagogic, kompetensi kepribadian, kompetensi professional dan kompetensi social.

Kepmendiknas No. 045/U/2002 menyebutkan kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Jadi kompetensi guru dapat dimaknai sebagai kebulatan penetehuan, keterampilan dan sikap yang berwujud tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran.

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Komptensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia. Yang paling utama dalam kepribadian guru adalah berakhlak mulia. Ia dapat menjadi teladan dan bertindak sesuai normaagama (iman, dan taqwa, jujur, ikhlas dan suka menolong serta memilki perilaku yang dapat dicontoh.

Kompetensi professional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.

Kompetensi sosial merupakan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kepentidikan, orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

Keempat kompetensi di atas merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Masing-masingnya bukanlah hal yang berdiri sendiri-sendiri. Justru itu, antara kompetensi pedagogic, kepribadian, professional dan social akan saling menunjang dan bisa tampak secara utuh dalam proses pembelajaran di dalam kelas dan pergaulan di luar kelas.

  1. C.     Mengenal Karakteristik Guru Efektif

Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar bagi penentuan kualitas guru yang diperlukan di daerahnya masing-masing. Oleh karena itu di masa yang akan datang, daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan pola pembinaan karier guru agar tercipta profesionalisme pendidikan di daerah. Dengan pola rekrutmen dan pembinaan karier guru yang baik, akan tercipta guru yang profesional dan efektif. Untuk kepentingan sekolah, memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah itu. Bahkan, John Goodlad, seorang tokoh pendidikan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian itu kemudian dipublikasikan dengan titel: Behind the Classroom Doors, yang di dalamnya dijelaskan bahwa ketika para guru telah memasuki ruang kelas dan menutup pintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akan lebih banyak ditentukan oleh guru.

Hal ini sangat masuk akal, karena ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Ia dapat tampil sebagai sosok yang menarik sehingga mampu menebarkan virus nAch (needs for achievement) atau motivasi berprestasi, jika kita meminjam terminologi dari teorinya McCleland. Di dalam kelas itu seorang guru juga dapat tampil sebagai sosok yang mampu membuat siswa berpikir divergent dengan memberikan berbagai pertanyaan yang jawabnya tidak sekedar terkait dengan fakta, ya-tidak. Seorang guru di kelas dapat merumuskan pertanyaan kepada siswa yang memerlukan jawaban secara kreatif, imajinatif – hipotetik, dan sintetik (thought provoking questions).

Sebaliknya, dengan otoritasnya di kelas yang begitu besar itu, bagi seorang guru juga tidak menutup kemungkinan untuk tampil sebagai sosok yang membosankan, instruktif, dan tidak mampu menjadi idola bagi siswa di kelas. Bahkan dia juga bisa berkembang ke arah proses pembelajaran yang secara tidak sadar mematikan kreativitas, menumpulkan daya nalar, mengabaikan aspek afektif, dan dengan demikian dapat dimasukkan ke dalam kategori banking concept of education-nya Paulo Friere, atau learning to have-nya Eric From.

Setiap profesi tentu tidak luput dari persoalan, termasuk juga bagi guru. Seorang guru efektif tidak akan terbelenggu oleh persoalan tetapi akan selalu berupaya mengubah persoalan menjadi tantangan dan peluang. Guru efektif juga berupaya menjadi pengendali terhadap keadaan yang tidak menyenangkan, dan bukannya malah dikendalikan oleh keadaan yang tidak menyenangkan.

Prof. Dr. H. mohamad Surya (2004 : 99) mengatakan bahwa kepribadian efektif akan terwujud melalui berfungsinya keseluruhan fotensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Potensi manusiawi itu berbentuk daya nalar sebagai pilar penyangga dengan empat jenjang anak-anak tangga yang berupa: 1) Coping, kemampuan melakukan tindakan sehari-hari dengan baik; 2) Knowing, memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari; 3) Believing, kenyakinan yang melandasi berbagai tindakan; 4) Being, perwujudan diri yang otentik dan bermakna (William D.Htt,1993).

  1. Penalaran, kemampuan untuk mempungsikan potensi akal fikiran secara efektif dengan bentuk bertanya, mencari, menguji, dan menjawab berbagai fenomena sehingga menjadi sesuatu yang bermakna.
  2. Sumber-sumber daya, seseorang memerlukan atau daya berupa kecakapan untuk melakukan sesuatu, mempengaruhi pihak lain, dan mendapatkan hasil dari tindakannya. Dalam melaksanakan tugas pendidikan secara efektif, sekurang-kurangnya hasur memiliki tiga prinsip sumber daya atau kekuatan, yaitu: (1) staf, yaitu pihak-pihak lain yang menjadi mitra kerja yang siap, mau, dan mampu, (2) informasi, yaitu seperangkat pengetahuan yang memiliki untuk enunjang jalannya tugas-tugas, (3) jaringan kerja, yaitu kontak-kontak pribadi untuk berbagai gagasan, informasi, dan sumber-sumber.          
  3. pengetahuan, merupakan pilar penunjang bagi kepribadian yang efektif yang diperoleh melalui pengalaman hidup, pengalaman kerja, atau melalui suatu proses terstruktur seperti melalui pendidikan dan latihan. Untuk perwujudan kepribadian efektif, pengetahuan yang harus dikuasai secara utuh mencakup: (1) pengetahuan tentang diri sendiri, yaitu sejauh mana mengenal, memahami, dan menerima berbagai aspek tentang dirinya secara utuh dan benar; (2) pengetahuan tentang tugas atau pekerjaan, yaitu pemahaman mengenai berbagai tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan jabatan atau pekerjaannya; (3) pengetahuan tentang organisasi, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek organisasi tempat tugas; (4) pengetahuan tentang bisnis utma, yaitu pemahaman mengenai visi dan misi secara khusus organisasi tempat tugas; dan (5) pengetahuan tentang dunia, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek lingkungan dan perkembangannya, baik local maupun global.             
  4. Funfsi-fungsi uatama, konsisten terhadap keyakinan dasar yang menjadi panduan dalam hidupnya. Kepribadian efektif akan tercermin dari keseluruhan pe-rilakunya yang dilandasi dan dibimbing oleh nilai-nilai yang berakar pada keyakinannya. Atas dasar itu, ada enam fungsi dasar yang dilakukan oleh pendidik berkepribadian efktif yang meliputi; (1) valving, yaitu kemampuan penguasaan nilai-nilai yang baik da-lam lingkungan pendidikan dan mampu menterjemahkan nilai-nilai itu dalam praktek, (2) visioning, yaitu memiliki gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang diinginkan bagi pendidikan, (3) coaching, yaitu membantu orang lain mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yangdiperlukan untuk mencapaai visi, (4) empowering, yaitu memberdayakan orang lain untuk bergerak sampai visi, (5) team bulding, yaitu mengembangkan kebersamaan dengan orang-orang yang bersedia untuk bersama-sama mencapai visi, dan (6) promoting quality, yaitu mencapai suatu reputasi meningkatnya mutu kinerja lembaga pendidikan.             
  5. Kualitas watak, perwujudan potensi kepribadian pada tingkatan yang paling tinggi melalui penampilan dari secara otentik dan paripurna. Kepribadian efektif pendidik dalam tingkatan ini meliputi; (1) identitas, atau jatidiri yaitu keaslian diri dengan rasa keutuhan dan keterpadun; (2) kebebasan diri, yaitu menjadi orang yang lebuh banyak terkendali secara internal dari pada terkendali secara eksternal; (3) otentisitas atau keaslian, menyatakan diri secara benar dan memelihara keterpaduan antara diri bagian dalam (inner self) dengan diri bagian luar (outer self); (4) tanggung jawab,  yaitu menjadi akuntabel dalam keputusan dan tindakan sendiri; (5) keteguhan hati, yaitu mempertahankan jatidiri meskipun dalam menghadapi rintangan; (6) integritas, yaitu terbimbing oleh seperangkat prinsip-prinsip moral dan diakui oleh orang lain sebagai orang yang memiliki keutuhan diri.

Kepribadian seorang guru akan mewarnai sikap, pola pikir, dan tingkah laku siswa. Karena itu, penting untuk memahami bagaimana menjadi guru efektif. Menurut Stephen R. Covey beberapa kebiasaan manusia efektif adalah sebagai berikut:

–       Guru efektif berpikir pro aktif

Artinya, guru efektif tidak menyerah pada suatu keadaan, suatu kesulitan akan diubah menjadi sebuah peluang. Guru efektif tidak mencari kambing hitam terhadap ketidakberhasilan suatu pendidikan. Mereka selalu berupaya mencari jalan keluar  dari suatu kesulitan. Dalam mengajar mereka berupaya menerapkan berbagai macam metode pembelajaran yang inovatif.  Sikap proaktif guru tidak lepas dari kreativitasnya. Tidak ada media pembelajaran yang memadai, guru efektif berupaya mencari media alternatif yang dapat menunjang pencapai hasil belajar. Pro aktif seorang guru yang efektif tidak hanya dalam hal pembelajaran di kelas, di lingkungan sekolah pun mereka pro aktif dalam menjalankan kegiatan sekolah yang lain.

–       Guru efektif memiliki tujuan jelas

Guru efektif harus memiliki visi dan misi mendidik yang jelas. Mereka tidak hanya asal mengajar untuk menggugurkan kewajiban sebagai guru. Visi dan misi utama seorang guru adalah membangun masa depan bangsa dan negara melalui pendidikan. Mendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan tetapi pendidik harus bertanggung jawab dalam pengelolaan pembelajaran, mengarahkan, dan perencana kegiatan siswa.

–       Guru efektif pandai membuat dan menentukan prioritas

Sebagai seorang guru, skala prioritas sangat dibutuhkan dalam menentukan arah kegiatan. Skala prioritas guru adalah mengedepankan kepentingan siswa dalam belajar dan ketercapaian kompetensi belajar siswa. Tidaklah efektif jika siswa hanya diberi catatan atau disuruh mengerjakan latihan soal, sementara guru melakukan kegiatan untuk kepentingan pribadi yang sebenarnya dapat ditangguhkan.

–       Guru efektif berpikir menangmenang

Dalam kehidupan, dikenal empat pola hubungan yaitu: hubungan menangkalah, hubungan kalahmenang, hubungan kalahkalah, dan hubungan menangmenang. Pola menangkalah biasa digunakan oleh orang egois. Pola hubungan kalahmenang dipraktikkan oleh orangorang yang putus asa dan tidak berdaya untuk membuat pilihan terbaik. Sedangkan pola menangmenang banyak digunakan oleh orang yang berpikir efektif. Guru harus optimis terhadap keberhasilannya dalam mendidik. Guru efektif memiliki rasa percaya diri tinggi dalam mengemban tugas dan meraih prestasi terbaik bagi siswanya. Namun sikap menangmenang ini tidak dengan menghalalkan segala cara tanpa mempertimbangan orang lain. Guru efektif berpikir menangmenang yaitu memiliki rasa percaya diri, tidak minder, tidak putus asa, dan tidak egois.

–       Guru efektif selalu bekerjasama

Dalam melaksanakan tugas, seorang guru efektif memiliki prinsip kemitraan. Ia tidak memandang dirinya sebagai guru yang paling pintar dan super hebat, makanya ia berupaya menjalin kerjasama yang baik dengan sesama guru dan siswa. Guru efektif memandang siswa sebagai anak yang memiliki potensi bukannya anak yang lemah. Untuk itulah guru efektif selalu memanfaatkan potensi siswa untuk meraih sukses.

–       Guru efektif memperhatikan orang lain

Guru efektif memberikan perhatian lebih terhadap siswa dan profesinya sebagai pendidik. Mereka berupaya semaksimal mungkin mencurahkan perhatian terhadap perkembangan belajar siswa. Demikian juga dengan profesinya, guru efektif tak hentihentinya berupaya mengembangkan pola pembelajarannya dengan tetap menjalin hubungan baik dengan pimpinan dan rekan kerjanya. Bagi seorang guru efektif, pengabdian dan perhatian terhadap siswa dan profesi adalah investasi kebaikan. Guru efektif memiliki keyakinan bahwa jika mereka memperhatikan siswa dan profesinya secara maksimal, maka ia akan mendapatkan perhatian yang sebanding. Prestasi dan penghargaan yang diperoleh seorang guru adalah wujud dari perhatiannya terhadap siswa dan profesinya.

–       Guru efektif belajar sepanjang waktu.

Ilmu pengetahuan dan teknologi terus berubah dan berkembang pesat. Guru efektif selalu berupaya mengikuti perkembangannya, agar tidak ketinggalan informasi. Sebab siswa sekarang juga memiliki banyak informasi terkini dalam belajar. Sebaliknya, guru tidak efektif malas untuk belajar. Mereka menganggap bahwa dirinya sudah pintar sehingga tidak perlu belajar lagi.

Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari:

Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi:

  1. Memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan;
  2. Memiliki hubungan baik dengan siswa;
  3. Mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus;
  4. Menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar;
  5. Mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa;
  6. Mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran;
  7. Mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi;
  8. Mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.

Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.

Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.

Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: Mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; mampu Memperluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; Mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

  1. 1.      Kriteria Keefektifan seorang Guru

Guru memiliki banyak kombinasi sifat atau kualitas pribadi. Apa yang menarik dan efektif bagi seorang siswa mungkin menimbulkan respon yang negative dari siswa yang lain. Guru yang efektif pada suatu tingkatan tertentu mungkin tidak efektif pada tingkatan yang lain. Hal ini disebabkan olehnya adanya perbedaan-perbedaan dalam tingkat perkembangan mental dan emosional para siswa. Dengan kata lain, para siswa memiliki respon yang berbeda-beda terhadap pola-pola perilaku guru yang sama. Sekalipun demikian, ada ciri-ciri yang dapat dijadikan pegangan untuk memperbaiki diri pribadi guru.

  1. 2.      Kriteria yang Ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat

Para peneliti dari Departemen Pendidikan Amerika Serikat menyimpulkan bahwa guru-guru yang baik digambarkan dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Guru yang baik adalah guru yang waspada secara professional. Ia terus berusaha untuk menjadikan masyarakat sekolah menjadi tempat yang paling baik bagi anak-anak muda.
  2. Mereka yakin akan nilai dan manfaat pekerjaannya. Mereka terus berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaanya.
  3. Mereka tidak lekas tersinggung oleh larangan-larangan dalam hubungannya dengan kebebasan pribadi yang dikemukakan oleh beberapa orang untuk menggambarkan profesi keguruan. Mereka secara psikologis lebih matang sehingga rangsangan-rangsangan terhadap dirinya dapat ditaksir.
  4. Mereka memiliki seni dalam hubungan-hubungan manusiawi yang diperolehnya dari pengamatannya tentang bekerjanya psikologi, biologi, dan antropologi cultural didalam kelas.
  5. Mereka berkeinginan untuk terus tumbuh. Mereka sadar bahwa dibawah pengaruhnya, sumber-sumber manusia dapat berubah nasibnya.

Dua hal menjadi jelas dari kriteria diatas, yaitu (1)guru yang baik melihat tujuan mereka dan mereka ekerja dengan penuh keyakinan,(2)guru harus memberi contoh tentang kebiasaan belajar, memberikan perhatian dan usaha yangn berencana tentang pengembangan dirinya secara terus-menerus melalui belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.     Simpulan
    1. Efektifitas adalah pencapaian tujuan yang diharapkan dengan hasil yang baik melalui penyeleksian metode.
    2. Kompetensi merupakan sikap gurur yang berwujud pada tindakan cerdas dan penuh tanggungjawab dalam melaksanakan tugas sebagai pengajar.
    3. Guru efektif ialah seorang pengajar dimana dapat memahami siswa dan lingkungan yang dihadapinya dengan penuh pertimbangan dan tanggung jawab dalam segala tantangan yang dihadapinya sebagai tenaga pengajar.
  2. B.     Saran
    1. Seorang Guru selalu dituntut untuk memperbaiki metode dan strategi belajar mengajarnya di dalam kelas, yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan latar belakang peserta didiknya.
    2. Guru senantiasa mengembangkan kompetensi dan kemampuannya dalam mengajar.
    3.  Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru diharuskan membuat rencana pembelajaran sebagai rambu – rambu atau acuan untuk memudahkan dalam melaksanakan proses belajar mengajarnya di kelas. Rencana pembelajaran yang dibuat harus memuat sasaran dan tujuan pembelajaran yang mencangkup aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik yang nantinya dituangkan dalam proses belajar mengajarnya. Ketiga aspek tersebut harus mendapatkan porsi yang sama dan tidak boleh mengutamakan salah satu dari ketiga aspek tersebut. Artinya ketiga aspek tersebut harus terintegrasi menjadi satu kesatuan yang seimbang dan utuh.

About Bang Akil Bent

Sudah Lahir Sudah Terlanjur...Mengapa Harus Menyesal...Hadapi Dunia Berani!!!

Posted on 2 Maret 2012, in Serpihan Perkuliahan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: