Monthly Archives: April 2012

MATERI PEMBELAJARAN PAI SD/MI

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW., kepada keluarganya, para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita semua selaku umatnya.

Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) MI dengan judul Materi Pendidikan Agama Islam di MI”.

Dalam penulisan dan penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan yang telah diberikan oleh berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peulis ingin menyampaikan terimakasih kepada:

  1. Orang tua dan seluruh keluarga tercinta yang telah memberikan dukungan baik moril mapun materil
  2. Dosen pembimbing mata kuliah ini Nana Suryana, M.Pd
  3. Dan umumnya kepada semua pihak yang telah memberikan dorongan dan motivasi dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada penulis selama ini mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Amiin.

 

Suryalaya,Oktober2011

PENULIS

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR………………………………………………………         i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………        ii

BAB I PENDAHULUAN

  1. LatarBelakang …………………………………………………………………………….
  2. RumusanMasalah …………………………………………………………………………
  3. TujuanPembahasan ………………………………………………………………..      2
  4. MetodologiPenulisan ………………………………………………………………….. 2
  5. Sistematika ………………………………………………………………………………. 2

BAB II PEMBAHASAN

BAB III KESIMPULAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang

Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat danmartabatnya sebagai makhluk Tuhan. Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial.

  1. B.     Rumusan Masalah

Dalam penuluisan makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah diantaranya sebagai berikut:

  1. C.     Tujuan

Pendidikan Agama Islam di SD/MI bertujuan untuk:

  1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
  2. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitumanusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dansosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.

 

  1. 1.      SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematikapenulisan yang digunakanadalahsbb :

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

  1. LatarBelakang,
  2. RumusanMasalah,
  3. Tujuan
  4. MetodologiPenulisan,
  5. SistematikaPenulisan.

BAB II PEMBAHASAN

  1. Apakah media pembelajaran?
  2. Bagaimanapemanfaatandanpenggunaan media pembelajaran di sekolahdasar?
  3. Bagaimanaperanan media dalam proses pembelajaran di sekolahdasar?


 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.     SK dan KD Fiqih MI yang Dikembangkan

Isi dari standar kompetensi dan kompetensi dasar fiqih MI dikembangkan oleh Departemen Agama dengan mempertimbangkan dan me-review Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi (SI) untuk Pendidikan Dasar dan Menengah pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam aspek Fiqih untuk SD/MI, serta memperhatikan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Islam Nomor: DJ.II.1/PP.00/ED/681/2006, tanggal 1 Agustus 2006, tentang Pelaksanaan Standar Isi.

Isi dari redaksi SK dan KD fiqih MI yang telah dikembangkan oleh Depag RI berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 2 Tahun 2008, untuk kelas I sampai dengan kelas VI, yakni sebagai berikut ini.5

Kelas I, Semester 1

STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal lima rukun Islam 1.1 Menyebutkan lima rukun Islam

1.2 Menghafalkan syahadatain dan artinya

2. Mengenal tata cara bersuci dari najis 2.1 Menjelaskan pengertian bersuci dari najis

2.2 Menjelaskan tata cara bersuci dari najis

2.3 Menirukan tata cara menyucikan najis.

2.4 Membiasakan hidup suci dan bersih

dalam kehidupan sehari-hari

Kelas I, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
3. Mengenal tata cara wudu
  1. Menjelaskan tata cara wudu
  2. Mempraktikkan tata cara wudu
  3. Menghafal doa sesudah wudu
4. Mengenal tata cara salat fardu 4.1 Menyebutkan macam-macam salat Fardu

4.2 Menirukan gerakan salat fardu

4.3 Menghafal bacaan salat fardu

Kelas II, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mempraktikkan salat fardu 1.1  Menyebutkan ketentuan tata cara salat fardu

1.2  Mempraktikkan keserasian gerakan dan bacaan salat fardu

2. Mengenal azan dan iqamah 2.1 Menyebutkan ketentuan azan dan iqamah

2.2 Melafalkan azan dan iqamah

2.3 Mempraktikkan azan dan iqamah

Kelas II, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
3. Mengenal tata cara salat berjamaah 3.1 Menjelaskan ketentuan tata cara salat berjamaah

3.2 Menirukan salat berjamaah

4. Melakukan zikir dan doa 4.1 Melafalkan zikir setelah salat fardu

4.2 Melafalkan doa setelah salat fardu

Kelas III, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal salat sunah rawatib 1.1 Menjelaskan ketentuan salat sunah rawatib

1.2 Mempratikkan tata cara salat rawatib

2. Mengenal salat Jumat 2.1 Mengenal ketentuan salat Jumat
3. Mengenal tata cara salat bagi orang yang sakit 3.1 Menjelaskan tata cara salat bagi orang

yang sakit

3.2 Mendemonstrasikan cara salat dalam keadaan sakit

Kelas III, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal puasa Ramadan 1.1 Menjelaskan ketentuan puasa Ramadan

1.2 Menyebutkan hikmah puasa Ramadan

2. Mengenal amalan-amalan di

bulan Ramadan

2.1 Menjelaskan ketentuan salat tarawih

2.2 Menjelaskan ketentuan salat witir

2.3 Menjelaskan keutamaan-keutamaan yang ada dalam bulan Ramadan

Kelas IV, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengetahui ketentuan zakat 1.1 Menjelaskan macam-macam zakat

1.2 Menjelaskan ketentuan zakat fitrah

1.3 Mempraktekkan tata cara zakat fitrah

2. Mengenal ketentuan infak dan sedekah 2.1 Menjelaskan ketentuan infak dan sedekah

2.2 Mempraktikkan tata cara infak dan sedekah

Kelas IV, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
3. Mengenal ketentuan salat Id 3.1 Menjelaskan macam-macam salat Id

3.2 Menjelaskan ketentuan salat Id

3.3 Mendemonstrasikan tata cara salat Id

Kelas V, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal ketentuan makanan dan

minuman yang halal dan haram.

1.1 Menjelaskan ketentuan makanan dan minuman yang halal dan haram

1.2 Menjelaskan binatang yang halal dan haram dagingnya

1.3 Menjelaskan manfaat makanan dan minuman halal

1.4 Menjelaskan akibat makanan dan minuman haram

Kelas V, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
2. Mengenal ketentuan kurban 2.1 Menjelaskan ketentuan kurban

2.2 Mendemonstrasikan tata cara kurban

3. Mengenal tata cara ibadah haji 3.1 Menjelaskan tata cara haji

3.2 Mendemonstrasikan tata cara haji

Kelas VI, Semester 1
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
1. Mengenal tata cara mandi

wajib

1.1 Menjelaskan ketentuan mandi wajib setelah haid
2. Mengenal ketentuan khitan 2.1 Menjelaskan ketentuan khitan

2.2 Menjelaskan hikmah khitan

Kelas VI, Semester 2
STANDAR KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR
3. Mengenal ketentuan jual beli dan pinjam meminjam. 3.1 Menjelaskan tata cara jual beli dan pinjam meminjam

3.2 Mempraktikkan tata cara jual beli dan pinjam meminjam

  1. B.     Analisis Materi SK dan KD Fiqih MI 2006 dalam Konteks Pendidikan Islam untuk Anak

Berdasarkan kajian secara mendalam berkaitan dengan isi maupun pengembangan SK dan KD Mata Pelajaran Fiqih untuk madrasah ibtidaiyah (MI) maka dapat ditemukan sedikitnya empat persoalan utama, yakni: pertama; ruang lingkup kajian atau pembatasan kajian fiqih MI; kedua, kedalaman materi fiqih MI; ketiga, sebaran mata pelajaran fiqih MI; dan keempat, yakni strategi implementasi SK-KD mata pelajaran fiqih MI dalam konteks pembelajaran.

  1. C.     Ruang Lingkup Kajian Fiqih MI

Dalam buku Pengantar Ilmu Fiqih, Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy menerangkan bahwa secara garis besar tema pembahasan fiqih meliputi tiga hal, yakni ibadat, mu’amalah, dan ‘uqubat.6 Sementara itu, kalau dicermati SK dan KD fiqih MI hanya mencakup dua fokus perhatian, yakni ruang lingkup fiqih ibadah dan fiqih muamalah. Fiqih ibadah yakni permasalahan fiqih yang mencakup pengenalan dan pemahaman tentang cara pelaksanaan rukun Islam yang benar dan baik, seperti tata cara bersuci, wudhu dan tata caranya, shalat, puasa, zakat, dan ibadah haji. Fiqih muamalah yakni permasalahan fiqih yang menyangkut pengenalan dan pemahaman ketentuan tentang makanan dan minuman yang halal dan haram, khitan, qurban, serta tata cara pelaksanaan jual beli dan pinjam-meminjam. Jadi, ruang lingkup kajian fiqih di MI adalah baru mencakup dua dari tiga pokok pembahasan dalam materi kajian keilmuan fiqih.

  1. D.    Kedalaman Materi Fiqih MI

Berdasarkan 22 Standar Kompetensi (SK) dan 50 Kompetensi Dasar (KD) di dalam Standar Isi di atas dapat dianalisis bahwa dari SK sejumlah itu secara kuantitatif dapat dilihat bahwa mayoritas, 82 % diantaranya, adalah tergolong fiqih “praktis”. Maksudnya adalah materi fiqih yang diajarkan memprioritaskan fiqih yang dekat terhadap pengalaman nyata siswa dan siap diamalkan dalam keseharian (direct learning) mereka.

Namun, pembahasan tentang ibadah, semisal shalat, seharusnya tidak hanya terbatas pada syarat, rukun, sunnah, dan batalnya saja melainkan juga menyinggung adab dan hikmah yg relevan agar siswa mampu mengenali bahkan mengapresiasi dimensi akhlak (pembinaan moral) & makna fungsional (manfaat) dari ibadah.

Kemudian, materi fiqih juga tidak hanya mencakup hal-hal yang “primer”, melainkan seharusnya mencakup juga hal-hal “sekunder” semisal shalat sunnah dan puasa sunnah. Namun ada hal primer dalam lingkup rukhshah yg belum tercakup seperti tayammum, padahal shalat bagi orang yg sakit (yg masuk kedalam lingkup rukhshah) sudah tercakup dalam pembahasan tersebut.

Sementara itu, dalam perspektif psikologis, jika melihat substansi standar kompetensi dan kompetensi dasar dari SK dan KD untuk kelas III semester 2 dan kelas V semester 2, bisa diamati bahwa substansi materinya nampak tidak tepat untuk anak seusia mereka. Seperti materi puasa yang diberikan kepada anak kelas III semester 2. Dalam standar kompetensi disebutkan yakni: “Mengenal Puasa”, kemudian kompetensi dasarnya adalah pertama, “Menjelaskan ketentuan puasa Ramadhan”, dan kedua, “Menyebutkan hikmah puasa Ramadhan”. Kemudian, SK dan KD kelas V semester 2 juga, yakni “Mengenal tatacara ibadah haji”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan tata cara ibadah haji”, dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara ibadah haji”.

Ketidaktepatan pemberian materi puasa untuk kelas III semester 2 didasari karena adanya kontradiksi antara materi itu dengan realitas karakter perkembangan anak kelas III MI yang rata-rata baru berusia 9 tahun. Perlu diketahui bahwa untuk usia tersebut, karakter perkembangan agama mereka masih bersifat imitative .7 Anak juga baru mampu memahami sebatas dari apa yang bisa dilakukannya. Sebagaimana dikemukakan oleh F.J. Monks, dkk., bahwa anak belum memiliki orientasi mengenai pemisahan subjek-objek, perasaan dan pandangan masih berpusat pada diri sendiri.8 Sehingga ketika puasa pada usia itu belum menjadi kwajiban bagi diri mereka maka sebaiknya puasa akan lebih tepat diberikan pada kelas-kelas yang lebih tinggi, di mana anak sudah akil balig, seperti kelas V atau kelas VI. Pada tingkatan anak bisa merasakan berkwajiban puasa.

Kemudian dalam SK dan KD fiqih MI kelas V semester 2 disebutkan bahwa standar kompetensi kedua, yakni: “Mengenal tatacara ibadah haji”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan tata cara ibadah haji”, dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara ibadah haji”. Kompetensi dasar di atas, nampak adanya overlapping yang hampir mirip dengan argumen untuk kritik terhadap materi yang kelas II semester 2 di atas. Pada substansi materi fiqih kelas V semester 2 ini justru nampak sekali bahwa ada upaya untuk menanamkan kognitif dan motorik semata tanpa ada perhatian pembentukan sikap pada sisi afektif. Hal ini dikarenakan, materi Haji ialah ibadah yang sebenarnya dilakukan bagi mereka yang sudah mampu. Dalam konteks di sini anak dibawa memahami suatu materi yang jauh dari konteks konkrit ibadah sebenarnya. Proses direct learning tidak terjadi pada hal ini. F.J. Monks, dkk., mengungkapkan bahwa anak dalam stadium kognitif operasional konkrit (mulai 11 tahun) dapat berpikir operasional dengan catatan bahwa materi berpikirnya ada secara konkrit.9 Dengan demikian, fiqih MI sebaiknya menyajikan materi-materi yang secara realitas itu konkrit dapat dirasakan secara inderawi dan dapat dialami oleh peserta didik. Mel Silberman bahkan mengatakan kalau belajar yang sesungguhnya tiadak akan terjadi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi , membuat pertanyaan, mempraktikkan bahkan mengajarkan pada orang lain.10 Sehingga kunci keberhasilan pembelajaran fiqih MI juga sangat ditentutakan oleh materi yang dipilihnya.

Sedangkan standar kompetensi untuk fiqih MI kelas III semester 2 yang nomor dua yakni “Mengenal amalan-amalan di bulan Ramadhan”. Substansi materi pada standar kompetensi maupun di kompetensi dasar sebagai penjabarannya tersebut, sudah bisa dinilai tepat untuk usia anak kelas III. Kemudian juga untuk fiqih MI kelas V smester 2 standar kompentensi pertama, yakni, “Mengenal ketentuan ibadah Qurban”, dengan kompetensi dasarnya, yakni: pertama, “Menjelaskan ketentuan Qurban,” dan kedua, “Mendemonstrasikan tata cara Qurban”. Opini ini didasarkan pada sebuah argumen bahwa amalan-amalan bulan Ramadhan, begitu pula perayaan Qurban, pada dasarnya merupakan amalan umum, semua anak pasti dan pernah mengikutinya, baik karena ajakan orang tua, tetangga, saudara, atau niat pribadi. Sebuah amalan yang sepertinya pada masa kekinian telah menjadi seperti tradisi. Maka materi ini tepat bagi anak MI kelas V berkaitan juga dengan salah satu sifat yang penting dari perkembangan berpikir operasional konkrit, yakni sifat deduktif-hipotetis. F.J. Monks menjelaskannya; “Suatu kecenderungan anak yang berpikir operasional konkrit jika harus menyelesaikan suatu masalah maka ia langsung memasuki wilayahnya. Anak mencoba beberapa penyelesaian secara konkrit dan hanya melihat akibat langsung usah-usahanya untuk menyelesaikan masalah itu.”.11 Jadi meng-exsplore pengetahuan anak dengan menstimuli melalui materi yang relevan dengan konteks realitas yang ada pada dasarnya akan mengefektifkan proses pembelajaran fiqih itu sendiri.

Sementara beberapa contoh dari kompetensi dasar di atas, yakni seperti, “(12.1) Menjelaskan ketentuan puasa, (12.2) Menyebutkan hikmah puasa, (13.1) Menjelaskan ketentuan shalat tarawih dan witir, (13.2) Melaksanakan tadarus, (18.1) Menjelaskan ketentuan Qurban, (18.2) Mendemonstrasikan tata cara Qurban, (19.1) Menjelaskan tatacara haji, (19.2) Mendemonstrasikan tatacara haji.” Penyusunan urutan kompetensi dasar per standar kompetensi dasar di atas yang dimulai dari penjelasan secara verbal, kemudian baru ranah praktisnya adalah selaras dengan karakter dasar dari perkembangan agama anak yang masih bersifat, verbalized and ritualistic.12 Suatu karakter keagamaan yang ditunjukkan pada anak yang mula-mula tumbuh secara verbal atau ucapan. Kemudian, anak menghafal bacaan-bacaan tersebut, kemudian melakukannya dan membiasakannya. Jadi, dari segi sequence tujuan pembelajarannya, SK dan KD fiqih MI dalam sampel di atas adalah relevan dan tepat.

  1. E.     Sebaran SK dan KD Fiqih MI

Sebaran kompetensi mata pelajaran fiqih nampak belum begitu sekuensial, misalnya untuk kompetensi kelas IV semester 2 (antara zakat fitrah dan sadaqah/infaq bisa disatukan), kompetensi memahami makanan-minuman dan daging hewan yang halal dan haram untuk kelas V semester 1, khitan dan mandi wajib untuk kelas V semester 2, sedangkan kelas VI bisa difokuskan pada mu’amalah.

Kompetensi mata pelajaran fiqih nampak hanya berkaitan dengan ranah kognisi dan psikomotor, sedang ranah afeksi masih kurang tersentuh. Jika dalam mata pelajaran akidah-akhlak terdapat kompetensi semisal: “menghayati, terbiasa/membiasakan, mencintai” yg termasuk ranah afeksi, maka sangatlah mungkin dalam mata pelajaran fiqih dimasukkan kompetensi afektif.

  1. F.      Pengembangan SK dan KD Fiqih MI

Pengembangan SK dan KD fiqih MI adalah merupakan kwajiban bagi para pengelola madrasah ibtidaiyah, khususnya para guru di MI. Karena, guru-lah pihak yang paling berperan dalam proses pembelajaran di kelas. Maka berhasil dan tidaknya suatu proses pembelajaran fiqih memang lebih dominant tergantung dari kompetensi dan profesionalisme guru dalam mengembangkan SK dan KD fiqih MI yang telah disusun oleh Pemerintah. Harapan ini juga merupakan kelonggaran yang diberikan Pemerintah dalam memberikan kesempatan kepada Satuan Pendidikan untuk mengembangkan pendidikan semaksimal mungkin sesuai dengan karakter dan ciri khas masing-masing.

Upaya pengembangan SK dan KD Fiqih MI pada dasarnya juga harus melihat substansi dari mata pelajaran fiqih itu sendiri. Sebagaimana telah disebutkan di muka, pokok pembahasan fiqih MI adalah meliputi dua hal yakni fiqih ibadah dan fiqih mu’amalah. Materi fiqih memiliki karakter pelajaran yang mengandung tiga ranah tujuan pembelajaran yakni; kognitif, afektif, dan psiko-motorik.

Kawasan kognitif yakni kawasan yang membahas tujuan pembelajaran berkenaan dengan proses mental yang berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang lebih tinggi yakni evaluasi. Kawasan afektif yakni satu domain yang berkaitan dengfan sikap, nilai-nilai interes, apresiasi (penghargaan) dan penyesuaian perasaan social. Dan kawasan psikomotorik, yakni; domain yang mencakup tujuan yang berkaitan dengan ketrampilan (skill) yang bersifat manual atau motorik.

Dalam pengembangan SK dan KD fiqih MI, ada beberapa persoalan penting yang perlu dikembangkan, yakni materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran, dan evaluasi pembelajarannya. Pertama, materi fiqih yang relevan untuk dikembangkan bagi level madrasah ibtidaiyah, yakni seharusnya berkaitan dengan level-level dasar-dasar dari pembahasan fiqih, baik yang ibadah maupun muamalah. Adapun persoalan puasa, shalat, tadarus, Qurban, dan haji adalah termasuk dalam kajian ibadah. Sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddiqie, sekumpulan hokum-hukum yang dinamai ibadah yakni thaharah, shalat, janazah, shiyam, zakat, zakat fitrah, hajji, jihad, nadzar, qurban, dzabihah, shaid, aqiqah, dan makanan serta minuman.1

Materi-materi fiqih MI pada dasarnya adalah merupakan pesan yang ingin disampaikan kepada peserta didik yang masih level anak-anak. Pesan menurut Dr. Hamzah B. Uno, M. Pd, merupakan informasi yang akan disampaikan oleh komponen lain; dapat berupa ide, fakta, makna, dan data.15 Unsur-unsur pesan meliputi, origin, mode, phisycal character, organization, dan novelty. Namun dalam program pendidikan yang bersifat pembelajaran (instruktional) tidak semua unsure dapat digunakan, dan apabila akan memasukkan unsure-unsur tersebut kemasannya harus indah untuk didengar dan tidak vulgar.

Materi sebaiknya dipilih yang konkrit dan bisa menimbulkan direct learning pada peserta didik. Karena anak-anak madrasah ibtidaiyah masih dalam level operasional konkrit. Maka penjelasan-penjelasan mengenai puasa, amalan bulan Ramadhan, qurban, dan haji, semaksimal mungkin ditampilkan secara riil dihadapan peserta didik. Di era kemajuan dan perkembangan iptek yang begitu pesat, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit.

Kedua, yakni pengembangan SK dan KD materi fiqih MI pada wilayah kegiatan pembelajarannya. Strategi pembelajaran fiqih untuk anak madrasah ibtidaiyah harus memperhatikan berbagai faktor yang terkait, terutaman materi dan karakteristik perkembangan peserta didik. Di mana desain pembelajaran juga merupakan faktor lain yang penting di dalamnya. Desain pembelajaran merupakan tata cara yang dipakai untuk melaksanakan proses pembelajaran. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam desain pembelajaran meliputi siswa, tujuan, metode dan evaluasi.

Penerapan Paikem (Pembelajaran Aktif, Islam, Kreatif, Entertaint, dan Menarik) dalam pembelajaran fiqih di MI. Misal, mengajak atau menugasi siswa ke pusat perbelanjaan atau pasar untuk mengenali atau mengidentifikasi secara “induktif” realitas jual-beli yang ada: tata caranya, jenis yang halal dan haram, sehingga tidak sekedar based on text. Ini sangat sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi siswa yg memang berada dalam tingkat operasional konkret.

Metode pembelajaran fiqih untuk anak madrasah ibtidaiyah ditentukan berdasarkan karakteristik pertumbuhan fisik dan perkembangan kejiwaan anak MI serta perkembangan karakteristik keberagamaannya. Ketika pendidik telah mampu memahami pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis anak, pendidik dapat berkreasi untuk menciptakan metode sesuai dengan kebutuhan, mitvasi dan kondisi anak.

  1. Bermain

Bermain merupakan metode alamiah yang memberikan suatu kepraktisan kepada anak dalam berbagai kegiatan yang akan menjadi kenyataan dalam kehidupan berikutnya. Melalui bermain anak belajar bagaimana menggunakan alat-alat, bagaimana cara melakukan suatu ritual haji, ritual qurban, dan sebagainya, serta bagaimana cara bekerjasama dengan anak lainnya. Bahkan, Johann Amos Comenius mengungkapkan pendapatnya mengenai permainan pada anak-anak yakni bahwa permainan dan hiburan akan menumbuhkan semangat bagi diri anak yang keikutsertaannya merupakan media untuk perkembangan akal, sopan-santun dan kebiasaan anak.

Tipologi permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran fiqih MI yakni seperti permainan fungsi atau gerak, permainan ilusi dan permainan menerima atau reseptif. Permainan fungsi atau gerak ini adalah permainan yang dilakukan dengan gerakan-gerakan seperti untuk ritual haji, sedangkan permainan ilusi adalah permainan yang berbuat seolah-olah sungguhan dalam fantasi anak seperti untuk haji dan puasa, dan permainan menerima yakni permainan yang bersifat menerima, bagi anak mereka hanya diam saja tanpa melakukan gerak. Contohnya yakni mendengarkan cerita.

  1. Bercerita

Daya fantasi pada diri anak bersumber dari keinginan akan keberanian akan kebebasan, juga merupakan kelanjutan anak dari keinginan dan kebutuhan. Daya fantasi anak luas, kuat, aktif dan tanpa batas. Dantasi seperti itu menjadi jalan atau ekspresi dalam permainan, dalam dongeng dan menggambar. Dasar pertimbangan untuk menggunakan metode bercerita dalam kegiatan pembelajaran fiqih di MI yakni anak memiliki sifat anthromorph, egocentris, imitative, wondering dalam perkembangan rasa agamanya.

  1. Pembiasaan

Metode pembiasaan ini mengindikasikan adanya keharusan meberikan arahan perilaku tertentu yang dipelajari oleh anak agar dapat berperilaku dengan tepat. Oleh karenanya, metode ini dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan kedisiplinan.

Pembiasaan dalam perilaku sehari-hari akan mempengaruhi sifat imitative anak, sehingga dapat berpengaruh bagi perkembangan moral dan kemampuan kognitif. Pembiasaan melalui kedisiplinan atau belajar di bawah bimbingan akan merangsang anak untuk berekreasi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitakn emosi yang menyenangkan dan dicegah untuk tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan, yaitu dengan cara mengendalikan lingkungan.

Ketiga, yakni pengembangan SK dan KD fiqih MI dalam konteks penggunaan media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan alat bantu untuk melaksanakan proses pembelajaran. Tujuan penggunaannya yakni untuk mempertinggi kualitas proses pembelajaran fiqih yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa. Berdasarkan criteria untuk menetapkan media yang tepat dalam proses pembelajaran , yang meliputi, ketepatannya dengan tujuan pengajaran, dukungan terhadap isi bahan pelajaran, kemudiahan memperoleh media, ketrampilan guru dalam penggunaannya, tersedianya waktu untuk menggunakannya, dan kesesuaian dengan taraf berpikir siswa, maka beberapa media yang dirasa tepat untuk pembelajarn fiqih MI dalam hal ini seperti materi puasa, amalan-amalan bulan Ramadhan, qurban, dan haji, yakni; poster, media audio-video, boneka, dan benda-benda nyata.


 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan materi di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut:

  1.       1.            Pada dasarnya isi SK dan KD materi fiqih di madrasah ibtidaiyah adalah seperti acuan yang telah ditetapkan oleh Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 dan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 namun telah di-review dan dikembanagkan oleh Departemen Agama. Namun secara substansial isinya tidak ada perbedaan.
  2.       2.            Beberapa bagian dari SK dan KD fiqih MI berdasarkan beberapa analisis menurut perspektif psikologis maupun pedagogis ada nuansa tidak pada tempatnya. Maksudnya adalah SK dan KD menganung materi yang bertentangan dengan realitas kebutuhan dan karakteristik perkembangan kejiawaan peserta didik.
  3.       3.            Pengembangan SK dan KD fiqih MI pada dasarnya dikembangkan kepada indicator pencapaian hasil belajar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, media pembelajaran sampai kepada evaluasi pembelajaran yang didasarkan kepada pertimbangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun psikis peserta didik di Madrasah IBtidaiyah yang masih taraf anak-anak.


 

DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 1, Terjemahan: Med. Meitasari Tjandrasa, Muslichah Zarkasih, Jakarta: Erlangga, 1978.

E. Mulyasa, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006.

F.J. Monks, dkk., Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1998.

., Psikologi Perkembangan, Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004, Cet. XV.

Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, cet. III.

Martinis Yamin, Desain Pembelajaran Berbasis Tinfkat Satuan Pendidikan, Jakarta: Gaung Persada Press, 2007.

Mel Silberman, Active Learning , diteremahkan : Sarjuli, dkk, Yogyakarta: Yappendis, 2005, cet. III.

Nana Sudjana dan Ahmad Rivai, Media Pengajaran, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005, cet. VI.

Rahmat, “Memanfaatkan Permainan Bagi Pendidikan Emosional:”, Jurnal Ilmu Pendidikan Islam Vol. 4. No. 2 , Yogyakarta: Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2003.

Siti Sa’idah, “Metode Pendidikan Bagi Pengembangan Rasa Agama Pada Anak Usia Awal”, Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. II. No. 2, Yogyakarta: Jurusan PAI, Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga, 2005.

Standar Isi Madrasah Ibtidaiyah, Jakarta: Direktorat Pendidikan Madrasah, Depag RI, 2006.

Standar Nasional Pendidikan, Bandung: Fokus Media, 2005.

http://andiprastowo.wordpress.com/2010/05/06/telaah-kritis-atas-sk-dan-kd-materi-fiqih-untuk-madrasah-ibtidaiyah%C2%A0mi/

http://www.scribd.com/doc/11144186/01-Agama-Islam-Sdmi

 

Iklan

MAKANAN HALAL DAN MAKANAN HARAM


MAKALAH
 
Disusun oleh:
KUSAERY MUSTOPA
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya di hadiahkan untuk Allah SWT . Karena berkat rahnmat dan hidayah-Nya , penulis dapat menyelesaikan Makalah “Makanan Halal dan Makanan Haram” ini dengan baik .Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan alam, yakninya Nabi besar Muhammad SAW, dengan mengucapkan “ Allahumma shali’ala Muhammad Wa’ala alihi Muhammad “, yang mana berakat ketekunan dan keuletan beliau yang telah membawa kita dari alam kebodohan sampai ke alam yang terang benderang seperti yang kita rasakan saat sekarang ini.
Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
Dra.Hj. LILIS HADALIAH, selaku Dosen
Penulis menyadari bahwasannya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis berharap adanya kritikan dan saran dari berbagai pihak, yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata,semoga makalah ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca.
Amin.

Suryalaya, November 2011

Penulis

 
DAFTAR ISI
 
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….     i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………    ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang…………………………………………………………………………….     1
BAB II KAJIAN PUSTAKA
Bangkai……………………………………………………………………………………….    12
Darah………………………………………………………………………………………….    15
Daging Babi………………………………………………………………………………….    15
Khamar……………………………………………………………………………………….    16
Hewan Buas yang Bertaring……………………………………………………………..    17
Burung yang Memiliki Cakar……………………………………………………………    18
Jallalah…………………………………………………………………………………………    18
Keledai Jinak (bukan yang liar)…………………………………………………………    20
Kuda…………………………………………………………………………………………..    21
Baghol…………………………………………………………………………………………    22
Gajah…………………………………………………………………………………………..    22
Musang………………………………………………………………………………………..    22
Hyena/kucing padang pasir………………………………………………………………    23
Kelinci…………………………………………………………………………………………    24
Kadal Padang Pasir………………………………………………………………………..    24
Landak………………………………………………………………………………………..    25
Ash-shurod, Kodok, Semut, Burung Hud-hud, dan Lebah…………………….    25
Kalajengking, Ular, Gagak, Tikus, Tokek, dan Cicak……………………………    26
Siput (halazun) Darat, Serangga Kecil, dan Kelelawar…………………………    27

BAB III SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan………………………………………………………………………………………    28
Saran…………………………………………………………………………………………..    29
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………    30
 
 

BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang

Termasuk di antara keluasan dan kemudahan dalam syari’at Islam, Allah swt. menghalalkan semua makanan (Tahdzibul Asma’ : 2/186) yang mengandung maslahat dan manfaat, baik yang kembalinya kepada ruh maupun jasad, baik kepada individu maupun masyarakat. Demikian pula sebaliknya Allah mengharamkan semua makanan yang memudhorotkan atau yang mudhorotnya lebih besar dari pada manfaatnya. Hal ini tidak lain untuk menjaga kesucian dan kebaikan hati, akal, ruh, dan jasad, yang mana baik atau buruknya keempat perkara ini sangat ditentukan setelah hidayah dari Allah dengan makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia yang kemudian akan berubah menjadi darah dan daging sebagai unsur penyusun hati dan jasadnya. Karenanya Nabi SAW. pernah bersabda:
أَيُّمَا لَحْمٍ نَبَتَ مِنَ الْحَرَامِ فَالنَّارُ أَوْلَى لَهُ
Artinya : “Daging mana saja yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih pantas untuknya”.

Oleh sebab itu, Makanan yang haram dalam Islam dibagi pada dua jenis:
Ada yang diharamkan karena dzatnya. Maksudnya asal dari makanan tersebut memang sudah haram, seperti: bangkai, darah, babi, anjing, khamar, dan selainnya.
Ada yang diharamkan karena suatu sebab yang tidak berhubungan dengan dzatnya. Maksudnya asal makanannya adalah halal, akan tetapi dia menjadi haram karena adanya sebab yang tidak berkaitan dengan makanan tersebut. Misalnya: makanan dari hasil mencuri, upah perzinahan, sesajen perdukunan, makanan yang disuguhkan dalam acara-acara yang bid’ah, dan lain sebagainya.
Satu hal yang sangat penting untuk diyakini oleh setiap muslim adalah bahwa apa-apa yang Allah telah halalkan berupa makanan, maka disitu ada kecukupan bagi mereka (manusia) untuk tidak mengkonsumsi makanan yang haram. (Muqaddimah Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat dan muqaddimah Al-Ath’imah karya Al-Fauzan)
Sebelum saya menyebutkan satu persatu makanan dan minuman yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah beserta hukumnya masing-masing, maka untuk lebih membantu memahami pembahasan, saya dahului dengan beberapa pendahuluan.
Asal dari semua makanan adalah boleh dan halal sampai ada dalil yang menyatakan haramnya. Allah swt. berfirman:
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا
Artinya : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al-Baqarah : 29)
Ayat ini menunjukkan bahwa segala sesuatu (termasuk makanan) yang ada di bumi adalah nikmat dari Allah, maka ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal dan boleh, karena Allah tidaklah memberikan nikmat kecuali yang halal dan baik. Dalam ayat yang lain:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”. (QS. Al-An’am: 119)
Maka semua makanan yang tidak ada pengharamannya dalam syari’at berarti adalah halal (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/135). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, “Hukum asal padanya (makanan) adalah halal bagi seorang muslim yang beramal sholeh, karena Allah swt. tidaklah menghalalkan yang baik-baik kecuali bagi siapa yang akan menggunakannya dalam ketaatan kepada-Nya, bukan dalam kemaksiatan kepada-Nya.

Hal ini berdasarkan firman Allah swt. :
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
Artinya : “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh”. (QS. Al-Ma`idah: 93)
Karenanya tidak boleh menolong dengan sesuatu yang mubah jika akan digunakan untuk maksiat, seperti memberikan daging dan roti kepada orang yang akan minum-minum khamar atau akan menggunakannya dalam kejelekan” (Al-Ikhtiyarot : 321).
Manhaj Islam dalam penghalalan dan pengharaman makanan adalah “Islam menghalalkan semua makanan yang halal, suci, baik, dan tidak mengandung mudhorot, demikian pula sebaliknya Islam mengharamkan semua makanan yang haram, najis atau ternajisi, khobits (jelek), dan yang mengandung mudhorot”.
Manhaj ini ditunjukkan dalam beberapa ayat, di antaranya:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا
Artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. (QS. Al-Baqarah: 168)
Dan Allah mensifatkan Nabi Muhammad dalam firman-Nya :
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
Artinya : “Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. (QS. Al-A’raf: 157)
Allah melarang melakukan apa saja -termasuk memakan makanan- yang bisa memudhorotkan diri, dalam firman-Nya :
وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
Artinya : “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan”. (QS. Al-Baqarah: 195)
Juga sabda Nabi SAW. :
لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
Artinya : “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain”.
Karenanya diharamkan mengkonsumsi semua makanan dan minuman yang bisa memudhorotkan diri -apalagi kalau sampai membunuh diri- baik dengan segera maupun dengan cara perlahan. Misalnya: racun, narkoba dengan semua jenis dan macamnya, rokok, dan yang sejenisnya.

Adapun makanan yang haram karena diperoleh dari cara yang haram, maka Rasulullah SAW. telah bersabda :
إِنَّ دِمَائَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ
Artinya : “Sesungguhnya darah-darah kalian, harta-harta kalian, dan kehormatan-kehormatan kalian antara sesama kalian adalah haram”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Makna makanan yang najis adalah jelas, adapun makanan yang ternajisi, contohnya adalah mentega yang kejatuhan tikus. Hukumnya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Maimunah -radhiallahu ‘anha- bahwa Nabi SAW. ditanya tentang lemak yang kejatuhan tikus, maka beliau bersabda :
أُلْقُوْهَا, وَمَا حَوْلَهَا فَاطْرَحُوْهُ، وَكُلُوْا سَمَنَكُمْ
Artinya : “Buanglah tikusnya dan buang juga lemak yang berada di sekitarnya lalu makanlah lemak kalian”. (HR. Al-Bukhary)
Jadi jika yang kejatuhan najis adalah makanan padat, maka cara membersihkannya adalah dengan membuang najisnya dan makanan yang ada di sekitarnya, adapun sisanya boleh untuk dimakan. Akan tetapi jika yang kejatuhan najis adalah makanan yang berupa cairan, maka hukumnya dirinci; jika najis ini merubah salah satu dari tiga sifatnya (bau, rasa, dan warna) maka makanannya dihukumi najis sehingga tidak boleh dikonsumsi, demikian pula sebaliknya.
Makanan yang jelek (khobits) ada dua jenis ; yang jelek karena dzatnya (seperti : darah, bangkai, dan babi) dan yang jelek karena salah dalam memperolehnya (seperti : hasil riba dan perjudian), (Majmu’ Al-Fatawa : 20/334).
Adapun ukuran kapan suatu makanan dianggap thoyyib (baik) atau khobits (jelek), maka hal ini dikembalikan kepada syari’at. Maka apa-apa yang dihalalkan oleh syari’at maka dia adalah thoyyib dan apa-apa yang diharamkan oleh syari’at maka dia adalah khabits, ini adalah madzhab Malikiyah dan yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sebagaimana yang akan nampak dalam ucapan beliau.
Adapun jumhur ulama, mereka mengatakan bahwa yang menjadi ukuran dalam penentuannya adalah orang-orang Arab, karena kepada merekalah asalnya diturunkan Al-Qur`an sehingga mereka yang secara langsung diajak bicara oleh syari’at. (Hasyiyah Ibni ‘Abidin : 5/194, Al-Majmu’ : 9/25-26, dan Asy-Syarhul Kabir : 11/64).
Hanya saja ini (pendapat jumhur) adalah pendapat yang kurang kuat, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam menjelaskan makna firman Allah swt. :
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ
Artinya : “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik.”. (QS. Al-Maidah: 4)
Beliau berkata, “Seandainya makna “yang baik” di sini adalah apa yang dihalalkan, maka tentunya kalimat ini tidak ada faidahnya (dihalalkan bagi kalian yang halal). Maka dari sini diketahuilah bahwa thoyyib dan khobits adalah sifat yang berada pada sebuah benda, dan bukan yang diinginkan dengannya (thoyyib) sekedar kelezatan dalam memakannya. Karena terkadang seorang manusia menikmati (merasa lezat) dengan apa yang membahayakan dirinya yang berupa racun, atau menikmati apa yang dilarang oleh dokter (untuk kesembuhannya dari sebuah penyakit). Dan bukan pula yang diinginkan darinya (thoyyib) dengan merasa nikmatnya sebagian bangsa (misalnya bangsa Arab) terhadap suatu makanan, dan bukan pula dianggap thoyyib karena keberadaannya sebagai makanan yang biasa dimakan (dinikmati) oleh orang-orang Arab.
Hal itu karena, keberadaan suatu makanan biasa dimakan dan disenangi oleh sebagian bangsa atau sebaliknya mereka tidak menyukainya karena makanan itu tidak ada di negerinya, (semua ini) tidaklah mengharuskan Allah mengharamkan sebuah makanan kepada segenap kaum mu`minin dengan alasan mereka (sebagian bangsa) tidak terbiasa dengannya sebagaimana tidak mengharuskan Allah menghalalkan suatu makanan kepada segenap kaum mu`minin dengan alasan mereka (sebagian bangsa) terbiasa dengannya. Bagaimana tidak, padahal orang-orang Arab (dahulu) telah terbiasa (menyukai) dengan memakan darah, bangkai, dan selainnya padahal semuanya telah diharamkan oleh Allah swt.. Demikian halnya Quraisy, mereka memakan yang khobits yang telah Allah haramkan dan sebaliknya mereka tidak menyukai makanan-makanan yang Allah tidak mengharamkannya”.
Lalu beliau membawakan hadits yang menunjukkan Nabi tidak makan biawak, bukan karena dia haram akan tetapi karena beliau tidak biasa memakannya. “Maka dari sini jelaslah bahwa ketidaksukaan suku Quraisy dan selainnya (dari bangsa Arab) terhadap sebuah makanan tidaklah mengharuskan (baca: menunjukkan) pengharaman makanan tersebut atas segenap kaum mu`minin baik yang Arab maupun yang ajam (non-Arab). Dan juga sesungguhnya Nabi SAW. dan para sahabat beliau, tidak seorangpun di antara mereka yang mengharamkan makanan yang tidak disukai oleh orang Arab dan sebaliknya tidak pernah membolehkan apa yang (biasa) dimakan oleh orang Arab” (Majmu’ Al Fatawa : 17/178-180 dan al-Ikhtiyarot hal 321)
Makanan manusia secara umum ada dua jenis :
Selain hewan, terdiri dari tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, benda-benda (roti, kue dan sejenisnya), dan yang berupa cairan (air dengan semua bentuknya). Ibnu Hubairah -rahimahullah- dalam Al-Ifshoh (2/453) menukil kesepakatan ulama akan halalnya jenis ini kecuali yang mengandung mudhorot.
Hewan, yang terdiri dari hewan darat dan hewan air.
Hewan darat juga terbagi menjadi dua :
Jinak, yaitu semua hewan yang hidup di sekitar manusia dan diberi makan oleh manusia, seperti: hewan ternak
Liar, yaitu semua hewan yang tinggal jauh dari manusia dan tidak diberi makan oleh manusia, baik dia buas maupun tidak. Seperti: singa, kelinci, ayam hutan, dan sejenisnya.
Hukum hewan darat dengan kedua bentuknya adalah halal kecuali yang diharamkan oleh syari’at (Manhajus Salikin hal 52 ) yang rinciannya insya Allah akan datang satu persatu.
Hewan air juga terbagi menjadi dua :
Hewan yang hidup di air yang jika dia keluar darinya akan segera mati, contohnya adalah ikan dan yang sejenisnya.
Hewan yang hidup di dua alam, seperti buaya dan kepiting (Tafsir Al-Qurthuby 6/318 dan Al-Majmu’ 9/31-32)
Hukum hewan air bentuk yang pertama, (menurut pendapat yang paling kuat) adalah halal untuk dimakan secara mutlak.
Ini adalah pendapat Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyah, mereka berdalilkan dengan keumuman dalil dalam masalah ini, di antaranya adalah firman Allah swt. :
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ
Artinya : “Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu” (QS. Al-Ma`idah: 96)

Adapun bangkainya maka ada rincian dalam hukumnya :
Jika dia mati dengan sebab yang jelas, misalnya: terkena lemparan batu, disetrum, dipukul, atau karena air surut, maka hukumnya adalah halal berdasarkan kesepakatan para ulama. Lihat Al-Mughny ma’a Asy-Syarhul Kabir (11/195)
Jika dia mati tanpa sebab yang jelas, hanya tiba-tiba diketemukan mengapung di atas air, maka dalam hukumnya ada perselisihan. Yang kuat adalah pendapat jumhur dari kalangan Imam Empat kecuali Imam Malik, mereka menyatakan bahwa hukumnya tetap halal. Mereka berdalilkan dengan keumuman sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ, اَلْحِلُّ مَيْتَتُهُ
Artinya : “Dia (laut) adalah pensuci airnya dan halal bangkainya”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Imam Al-Bukhary). (At-Talkhish : 1/9)
Adapun bentuk yang kedua dari hewan air, yaitu hewan yang hidup di dua alam, maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat Asy-Syafi’iyah yang menyatakan bahwa seluruh hewan yang hidup di dua alam -baik yang masih hidup maupun yang sudah jadi bangkai- seluruhnya adalah halal kecuali kodok. Dikecualikan darinya kodok karena ada hadits yang mengharamkannya. (Al-Majmu’ : 9/32-33)


 
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.       Bangkai
Bangkai adalah semua hewan yang mati tanpa penyembelihan yang syar’iy dan juga bukan hasil perburuan.
Allah swt. dalam firman-Nya :
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ
Artinya : “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
Dan juga dalam firman-Nya:
وَلاَ تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
Artinya : “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan”. (QS. Al-An’am: 121)

Jenis-jenis bangkai berdasarkan ayat-ayat di atas adalah sebagai berikut:
Al-Munhaniqoh, yaitu hewan yang mati karena tercekik.
Al-Mauqudzah, yaitu hewan yang mati karena terkena pukulan keras.
Al-Mutaroddiyah, yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.
An-Nathihah, yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya.
Hewan yang mati karena dimangsa oleh binatang buas.
Semua hewan yang mati tanpa penyembelihan, misalnya disetrum.
Semua hewan yang disembelih dengan sengaja tidak membaca basmalah.
Semua hewan yang disembelih untuk selain Allah walaupun dengan membaca basmalah.
Semua bagian tubuh hewan yang terpotong/terpisah dari tubuhnya.
Hal ini berdasarkan hadits Abu Waqid secara marfu’:
مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ مَيْتَةٌ
Artinya : “Apa-apa yang terpotong dari hewan dalam keadaan dia (hewan itu) masih hidup, maka potongan itu adalah bangkai”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzy dan dishohihkan olehnya)
Diperkecualikan darinya 3 bangkai, ketiga bangkai ini halal dimakan :
Ikan, karena dia termasuk hewan air dan telah berlalu penjelasan bahwa semua hewan air adalah halal bangkainya kecuali kodok.

Belalang. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar secara marfu’:
أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ: فَالسَّمَكُ وَالْجَرَادُ, وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ
Artinya : “Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Adapun kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang. Dan adapun kedua darah itu adalah hati dan limfa”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Janin yang berada dalam perut hewan yang disembelih. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`iy, bahwa Nabi SAW. bersabda:
ذَكَاةُ الْجَنِيْنِ ذَكَاةُ أُمِّهِ
Artinya : “Penyembelihan untuk janin adalah penyembelihan induknya”.
Maksudnya jika hewan yang disembelih sedang hamil, maka janin yang ada dalam perutnya halal untuk dimakan tanpa harus disembelih ulang (Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat point pertama).
 


 
B.       Darah
Yakni darah yang mengalir dan terpancar. Hal ini dijelaskan dalam surah Al-An’am ayat 145 :                             ………أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا ………
Artinya : “Atau darah yang mengalir”.
Dikecualikan darinya hati dan limfa sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Ibnu ‘Umar yang baru berlalu. Juga dikecualikan darinya darah yang berada dalam urat-urat setelah penyembelihan.

C.       Daging Babi
Telah berlalu dalilnya dalam surah Al-Ma`idah ayat ketiga di atas. Yang diinginkan dengan daging babi adalah mencakup seluruh bagian-bagian tubuhnya termasuk lemaknya.



 
D.      Khamar
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”. (QS. Al-Ma`idah: 90
Dan dalam hadits riwayat Muslim dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma secara marfu’:
كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ
Artinya : “Semua yang memabukkan adalah haram, dan semua khamar adalah haram”.
Dikiaskan dengannya semua makanan dan minuman yang bisa menyebabkan hilangnya akal (mabuk), misalnya narkoba dengan seluruh jenis dan macamnya.


 
E.       Hewan Buas yang Bertaring
Sahabat Abu Tsa’labah Al-Khusyany -radhiallahu ‘anhu- berkata:
أَنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ
Artinya : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim darinya dengan lafazh, “Semua hewan buas yang bertaring maka memakannya adalah haram”.
Yang diinginkan di sini adalah semua hewan buas yang bertaring dan menggunakan taringnya untuk menghadapi dan memangsa manusia dan hewan lainnya. Al-Ifshoh (1 : 457) dan I’lamul Muwaqqi’in (2 : 117).
Jumhur ulama berpendapat haramnya berlandaskan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya (Asy-Syarhul Kabir : 11/66, Mughniyul Muhtaj : 4/300, dan Syarh Tanwiril Abshor ma’a Hasyiyati Ibnu ‘Abidin : 5/193).



 
F.        Burung yang Memiliki Cakar
Yang diinginkan dengannya adalah semua burung yang memiliki cakar yang kuat yang dia memangsa dengannya, seperti: elang dan rajawali. Jumhur ulama dari kalangan Imam Empat (kecuali Imam Malik) dan selainnya menyatakan pengharamannya berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas ra. :
نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ، وَكُلُّ ذِيْ مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
Artinya : “Beliau (Nabi) melarang untuk memakan semua hewan buas yang bertaring dan semua burung yang memiliki cakar”. (HR. Muslim), (Al-Majmu’ : 9/22, Al-Muqni’ : 3/526,527, dan Takmilah Fathil Qodir : 9/499)

G.      Jallalah
Dia adalah hewan pemakan feses (kotoran) manusia atau hewan lain, baik berupa onta, sapi, dan kambing, maupun yang berupa burung, seperti: garuda, angsa (yang memakan feses), ayam (pemakan feses), dan sebagian gagak. Nailul Author (8 : 128).
Hukumnya adalah haram. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad (dalam satu riwayat) dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Syafi’iyah, mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu ‘Umar ra. beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ وَأَلْبَانِهَا
Artinya : “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah dan dari meminum susunya”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`iy : 3787)
Beberapa masalah yang berkaitan dengan jallalah:
Tidak semua hewan yang memakan feses masuk dalam kategori jallalah yang diharamkan, akan tetapi yang diharamkan hanyalah hewan yang kebanyakan makanannya adalah feses dan jarang memakan selainnya. Dikecualikan juga semua hewan air pemakan feses, karena telah berlalu bahwa semua hewan air adalah halal dimakan. Lihat Hasyiyatul Al-Muqni’ (3/529).
Jika jallalah ini dibiarkan sementara waktu hingga isi perutnya bersih dari feses maka tidak apa-apa memakannya ketika itu. Hanya saja mereka berselisih pendapat mengenai berapa lamanya dia dibiarkan, dan yang benarnya dikembalikan kepada ukuran adat kebiasaan atau kepada sangkaan besar (Al-Majmu’ : 9/28, Al-Muqni’ : 3/527,529, Mughniyul Muhtaj : 4/304, dan Takmilah Fathil Qodir : 9/499-500)



 
H.      Keledai Jinak (bukan yang liar)
Ini merupakan madzhab Imam Empat kecuali Imam Malik dalam sebagian riwayat darinya. Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّ الله ورسوله يَنْهَيَاكُمْ عَنْ لُحُوْمِ ِالْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ
Artinya : “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian untuk memakan daging-daging keledai yang jinak, karena dia adalah najis”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Diperkecualikan darinya keledai liar, karena Jabir radhiallahu ‘anhu berkata:
أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرٍ اَلْخَيْلَ وَحُمُرَ الْوَحْشِ ، وَنَهَانَا النبي صلى الله عليه وسلم عَنِ الْحِمَارِ الْأَهْلِيْ
Artinya : “Saat (perang) Khaibar, kami memakan kuda dan keledai liar, dan Nabi SAW. melarang kami dari keledai jinak”. (HR. Muslim)
Inilah pendapat yang paling kuat, sampai-sampai Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan, “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama zaman ini tentang pengharamannya” (Al-Mughny beserta Asy-Syarhul Kabir : 11/65, Al-Bada`i’ : 5/37, Mughniyul Muhtaj : 4/299, Al-Muqni’ : 3/525, dan Al-Bidayah : 1/344).


 
I.         Kuda
Telah berlalu dalam hadits Jabir bahwasanya mereka memakan kuda saat perang Khaibar. Semakna dengannya ucapan Asma` bintu Abi Bakr ra. :
نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ رسول الله صلى الله عليه وسلم فَأَكَلْنَاهُ
Artinya : “Kami menyembelih kuda di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu kamipun memakannya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Maka ini adalah sunnah taqririyyah (persetujuan) dari Nabi SAW. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah, serta merupakan pendapat Muhammad ibnul Hasan dan Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah. Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ath-Thohawy sebagaimana dalam Fathul Bary : 9/650) dan Imam Ibnu Rusyd dalam Al-Bidayah : 1/3440, Mughniyul Muhtaj : 4/291-291, Al-Muqni’ beserta hasyiyahnya : 3/528, Al-Bada`i’ : 5/18, dan Asy-Syarhus Shoghir : 2/185).
 
J.        Baghol
Dia adalah hewan hasil peranakan antara kuda dan keledai. Jabir ra. berkata:
حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه وسلم – يَعْنِي يَوْمَ خَيْبَرٍٍ – لُحُوْمَ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ الْبِغَالِ
Artinya : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkan (yakni saat perang Khaibar) daging keledai jinak dan daging baghol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzy)
Dan ini (haram) adalah hukum untuk semua hewan hasil peranakan antara hewan yang halal dimakan dengan yang haram dimakan (Al-Majmu’ : 9/27, Ays-Syarhul Kabir : 11/75, dan Majmu’ Al-Fatawa : 35/208).

K.      Gajah
Madzhab jumhur ulama menyatakan bahwa dia termasuk ke dalam kategori hewan buas yang bertaring. Dan inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr, Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, dan Imam An-Nawawy rahimahumullah (Al-Luqothot point ke-14).

L.       Musang (tsa’lab)
Halal, karena walaupun bertaring hanya saja dia tidak mempertakuti dan memangsa manusia atau hewan lainnya dengan taringnya dan dia juga termasuk dari hewan yang baik (thoyyib). Ini merupakan madzhab Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad (Mughniyul Muhtaj : 4/299, Al-Muqni’ : 3/528, dan Asy-Syarhul Kabir : 11/67).
M.    Hyena/kucing padang pasir (Dhib’un)
Pendapat yang paling kuat di kalangan ulama (dan ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’iy dan Imam Ahmad) adalah halal dan bolehnya memakan daging hyena. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Abi ‘Ammar, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, “apakah hyena termasuk hewan buruan?”, beliau menjawab, “iya”. Saya bertanya lagi, “apakah boleh memakannya?”, beliau menjawab, “boleh”. Saya kembali bertanya, “apakah pembolehan ini telah diucapkan oleh Rasulullah?”, beliau menjawab, “iya”“. Diriwayatkan oleh Imam Lima dan dishohihkan oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan selainnya (Talkhishul Khabir : 4/152).
Pendapat ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (Al-Fath : 9/568) dan Imam Asy-Syaukany.
Adapun jika ada yang menyatakan bahwa hyena adalah termasuk hewan buas yang bertaring, maka kita jawab bahwa hadits Jabir di atas lebih khusus daripada hadits yang mengharamkan hewan buas yang bertaring sehingga hadits yang bersifat khusus lebih didahulukan. Atau dengan kata lain hyena diperkecualikan dari pengharaman hewan buas yang bertaring (Nailul Author : 8/127 dan I’lamul Muwaqqi’in : 2/117, Mughniyul Muhtaj : 4/299 dan Al-Muqni’ : 3/52).

N.      Kelinci
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari Anas bin Malik ra. :
أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ
Artinya : “Sesungguhnya beliau (Nabi) Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diberikan hadiah berupa potongan daging kelinci, maka beliaupun menerimanya”.
Imam Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny, “Kami tidak mengetahui ada seorangpun yang mengatakan haramnya (kelinci) kecuali sesuatu yang diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash” (Al-Luqothot point ke-16).
 
O.      Kadal padang pasir (dhobbun).
Pendapat yang paling kuat yang merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah bahwa dhabb adalah halal dimakan, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang biawak:
كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ
Artinya : “Makanlah dan berikanlah makan dengannya (dhabb) karena sesungguhnya dia adalah halal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)
Adapun keengganan Nabi untuk memakannya, hanyalah dikarenakan dhabb bukanlah makanan beliau, yakni beliau tidak biasa memakannya. Hal ini sebagaimana yang beliau khabarkan sendiri dalam sabdanya:
لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي
Artinya : “Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku”.
Ini yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy dalam Syarh Muslim : 13/97 dan Mughniyul Muhtaj : 4/299 dan Al-Muqni’ : 3/529).
 
P.        Landak
Syaikh Al-Fauzan menguatkan pendapat Asy-Syafi’iyyah akan boleh dan halalnya karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan haram dan khobitsnya (Al-Majmu’ : 9/10).

Q.      Ash-shurod, kodok, semut, burung hud-hud, dan lebah
Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ
Artinya : “Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut, dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).
Adapun larangan membunuh lebah, warid dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.
Dan semua hewan yang haram dibunuh maka memakannyapun haram. Karena tidak mungkin seeokor binatang bisa dimakan kecuali setelah dibunuh (Al-Luqothot point ke-19 s/d 23).

R.      Kalajengking, ular, gagak, tikus, tokek, dan cicak
Karena semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الْاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا
Artinya : “Ada lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak yang belang, tikus, anjing, dan rajawali (HR. Muslim)
Adapun tokek dan (wallahu a’lam) diikutkan juga kepadanya cicak, maka telah warid dari hadits Abu Hurairah riwayat Imam Muslim tentang anjuran membunuh wazag (tokek). (Bidayatul Mujtahid : 1/344 dan Tafsir Asy-Syinqithy : 1/273).

S.        Siput (halazun) darat, serangga kecil, dan kelelawar.
Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Tidak halal memakan siput darat, juga tidak halal memakan seseuatupun dari jenis serangga, seperti: tokek (masuk juga cicak), kumbang, semut, lebah, lalat, cacing, kutu, nyamuk dan yang sejenis dengan mereka, berdasarkan firman Allah -Ta’ala-, “Diharamkan untuk kalian bangkai”, dan firman Allah -Ta’ala-, “Kecuali yang kalian sembelih”. Dan telah jelas dalil yang menunjukkan bahwa penyembelihan pada hewan yang bisa dikuasai/dijinakkan, tidaklah teranggap secara syar’iy kecuali jika dilakukan pada tenggorokan atau dadanya. Maka semua hewan yang tidak ada cara untuk bisa menyembelihnya, maka tidak ada cara/jalan untuk memakannya, sehingga hukumnya adalah haram karena tidak bisa dimakan, kecuali bangkai yang tidak disembelih” (Al-Muhalla : 7/405, Al-Luqothot point ke-31 s/d 34).


 
BAB III
SIMPULAN DAN SARAN
A.        SIMPULAN
Bangkai, Jika tanpa penyembelihan (serta tidak menyebut asma Allah) maka hukumnya Haram. Jika hewan yang disembelih sedang hamil, maka janin yang ada dalam perutnya halal untuk dimakan tanpa harus disembelih ulang.
Darah, hukumnya Haram.
Daging Babi, hukumnya Haram.
Khamar, hukumnya Haram.
Hewan Buas yang Bertaring, hukumnya Haram.
Burung yang Memiliki Cakar, hukumnya Haram.
Jallalah, hukumnya Haram.
Keledai Jinak (bukan yang liar), hukumnya Haram.
Kuda, hukumnya Halal.
Baghol, hukumnya Haram.
Gajah, hukumnya Haram.
Musang, hukumnya Halal.
Hyena/kucing padang pasir, hukumnya Halal.
Kelinci, hukumnya Halal.
Kadal Padang Pasir, hukumnya Halal.
Landak, hukumnya Halal.
Ash-shurod, Kodok, Semut, Burung Hud-hud, dan Lebah, hukumnya Haram.
Kalajengking, Ular, Gagak, Tikus, Tokek, dan Cicak, hukumnya Haram.
Siput (halazun) Darat, Serangga Kecil, dan Kelelawar, hukumnya Haram.


 
B.       SARAN
Mengkonsumsi makanan yang halal adalah keharusan, karena memang demikian perintah syari’at agama. Allah berfirman :
يا أيها الذين ءامنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم
Artinya : “ Hai orang-orang yang beriman makanlah diantara rizki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu.” [QS.Al Baqarah : 172].
Adapun mengkonsumsi makanan yang haram disamping mendatangkan mudharat dari segi kesehatan, juga menimbulkan mudharat dari segi agama yaitu berupa ancaman siksa, karena hal itu adalah pelanggaran terhadap ketentuan agama islam. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa mengkonsumsi sesuatu yang haram bisa menghalangi terkabulnya do’a.


 
DAFATAR PUSTAKA
 
أحمد الهاسمى ,سيد. (١٤١٩ه). مختار الأحاديث النبوية. بيروت – لبنان : دارالكتاب الأسلأمي.
Al-Fauzan, Syaikh. (1408 H/1988 M). Al-Ath’imah wa Ahkamis Shoyd wadz Dzaba`ih. cet. I. Penerbit: Maktabah Al-Ma’arif Ar-Riyadh.
An-Nawawy, Imam. (1415 H/1995 M).  Al-Majmu’. Cet. Terakhir. Penerbit : Dar Ihya`ut Turots Al-Araby.
Al-Hamud An-Najdy, Muhammad bin Hamd. Al-Luqothot fima Yubahu wa Yuhramu minal Ath’imah wal Masyrubat.
Hatta, DR. Ahmad, MA. (2009). Tafsir Qur`an Perkata Dilengkapi dengan Asbabunuzul & Terjemah. Jakarta : Maghfirah Pustaka.
Rusyd Al-Maliky, Ibnu. (1408 H/1988 M). Bidayatul Mujtahid, cet. X. Penerbit: Darul Kutubil ‘Ilmiyah.
Dikutip dari http://salafy.or.id dinukil dari http://al-atsariyyah.com/?p=307 dan http://al-atsariyyah.com/wp-content/uploads/2008/10/makanan.dochttp://qurandansunnah.wordpress.com/2009/11/30/lengkap-mengetahui-makanan-haram-dan-halal/

PENGELOLAAN KELAS??? HARUS!!!

BAB I

PENDAHULUAN

 

Mengapa menciptakan kondisi belajar yang efektif itu penting?

Tentu saja itu penting!

Karena pada kenyataannya di sekolah-sekolah sekarang hanya gurunya saja  yang aktif, dan guru jarang kesempatan pada siswa untuk aktif. Jika siswa seperti it uterus-menerus begitu juga dengan gurunya maka tujuan belajar tidak akan tercapai dan tidak berhasil.

Berkaitan dengan masalah tersebut seorang guru harus bias menciptakan suatu pembelajaran yang suasananya menarik dan diminati oleh siswa. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar akan strategi mengajar atau bias juga seorang guru menciptakan suatu kondisi belajar mangajar yang efektif yang melibatkan keaktifkan siswa secara penuh, karena pembelajaran efektif ini salah satunya yaitu dengan melibatkan keterlibatan dan keaktifan siswa.

Dalam pembelajaran efektif ini peran guru sangat penting dan dibutuhkan dalam mengelola suatu pembelajaran agar tujuan belajar dapat tercapai dan berhasil sehingga pembelajaran yang berlagsung menjadi efektif dan menyenangkan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

KONDISI BELAJAR-MENGAJAR YANG MENYENANGKAN

 

  1. Apa yang dimaksud dengan kondisi belajar-mengajar yang efektif?

Pembelajaran efektif bagi seorang guru itu penting, karena guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakannya.

Kondisi pembelajaran yang efektif merupakan salah satu kondisi pembelajaran yang harus diciptakan oleh seorang guru, agar tujuan pembelajaran yang harus diciptakan oleh seorang guru, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berikut adalah 5 variabel dalam menciptakan kondisi belajar-mengajar efektif.

  1. Melibatkan siswa secara aktif

Menurut (William Burton, 1944 : 21) mengajar adalah “teaching is the guidance of learning activities teaching is for purpose of aiding the pupil learn.” Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Aktifitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga muridlah yang seharusnya banyak aktif. Tetapi pada kenyatannya, di sekolah-sekolah sering kali guru yang akif sehingga murid tidak diberi kesempatan untuk aktif.

Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal :

a)      Aktivitas visual (visual activities) : membaca, menulis, demonstrasi.

b)      Aktivitas lisan (oral activities) : bercerita, tanya jawab, menyanyi

c)      Aktivitas mendengarkan (listening activities) : mendengarkan penjelasan guru, ceramah.

d)      Aktivitas gerak (motor activities) : senam, menari dan melukis.

e)      Aktivitas menulis (writing activities) : membuat makalah, mengarang.

Salah satu upaya dalam menciptakan pembelajaran efektif, yaitu dengan sistem CBSA, yaitu belajar mengajar yang menyengkan keaktifan siswa secara fisik dan mental, intelektual dan emosional, untuk memperoleh belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, efektif, psikomotorik.

CBSA ini mengandung unsur keaktifan siswa, meskipun kadar keaktifannya berbeda-beda.

Menurut (T. Raka Joni, 1980) keaktifan dalam CBSA menunjuk pada keaktifan mental meskipun untuk mencapai maksud ini dalam banyak al dipersyaratkan ketertiban langsung dalam berbagai keaktifan fisik.

  1. Cara memperbaiki ketertiban kelas
  2. Cara meningkatkan keerlibatkan siswa :
    1. Kenalilah dan bantulah siswa yang kurang trlibat
    2. Siapkanlah siswa secara tepat.
    3. Sesuaikan pengajaran yang dibutuhkan dan individu siswa.
  1. Abadikanlah waktu yang lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan belajar mengajar.
  2. Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam belajar mengajar.
  3. Masa transisi antara berbagai kegiatan mengajar dilakukan secara tepa dan luwes.
  4. Berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat.
  5. Usahakanlah agar pengajaran dapat lebih menarik siswa.

Interpensi : jadi dalam hal ini, seorang guru harus melibatkan keaktifan siswa secara secara keseluruhan dan juga harus bisa mengetahui kadar keaktifan siswanya yang berbeda-beda.

Kebanyakan di sekolah-sekolah guru tidak atau jarang member kesempatan siswanya untuk aktif, karena guru terlalu asyik sehingga dengan materi pelajaran yang disampaikan.

  1. Menarik minat dan perhatian siswa

Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan tidak ada minat maka seseorang tidak akan melakukan sesuatu atau sebaliknya dengan adanya minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya.

Ada 2 tipe perhatian dalam belajar mengajar :

a)      Perhatian terpusat (terkonsentrasi)

Perhatian ini hanya tertuju pada satu objek saja. Contoh : misal seseorang anak sedang belajar, ia tidak memperhatikan adiknya yang sedang menangis perhatiannya hanya terpusat pada belajar.

Dalam pembelajaran di kelas, siswa hendaknya menggunakan perhatian terpusat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, guru menggunakan berbagai alat peraga dalam penyajian materi.

b)      Perhatian terbagi (tidak terkonsentrasi)

Perhatian ini tertuju pada berbagai hal dan objek secara sekaligus.

Contoh : seorang guru yang sedang mengahar memperhatikan bahan pelajarannya, memperatikan sikap murid, dan juga memperhatikan apa yang diucapkannya.

Interprestasi : Minat itu penting, jika dalam diri siswa tidak ada minat, maka dalam mengikuti pembelajaran siswa tersebut akan merasa tidak semangat, jenuh, bosan sehingga belajarnya tidak tercapai. Maka dari itu guru harus pintar-pintar menarik minat dan perhatian siswa dengan cara salah satunya dalam mengajar, guru bias menggunakan multimedia,  atau alat peraga, supaya materi yang disampaikan gampang dan selalu diingat siswa.

  1. Membangkitkan motivasi siswa

Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah membangkitkan moivasi anak sehingga ia mau belajar.motivasi dibedakan menjadi 2:

a)      Motivasi intrinsik : motivasi yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri.

b)      Motivasi ekstrinsik : motivasi yang timbul dari pengaruh faktor luar individu.

Cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dan menumbuhkan motivasi instrinsik :

–         Kompetisi (persaingan) guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

–         Pasce making (membuat tujuan sementara) pada awal pembelajaran, guru menyampaikan teknik dahulu materi dan tujuan yang akan dicapainya.

–         Tujuan yang jelas

–         Kesempurnaan untuk sukses

Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas dan kesenangan terhadap diri sendiri.

–         Minat yang besar

–         Mengadakan penilaian

Interprestasi : banyak cara untuk dapat membangkitkan motivasi siswa seperti memberi hadiah, memberi nilai, memberi pujian dan lian-lian. Dengan hal-hal yang seperti itu, mungkin siswa akan mau belajar dengan termotivasi, tetapi ada juga siswa yang mempunyai motivasi sendiri dari dalam dirinya, biasanya siswa yang seperti itu tujuan belajarnya agar mudah tercapai dan berhasil.

  1. Prinsip individualitas

Masalah perbedaan individual adalah salah satu masalah utama dalam pendekatan pembelajaran, mengingat adanya perbedaan tersebut, maka menganggap sama semua siswa ketika guru mengajar secara klasikal pada hakekatnya kurang sesuai dengan prinsip individualitas. Guru harus menyadari bahwa setiap individu siswa memiliki perbedaan maka hendaknya guru harus menyadari jika ada siswa yang cepat menerima pelajaran atau yang lambat menerima pelajaran.

Interprestasi : perbedaan antara individualis sering menjadi masalah dalam proses belajar-mengajar, karena antara siswa individu yang satu  dengan siswa yang lain sangat berbeda, terutama dalam hal menerima materi yang disampaikan guru, maka dengan hal ini guru harus bisa mengerti dan memahami apabila ada siswa yang kurang mengerti atau lambat menerima pelajaran. Dalam menghadapi siswa yang seperti itu, mungkin guru bisa menggunakan pendekataan dan perhatian secara khusus, agar siswa tersebut bisa paham dengan materi yang diajarkan.


  1. Penghargaan dalam pembelajaran

Alat peraga pengajaran (audiovisual aids) atau AVA yaitu alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran.

Manfaat atau nilai media pendidikan :

a)      Memperbesar perhatian siswa

b)      Membuat pelajaran lebih menetap/tidak mudah dilupakan

c)      Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu

d)      Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir

e)      Sangat menarik minat siswa untuk belajar

Menurut (William Burton, 1994 : 32) dalam memlilih alat peraga hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

–         Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa.

–         Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan.

–         Harus direncakan dengan teliti dan diperiksa terlebih dahulu.

–         Sesuai dengan batas kemampuan biaya.

Interprestasi : penggunaan alat peraga dalam pembelajaran memang bisa menarik minat siswa untuk belajar, mungkin dengan adanya alat peraga tersebut, materi yang disampaikan oleh guru bisa dipahami oleh siswa lebih jelas, sehingga siswa akan jadi paham dan mudah mengingatnya. Disamping itu seorang guru harus pandai-pandai untuk memilih alat peraga yang cocok dengan pengalaman siswanya sehingga akan digunakan

 

KESIMPULAN

Pembelajaran efektif itu penting, salah satunya dengan cara guru harus menciptakan suatu kondisi belajar mengajar yang efektif pula. Pembelajaran efektifas itu menekankan keaktifan dan keterlibatan siswa. Jadi, bukan saja hanya gurunya yang aktif, tapi siswanya juga harus aktif. Karena siswa sebagai subjek yang merencakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.

Selain melibatkan keaktifan siswa, guru juga harus bisa menarik minat siswa dan perhatikan siswa. Tanpa adanya minat siswa akan sulit untuk melakukan belajar di kelas, guru juga diharuskan untuk perhatian kepada siswa-siswa yang kurang mempunyai minat belajar.

Selain minat, motivasi juga penting dibutuhkan dalam belajar, terutama bagi siswa yang tidak mempunyai motivasi, maka disini tugas guru adalah membangkitkan dan memberikan motivasi pada anak tersebut agar ia mau melakukan belajar seperti memberikan hadiah, pujian dan lain-lain.

Perbedaan antara individu siswa juga menjadi masalah dalam belajar, karena kadar karakter siswa berbeda-beda diantaranya ada yang cepat menerima pelajaran dan ada juga yang lambat menerima pelajaran, maka guru diharuskan untuk memberikan perhatian yang khusus untuk siswa tersebut.

Biasanya untuk menarik minat alat peraga dalam belajar, guru bisa menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, agar materi yang disampaikan bisa mudah diingat dan tidak mudah dilupakan (mudah menetap). Selain itu pasti siswa akan lebih tertartik untuk mengikuti belajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Uzer, Usman. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Crow, L dam A. Crow. 1989. Psychology Pendidikan. Yogyakarta : Nur-Cahaya.

Hakim, Thursan. 2004. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara/

 

EVALUASI PEMBELAJARAN

EVALUASI PEMBELAJARAN
OLEH : KUSAERY MUSTOPA
Pengukuran adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar.
Penilaian adalah suatu proses pemberian nilai yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Evaluasi yaitu merupakan proses pembuatan suatu keputusan atau penilaian.

Mengevaluasi hasil pembelajaran siswa merupakan sesuatu hal yang tidak boleh di tinggalkan, karena salah satu kegiatan yang merupakan kewajiban bagi setiap guru/pengajar. Dikatakan kewajiban, karena setiap pengajar pada akhirnya harus dapat memberikan informasi kepada lembaganya ataupun kepada siswa itu sendiri, bagaimana dan sampai di mana penguasaan dan kemampuan yang telah dicapai siswa tentang materi dan keterampilan-keterampilan inengenai mata ajaran yang telah diberikannya.

Kelemahan dalam penilaian pembelajaran
Perlu ditekankan di sini, bahwa evaluasi pencapaian belajar siswa tidak hanya menyangkut aspek-aspek kognitifnya saja, tetapi juga mengenai aplikasi atau performance, aspek efektif yang menyangkut sikap serta internalisasi nilai-nilai yang perlu ditanamkan dan dibina melalui mata ajaran atau mata kuliah yang telah diberikannya. Tentu saja untuk melaksanakan ini secara. konsekuen bukanlah suatu hal yang mudah. Masih banyak kepincangan yang terjadi di dalam dunia pendidikan kita, baik di lembaga pendidikan dasar dan menengah maupun di lembaga pendidikan tinggi.
Pada masa-masa yang lalu, dan bahkan hingga kini, masih banyak terdapat kekeliruan pendapat tentang fungsi penilaian pencapaian belajar siswa. Banyak lembaga pendidikan ataupun pengajar secara sadar atau tidak sadar menganggap fungsi penilaian itu semata-mata sebagai mekanisme untuk menyeleksi siswa dalam kenaikan kelas atau kenaikan tingkat, dan sebagai alat penyeleksian kelulusan pada akhir tingkat program tertentu.
Sedangkan fungsi penilaian yang kita hendaki di samping sebagai alat seleksi dan mengklasifikasi, juga sebagai sarana untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa secara maksimal.
Dengan kata lain, penilaian pencapaian belajar siswa tidak hanya merupakan suatu proses untuk mengklasifikasikan keberhasilan dan kegagalan dalarn belajar (penilaian sumatif), tetapi juga dan ini sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengajaran (penilaian formatif).
Ada dua pandangan yang sangat merugikan efektivitas dan kemurnian fungsi penilaian seperti dimaksud di atas:
Anggapan bahwa untuk melaksanakan penilaian itu tidak perlu adanya persiapan dan latihan yang eksplisit, sehingga siapa saja dapat melakukannya;
Anggapan penilaian pencapaian belajar siswa merupakan kegiatan yang lepas, atau setidak-tidaknya merupakan kegiatan “penutup” dari proses kegiatan belajarmengajar.
Dari sekian banyaknya kelemahan dalam penilaian pembelajaran, seorang guru harus mampu mengatasi atau meminimalisasi kelemahan tersebut, ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar, agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, atau mengukur kemampuan dan atau keterampilan siswa yang diharapkan setelah siswa menyelesaikan suatu unit pengaiaran tertentu.
ü  Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belaiar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. Jika tujuan tidak jelas, maka penilaian terhadap hasil belajar pun akan tidak terarah sehingga akhirnya hasil penilaian tidak mencerminkan isi pengetahuan atau keterampilan siswa yang sebenarnya. Dengan kata lain, hasil penilaian menjadi tidak valid, yaitu tidak mengukur apa yang sebenarnya harus diukur. Oleh karena itu, untuk dapat menyusun tes yang baik, setiap guru harus dapat merumuskan tujuan dengan jelas, terutama tujuan instruksional khusus (TIK), sehingga memudahkan baginya untuk menyusun soal-soal tes yang relevan untuk mengukur pencapaian tujuan yang telah dirumuskannya.
ü  Mengukur sampel yang representatif dari hasil beldiar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan. Kita telah mengetahui bahwa bahan pelajaran yang telah diajarkan dalam jangka waktu tertentu baik dalam satu jam perternuan ataupun. beberapa jam perternuan tidak mungkin dapat kita ukur atau kita nilai keseluruhannya. Atau dengan kata lain, tidak mungkin hasil-hasil belajar yang diperoleh siswa dalam jangka waktu tertentu dapat kita ungkapkan seluruhnya. Oleh karena itu, dalam rangka mengevaluasi hasil belajar siswa, kita hanya dapat mengambil beberapa sampel hasil belajar yang dianggap penting dan dapat “mewakili” seluruh performance yang telah diperoleh selama siswa mengikuti suatu unit peilgajaran. Dengan demikian, tes yang kita susun haruslah mencakup soal-soal yang dianggap dapat mewakili seluruh performance hasil belajar siswa, sesuai dengan tujuan instruksional yang telah dirumuskan. Makin banyak bahan yang telah diajarkan, makin sulit bagi guru untuk menentukan dan memilih soalsoal tes yang benar-benar representatif. Oleh karena itu pula maka dianjurkan agar penilaian dilakukan secara kontinyu, sedapat mungkin setiap akhir pelajaran atau setiap selesai suatu unit bahan pelajaran tertentu. Di samping itu, untuk dapat menyusun soal-soal tes yang benar-benar merupakan sampel yang representatif dalarn mengukur hasil belajar siswa, guru hendaknya menyusun terlebih dahulu tabel specifikasi (blue-print atau kisi-kisi), yang mernuat perincian Iopik atau sub-topik dari bahan pelaJaran yang telah diajarkan dan penentuan jumlah serta jenis soal yang disesuaikan dengan tujuan khusus dari setiap topik yang bersangkutan.
ü  Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belaiar yang diinginkan sesuai dengan tujuan. Kita telah mempelajari, bahwa tujuan pengajaran itu bermacam-macam menurut jenis, dan tingkat kesukarannya. Hasil belaJar dari tiap-tiap topik bahan pelajaran tidak selalu sama. Dari Bloom kita mengenal adanya hasil belajar yang berupa pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotor); dan ketiga jenis hasil belaJar itu masih dapat diperinci lagi menjadi bermacam-macam kemampuan yang perlu dikembangkan di dalarn setiap pengajaran. (Pelajari kembali Taxonomy of Educational Objectives dari Bloom).Untuk dapat mengukur bermacam-macam performance hasil belajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang diharapkan, diperlukan kecakapan menyusun berbagai macarn bentuk soal dan alat evaluasi. Untuk mengukur hasil belajar yang berupa keterampilan misalnya, tidak tepat kalau hanya menggunakan soal yang berbentuk tes essay yang jawabannya hanya menguraikan, dan bukan melakukan atau mempraktekkan sesuatu. Demikian pula untuk mengukur kemampuan menganalisa suatu prinsip, tidak cocok jika digunakan bentuk soal obyektif yang hanya menuntut jawaban dengan mengingat atau recall. Setiap jenis alat evaluasi dan setiap macam bentuk soal hanya cocok untuk mengukur suatu jenis kemampuan tertentu. Oleh karena itu, penyusunan suatu tes harus disesuaikan dengan jenis kemampuan hasil belajar yang hendak diukur dengan tes tersebut.
ü  Didisain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Masing-masing jenis tes tersebut memiliki karakteristik tertentu, baik bentuk soal, tingkat kesukaran, maupun cara pengolahan dan pendekatannya. Oleh karena itu, penyusun an dan penyelenggaraan tes harus disesuaikan dengan tujuan dan fungsinya sebagai alat evaluasi yang diinginkan.
ü  Dibuat se-reliable mungkin sehingga mudah diinterpretasikan dengan baik. Suatu alat evaluasi dikatakan reliable (dapat diandalkan) jika alat tersebut dapat menghasilkan suatu gambaran (hasil pengukuran) yang benar-benar dapat dipercaya. Suatu tes dapat dikatakan reliable (memiliki reliabilitas yang tinggi), jika tes itu dilakukan berulang-ulang terhadap obyek yang sama, hasilnya akan tetap sama atau relatif sama. Perlu dikernukakan di sini, bahwa suatu tes yang reliable belum tentu valid; akan tetapi jika tes itu valid, sudah tentu juga reliable.
ü  Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru. Pada prinsip nomor 4 tersebut di atas telahh diuraikan bahwa salah satu jenis tes adalah tes formatif yaftu tes yang berfungsi untuk mencari umpan balik atau feedback yang berguna dalam ucapan memperbaiki cara mengajar yang dilakukan oleh guru dan cara belajar siswa. Hal ini dijadikan suatu prinsip dalam penyusunan tes hasil belajar, mengingat bahwa hingga kini masih banyak para guru yang memandang tes hasil belajar itu hanya sebagai alat evaluasi tahap akhir saja dari suatu proses belaJar yang dialami siswa selama jangka waktu tertentu, sehingga fungsi formatif dari tes hasil belajar selalu diabaikan. Dengan demikian, sesuai dengan prinsip ini, maka penyusunan dan penyelenggaraan tes hasil belajar yang dilakukan guru, di samping untuk mengukur sampai di.mana keberhasilan siswa dalam belajar (evaluasi sumatif), sebaiknya dipergunakan pula untuk mencari informasi yang berguna untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru itu sendiri (evaluasi formatif).

Jenis penilaian hasil belajar berdasarkan:

  1. a.      Fungsinya

1)      Penilaian selektif
2)      Penilaian sebagai penempatan
3)      Penilaian sebagai pengukur keberhasilan
b.      Teknik Penilaian
1)      Teknik tes
2)      Teknik non-tes
c.       Aspek Psikis yang Diungkap
1)      Tes intelegensi/intellegensy test
2)      Tes kemampuan/aptitude test
3)      Tes sikap/attitude test
4)      Tes hasil belajar/achievment test
5)      Tes kepribadian/personality test
Peta Konsep Jenis Penilaian

Perbedaan pendapat tentang pelaksanaan UN dikarenakan anggapan dari sebagian orang, terutama para pejabat Legislatif yang menganggap bahwa UAN bertentangan dengan UU Sisdiknas. Jika hal ini benar, berarti UAN harus dihapuskan atau ditiadakan. Tapi jika hal ini salah, maka UU Sisdiknas harus direvisi isinya. Dalam hal ini haruslah dilihat secara bijak, apakah memang terjadi pertentangan antara dua kebijakan tersebut. Dan kalau memang terjadi pertentangan, kebijakan mana yang lebih sesuai, pertama. Kedua, peningkatan prosentase kelulusan secara nasional ( 80,76% di tahun 2005 menjadi 92,5 % ditahun 2006 ) ternyata juga diiringi penurunan dibeberapa daerah, seperti Jogja dan Malang – misalnya. Apakah ini berarti terjadi kemrosotan mutu di daerah-daerah tersebut, atau materi UAN tidak sesuai dengan apa yang diperoleh siswa disana ? Ketiga adalah adanya peningkatan sekolah dengan kelulusan 0%. Misalnya saja di Jakarta pada tahun sebelumnya hanya 3 sekolah, tahun ini menjadi 7 sekolah ( 6 SMA dan 1 SMK ) dengan tingkat kelulusan 0%. Di Bali ada 3 sekolah dengan kelulusan 0% dan sebagainya. Apakah hal ini terjadi karena kesalahan sistem di sekolah-sekolah tersebut, atau karena kebijakan yang ada merugikan sekolah-sekolah tersebut. Keempat, Permasalahan lain adalah adanya ketimpangan jumlah kelulusan antar sekolah-sekolah dalam suatu daerah. Dimana ada sekolah-sekolah tertentu dengan tingkat kelulusan yang tinggi, sementara sekolah-sekolah disekitarnya memiliki tingkat kelulusan yang sangat rendah. Padahal fasilitas dan sarana yang dimiliki oleh sekolah-sekolah tersebut kurang lebih sama.
BERITA PRO UJIAN NASIONAL
Mendiknas menerbitkan peraturan  No.74 dan 75 tentang Panduan UN Tahun Pelajaran 2009-2010 SD dan SMP/SMA/SMK, ditandatangani oleh Mendiknas Bambang Sudibyo per tanggal 13 Oktober 2009.  Salah satu isinya menyebutkan  bahwa  Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan.
Menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi ujian nasional yang diajukan oleh pemerintah, Pemerintah akan kembali melakukan upaya hukum yang terakhir yakni pengajuan peninjauan kembali. “Terus terang saya belum membaca keputusan MA. Yang jelas kita menghormati apa pun keputusan lembaga hukum. Siapa pun juga harus menghormati upaya-upaya hukum yang masih dilakukan. Untuk selanjutnya, tentu pemerintah akan menggunakan hak yang dimiliki,” kata Menteri Pendidikan Nasional RI Mohammad Nuh seusai upacara bendera Peringatan Hari Guru, Rabu (25/11) di halaman Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan, pada tahun 2010 Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) akan melakukan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Tetapi pihaknya menyangkal jika perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan UN.
Salah satu anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Mungin Eddy Wibowo, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Agung (MA) yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tak memengaruhi penyelenggaraan UN pada 2010. “Kami akan tetap menyelenggarakan UN pada 2010 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dan hal itu juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,” kata Mungin.
Pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mengaku merasa puas dengan hasil Ujian Nasional (UN) 2008/2009 yang secara nasional persentasenya mengalami kenaikan.(baca selengkapnya: Diknas.go.id)

BERITA KONTRA UJIAN NASIONAL
Mahkamah Agung menolak permohonan pemerintah terkait perkara ujian nasional, dalam perkara Nomor : 2596 K/Pdt/2008 dengan para pihak pemerintah.
“…  Dari segi hukum perlu diapresiasi, karena setidaknya putusan MA itu perlu dikritisi oleh pemerintah untuk benar-benar meninjau kembali UN, yang selama ini terjadi pemerintah tidak pernah melakukan itu,” ujar Dr Anita Lie, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika WIdya Mandala Surabaya.
“….Sementara itu, menurut Sekretaris Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen, ada hal lebih penting dari putusan MA tersebut, yaitu soal pemborosan. Abduh mengatakan, pemborosan terjadi akibat dikeluarkannya kebijakan UN ulang bagi siswa yang tidak lulus. “Dengan model yang seperti ini, UN sampai saat ini tidak memperlihatkan satu hal pun yang menyangkut soal peningkatan mutu anak didik,” ujarnya. Abduh menegaskan, kalau tidak dikritisi oleh masyarakat, kondisi yang terjadi akan terus begini. “UN itu tentu bisa diadakan, tetapi kalau sudah dilakukan perubahan pada kerangka pendidikan nasional yang bermutu secara menyeluruh, namun kenyataannya secara makro hal itu tidak ada sama sekali, tidak ada kompromi,” tambahnya.
Peringatan Hari Guru di Bandung dirayakan dengan tumpengan oleh guru, siswa, dan masyarakat pemerhati pendidikan. Syukuran ini juga dilakukan terkait ditolaknya permohonan kasasi pemerintah mengenai ujian nasional oleh Mahkamah Agung.
Pemerintah dinilai melanggar hukum jika tetap menyelenggarakan Ujian Nasional tahun depan. Sebab, putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan pemerintah dianggap sudah final.
Para guru yang tergabung dalam Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas), Jumat (27/11), menuntut agar Ujian Nasional dibatalkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi perkara UN yang diajukan pemerintah.
Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin meminta pemerintah menerima putusan MA yang membatalkan ujian nasional. Ketimpangan fasilitas pendidikan menjadikan pendidikan di Indonesia tidak pantas lagi distandarisasi secara nasional.
Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) Polewali Mandar, Sulawesi Barat, melakukan aksi unjuk rasa di kantor dinas pendidikan setempat. Dalam orasinya para mahasiswa mendesak pemerintah dan dinas pendidikan untuk bertanggung jawab dengan bobroknya pelaksanaan ujian nasional tahun ini.
Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangkaraya berdemo di halaman Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka menolak ujian nasional sebagai standar kelulusan.
Sebuah cita-cita keren menurut saya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia . Dimana pemerintah menginginkan pendidikan di Indonesia bisa seperti negara lain . Saya benar-benar berbangga diri jika yang demikian bisa terwujud. Saya salut dengan pemerintah yang berani mengambil keputusan ini.
Namun , Program pemerintah ini apakah akan berhasil jika tahun ini mulai diterapkan ? Pemerintah tidaklah sendirian dalam perjuangan ini . Dari pemerintah pendidikan pusat sampai siswa adalah semua faktor untuk mendukung upaya ini . Terutama bagi para siswa , merekalah yang sebenarnya sangat berperan dalam upaya ini. dari hasil kelulusan merekalah keberhasilan program ini bisa dilihat.
Mayoritas para siswa sangat keberatan untuk menghadapi Ujian Nasional yang 6 Mata Pelajaran ini. Mereka semua menganggap bahwa Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan meningkatkan standar kelulusan adalah satu cara instan yang salah . Pemerintah terlalu ngotot untuk memberlakukan aturan ini padahal kenyataanya sistim pendidikan di negeri kita ini masih banyak yang perlu diperbaiki. Salah satu kebijakan kontroversial adalah keputusan Mendiknas Nomor  017 Tahun 2003 mengenai Ujian Akhir Nasional (UAN). Kebijakan ini mendapat tantangan dari berbagai kalangan pendidik. Kalangan guru merasa dipotong haknya sebagai penentu kelulusan siswa. Selain itu siswa pun merasa hasil belajar mereka tidak dihargai karena penilaian hanya didasarkan pada nilai UAN. Meski hanya 3 mata pelajaran, tidak seperti Ebtanas yang bisa mencapai 7 mata pelajaran, Kebijakan itu tetap saja menuai protes. Apalagi belakangan diketahui bahwa Depdiknas menggunakan tabel konversi untuk mengatrol nilai siswa yang rendah. Banyak yang menilai bahwa kebijakan UAN hanya cara mudah pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dengan memuat standar nilai kelulusan, diharapkan tidak semua siswa bisa lulus dan mutu lulusan pun meningkat. Padahal dengan kondisi Indonesia yang sangat beragam, tidak mungkin membuat sebuah standar yang sama dari Sabang sampai Merauke.


 
LAMPIRAN
ARTIKEL DALAM http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2009/11/28/seputar-pro-kontra-kebijakan-ujian-nasional/
Seputar Pro-Kontra Kebijakan Ujian Nasional
Posted on 28 November 2009 by AKHMAD SUDRAJATDari tahun ke tahun penyelenggaraan Ujian Nasional selalu diwarnai dengan pro-kontra. Di satu pihak ada yang meyakini  bahwa Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan siswa masih tetap diperlukan. Tetapi di lain pihak, tidak sedikit pula yang menyatakan menolak Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan siswa. Masing-masing pihak tentunya memliki argumentasi tersendiri.
Berikut ini disajikan aneka berita seputar Pro-Kontra Kebijakan Ujian Nasional  yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, yang tentunya baru sebagian kecil saja dari sejumlah berita yang saat ini sedang hangat diberitakan dalam berbagai mass media.
BERITA PRO UJIAN NASIONAL
1. Penerbitan Permendiknas   Ujian Nasional 2010
Mendiknas menerbitkan peraturan  No.74 dan 75 tentang Panduan UN Tahun Pelajaran 2009-2010 SD dan SMP/SMA/SMK, ditandatangani oleh Mendiknas Bambang Sudibyo per tanggal 13 Oktober 2009.  Salah satu isinya menyebutkan  bahwa  Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk penentuan kelulusan peserta didik dari program dan/atau satuan pendidikan. (baca selengkapnya Depdiknas )
2. Kalah di MK Soal UN, Pemerintah Segera Ajukan PK
Menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi ujian nasional yang diajukan oleh pemerintah, Pemerintah akan kembali melakukan upaya hukum yang terakhir yakni pengajuan peninjauan kembali. “Terus terang saya belum membaca keputusan MA. Yang jelas kita menghormati apa pun keputusan lembaga hukum. Siapa pun juga harus menghormati upaya-upaya hukum yang masih dilakukan. Untuk selanjutnya, tentu pemerintah akan menggunakan hak yang dimiliki,” kata Menteri Pendidikan Nasional RI Mohammad Nuh seusai upacara bendera Peringatan Hari Guru, Rabu (25/11) di halaman Departemen Pendidikan Nasional RI, Jakarta.  (baca selengkapnya Kompas.com)
3. 2010, UN Bukan Penentu Kelulusan
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh mengatakan, pada tahun 2010 Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) akan melakukan perubahan pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Tetapi pihaknya menyangkal jika perubahan tersebut dikaitkan dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menolak kasasi dari pemerintah berkait keputusan dari Pengadilan Tinggi Jakarta tentang pelaksanaan UN. (baca selengkapnya Republika Online)
4. Ujian Nasional Jalan Terus
Salah satu anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Prof Mungin Eddy Wibowo, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Agung (MA) yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tak memengaruhi penyelenggaraan UN pada 2010. “Kami akan tetap menyelenggarakan UN pada 2010 sesuai dengan jadwal yang ditetapkan, dan hal itu juga telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,” kata Mungin.  (baca selengkapnya Kompas.com)
5. Hasil UN Meningkat, Pemerintah Puas
Pemerintah atau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), mengaku merasa puas dengan hasil Ujian Nasional (UN) 2008/2009 yang secara nasional persentasenya mengalami kenaikan.(baca selengkapnya: Diknas.go.id)
BERITA KONTRA UJIAN NASIONAL
1. Press Realease dari Mahkamah Agung
Mahkamah Agung menolak permohonan pemerintah terkait perkara ujian nasional, dalam perkara Nomor : 2596 K/Pdt/2008 dengan para pihak Negara RI cq Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono; Negara RI cq Wakil Kepala Negara, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo; Negara RI cq Presiden RI cq Menteri Pendidikan Nasional cq Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan, Bambang Soehendro melawan Kristiono, dkk (selaku para termohon Kasasi dahulu para Penggugat/para Terbanding.(baca selengkapnya Mahkamah Agung )
2. Pasca Putusan MA, Pemerintah Perlu Tinjau UN
“…  Dari segi hukum perlu diapresiasi, karena setidaknya putusan MA itu perlu dikritisi oleh pemerintah untuk benar-benar meninjau kembali UN, yang selama ini terjadi pemerintah tidak pernah melakukan itu,” ujar Dr Anita Lie, dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unika WIdya Mandala Surabaya.
“….Sementara itu, menurut Sekretaris Institute for Education Reform Universitas Paramadina Mohammad Abduhzen, ada hal lebih penting dari putusan MA tersebut, yaitu soal pemborosan. Abduh mengatakan, pemborosan terjadi akibat dikeluarkannya kebijakan UN ulang bagi siswa yang tidak lulus. “Dengan model yang seperti ini, UN sampai saat ini tidak memperlihatkan satu hal pun yang menyangkut soal peningkatan mutu anak didik,” ujarnya. Abduh menegaskan, kalau tidak dikritisi oleh masyarakat, kondisi yang terjadi akan terus begini. “UN itu tentu bisa diadakan, tetapi kalau sudah dilakukan perubahan pada kerangka pendidikan nasional yang bermutu secara menyeluruh, namun kenyataannya secara makro hal itu tidak ada sama sekali, tidak ada kompromi,” tambahnya. (Baca selanjutnya Kompas.com)
3. Putusan Kasasi UN Dirayakan dengan Tumpeng
Peringatan Hari Guru di Bandung dirayakan dengan tumpengan oleh guru, siswa, dan masyarakat pemerhati pendidikan. Syukuran ini juga dilakukan terkait ditolaknya permohonan kasasi pemerintah mengenai ujian nasional oleh Mahkamah Agung. (Baca se;engkapnya Kompas.Com )
4. Pemerintah Dinilai Langgar Hukum Jika Tetap Gelar Ujian Nasional
Pemerintah dinilai melanggar hukum jika tetap menyelenggarakan Ujian Nasional tahun depan. Sebab, putusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi yang diajukan pemerintah dianggap sudah final.   (baca selengkapnya Tempointeraktif )
5. Guru Menuntut Ujian Nasional Dibatalkan
Para guru yang tergabung dalam Forum Interaksi Guru Banyumas (Figurmas), Jumat (27/11), menuntut agar Ujian Nasional dibatalkan, menyusul keputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi perkara UN yang diajukan pemerintah.  (baca selengkapnya Kompas.Com )
6. Wakil Ketua MPR Setuju Penghapusan Ujian Nasional
Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin meminta pemerintah menerima putusan MA yang membatalkan ujian nasional. Ketimpangan fasilitas pendidikan menjadikan pendidikan di Indonesia tidak pantas lagi distandarisasi secara nasional. (baca se;lanjutnya  : Detik News )
7. Mahasiswa Demo Minta Ujian Nasional Dihapus
Aliansi Mahasiswa Peduli Pendidikan (AMPP) Polewali Mandar, Sulawesi Barat, melakukan aksi unjuk rasa di kantor dinas pendidikan setempat. Dalam orasinya para mahasiswa mendesak pemerintah dan dinas pendidikan untuk bertanggung jawab dengan bobroknya pelaksanaan ujian nasional tahun ini. (baca se;lanjutnya  : Liputan6.com)
 
 
8. Tolak UN, BEM Universitas Palangkaraya Demo
Puluhan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Palangkaraya berdemo di halaman Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah. Mereka menolak ujian nasional sebagai standar kelulusan. (baca se;lanjutnya: Kompas.com)
BERITA “KORBAN” UJIAN NASIONAL
1. Peserta UN Dicampur, Guru Bingung
… Kebijakan mencampur peserta UN itu membingungkan pihak sekolah, guru, dan siswa. Apalagi hingga saat ini kepastian soal perubahan-perubahan teknis dalam pelaksanaan UN belum juga disampaikan secara resmi ke sekolah.Sejumlah pimpinan sekolah dari berbagai daerah, Rabu (25/11), mengatakan, rencana mencampur peserta UN menambah beban psikologis pelajar. (baca selengkapnya: Kompas. com)
2. Kisah Pahit Para Korban Ujian Nasional
Ujian nasional digugat. Ujian sebagai standarisasi kelulusan itu dianggap mengabaikan prestasi yang dibina anak didik selama bertahun-tahun. Banyak siswa berprestasi tidak lulus hanya lantaran gagal dalam ujian nasional. Seperti yang dialami Siti Hapsah pada 2006. Mimpinya kuliah di Institut Pertanian Bogor sirna gara-gara ujian ujian nasional. Ia dinyatakan tak lulus ujian nasional lantaran nilainya kurang 0,26.  (baca selengkapnya  VivaNews)
3. Pelajar Alami Gangguan Jiwa Hadapi UN {Video)
Seorang siswi kelas 3 SMP Negeri 4 Kendari, Sulawesi Tenggara mengalami gangguan jiwa setelah terlalu banyak belajar menghadapi ujian nasional. (baca selengkapnya  VivaNews)
4. Bunuh Diri Karena Tak Lulus UN
Gara-gara tak lulus ujian nasional (UN) SMA, seorang pemuda nekat bunuh diri. Diduga karena tak kuat menahan beban psikis, Tri Sulistiono (21) memilih mengakhiri hidupnya dengan cara melompat ke dalam sumur.  (baca selengkapnya Suara Merdeka)
5.  Mengurung diri setelah gagal UN,  Edy akhirnya bunuh diri
Edi Hartono (19), aib karena gagal UN masih terus terasa menyesakkan. Setelah mengurung diri di rumah neneknya, mantan siswa SMA di Besuki itu akhirnya bunuh diri. (baca selengkapnya: Kompas. com)
6. Gagal UN, Siswi SMP Mencoba Bunuh Diri
Hasil ujian nasional sekolah menengah pertama nyaris membawa korban jiwa di Banyuwangi, Jawa Timur, belum lama ini. Ida Safitri, siswi SMPK Santo Yusuf, mencoba bunuh diri dengan menenggak puluhan pil tanpa merek karena gagal lulus. Beruntung nyawa korban dapat diselamatkan setelah pihak keluarga segera membawanya ke rumah sakit. (baca selengkapnya: Liputan6.com)
7. Siswa SMK Coba Bunuh Diri, Diduga Karena Tak Bisa Ikut UN
Ujian Nasional (UN) adalah segalanya bagi seorang siswa. Diduga karena stres tidak bisa ikut UN, Hendrik Irawan (19) nekat minum racun serangga. Beruntung nyawanya bisa diselamatkan. (baca selengkapnya : DetikNews.com)

DEFINISI PENGELOLAAN KELAS

Beberapa definisi mengenai pengelolaan kelas menurut para ahli adalah sebagai berikut :
Pengelolaan kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau yang membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan. (Dr. Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan siswa : 1987 : 68).
Pengelolaan kelas adalah kegiatan mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran dan menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi. (Pengelolaan belajar dan kelas, E. Komar dan Uus Rusnadi 1993 : )
Pengelolaan kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas yang dimulai daari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, lingkungannya untuk memaksimalkan efesiensi, memantau kemajuan siswa dan mengantisipasi masalah-masalah yang mungkin timbul. (Cece Wijaya dan A. Tabrani Rusyar, Kemampuan Dasar Guru dalam Proses Belajar Mengajar, 1992 : 113).
Jadi, dari beberapa definisi diatas saya bisa menyimpulkan bahwa a tentang pengertian pengelolaan kelas, dapat saya simpulkan bahwa pengelolaan kelas adalah kegiatan yang terencana yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal, membangun iklim sosio-emosional yang positif serta menciptakan suasana hubungan interpersonal yang baik. Sehingga diharapkan proses belajar dan mengjar dapat berjalan secara efektif dan efesien, sehingga tercapai tujuan pembelajaran.
2.      Seorang guru harus memiliki kompetensi dalam pengelolaan kelas
Guru harus emiliki kompetensi pengelolaan kelas yang baik akan tercipta suasana belajar yang menarik, menyenagkan untuk mencapai tujuan pengajaran dan meningkatkan kualitas pembelajaran dan menciptakan, memelihara, dan mengendalikan kondisi belajar yang optimal bagi terciptanya proses belajar-mengajar yang efektif, serta dapat membangun hubungan sosio-emosional (hubungan interpersonal) yang baik antara guru dengan murid, serta antara murid dengan guru. Dan jika guru tidak memiliki kompetensi pengelolaan kelas yang baik proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan optimal karena kompetensi sangat diperlukan dalam pengelolaan kelas.
Pengaruh kemampuan guru dalam pengelolaan kelas terhadap keberhasilan belajar siswa.
Guru yang mempunyai kemampuan pengelolaan kelas yang baik akan meningkatkan potensi belajar siswa, mutu pendidikan dan tercapainya tujuan pendidikan tersebut. Serta mutu proses pembelajaran, hal ini tergantung dari kemampuan guru dalam penyampaian materi kepada siswa. Dan jika guru tidak mempunyai kemampuan pengelolaan kelas yang baik, akan mengakibatkan  prestasi belajar siswa rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran yang ditentukan dan akan menghambat proses belajar mengajar, karena kondisi kelas yang kurang optimal.
3.      Misi utama pengelolaan kelas
Adapun yang menjadi misi dalam pengelolaan kelas adalah sebagai berikut :
Tersidianya lingkungan belajar yang mendukung proses belajar-mengajar.
Banyaknya keterlibatan (waktu yang digunakan/dihabiskan) peserta didik dalam aktifitas belajar sehingga mendukung pencapaian prestasi belajar yang tinggi.
Meningkatkan keterampilan siswa.
Memotivasi dan membantu siswa untuk mengenali potensi dirinya, sehingga dapat dikembangkan secara optimal.
Kegiatan mengelola kelas secara fisik (pengaturan siswa)
1)      Mengatur ventilasi dalam kelas, ventilasi dalam kelas sangat di perlukan, agar tercipta kondisi kelas yang nyaman.
2)      Mengatur pencahayaan
Pencahayaan dalam kelas harus memadai, agar apa yang ditulis oleh guru di papan tulis dapat terlihat jelas, dan jika pencahayaan itu memadai siswa tidak akan mengantuk.
3)      Mengatur kenyamanan siswa.
Dalam belajar, siswa harus merasa nyaman dulu, agar siswa tersebut bias berkonsentrasi dan belajar dengan nyaman.
4)      Mengatur letak duduk
Letak duduk siswa sebaiknya di pindah-pindah setiap minggunya, agar siswa dapat merasakan duduk di depan, di tengah ataupun di belakang. Hal itu akan membantu siswa agar tidak merasa bosan dan jenuh.
5)      Mengatur penempatan siswa
Sebisa mungkin guru harus bias menempatkan siswa sesuai kompetensi yang dimiliknya. Sebaiknya siswa yang lamban dalam belajar, disatukan dengan siswa yang lebih pintar, agar siswa yang lamban tersebut termotivasi oleh pintar, untuk lebih giat dalam belajar.
Kegiatan pengelolaan kelas secara psikhis (kondisi emosional)
1)      Mengatur tingkah laku
Guru membimbing dan mengarahkan siswa akhlak/tingkah laku yang baik, sehingga tidak menjadi masalah di dalam kelas ataupun lingkungan masyarakatnya.
2)      Mengatur kedisiplinan
Guru harus menerapkan kedisiplinan kepada siswa, baik disiplin dalam waktu, dalam tingkah laku dan disiplin dalam belajar.
3)      Mengatur minat
Minat dan potensi itu berbeda-beda, guru harus bias membantu dan mengarahkan potensi siswa tersebut, dan mempasilitasi minat yang siswa miliki.
4)      Gairah belajar
Adakalanya gairah siswa dalam belajar menurun, tugas guru adalah membangkitkan gairah belajar misalnya dengan mengadakan kuis ataupun bercerita hal-hal menarik disela-sela belajar.
5)      Mengatur dinamika kelompok

Motivasi dapat mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang, karena motivasi adalah factor penentu keberhasilan seseorang, motivasi dilakukan sebagai rangsangan/dorongan belajar agar lebih giat lagi dalam belajar sehingga dapat tercapainya keberhasilan dalam belajar.
Dengan adanya motivasi yang kuat, siswa akan terpacu dan bersemangat untuk belajar lebih baik, dan melakukan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Karena jika tidak ada motivasi, siswa tidak akan terdorong untuk belajar dan tidak ada gairah dalam belajar.
Teori motivasi maslaw
Jika seseorang sudah mempunyai suatu motivasi, maka dia siap mengerjakan sesuatu hal yang diperlukan sesuai dengan apa yang dikehendakinya, sebelumnya motivasi menyangkut pemenuhan seperangkat kebutuhan manusia.
Maslaw menyatakan bahwa kebutuhan manusia itu ada 5 tingkatan. Antara lain:
Fsiological need (kebutuhan psikologis)
Kebutuha psikologis itu antara lain : rasa haus, lapar, seks, dan kebutuhan ragawi lainnya.
Sai feteey need (kebutuhan kenyamanan dan keamanan)
Kebutuhan kenyamanan dan keamanan itu antara lain : keselamtan dan perlindungan terhadap kerugian fisik dan emosional.
Love and belonging need (kebutuhan cinta dan kasih sayang)
Kebutuhan cinta dan kasih sayang itu antara lain : rasa kasih sayang, rasa dimiliki, rasa di ingini, rasa diterima baik dalam lingkungan dan persahabatan.
Esteen need (kebutuhan harga diri)
Kebutuhan harga diri itu antara lain : prestasi, dihargai, pengakuan status, dan perhatian.
Self actualization need (kebutuhan mengaktualisasikan dirinya)
Kebutuhan mengaktualisasikan dirinya itu antara lain berupa pengakuan terhadap kapasitas pengetahuan, keterampilan, dan potensi yang dimilikinya.

Teori motivasi McClelland
Menurut McClelland, ada 3 hal yang melatar belakangi motivasi seseorang.
Need for achievemen (n-ach) (kebutuhan akan prestasi/pencapaian)\
Kebutuhan akan prestasi adalah kebutuhan seseorang untuk memiliki pencapaian yang signifikan, dapat menguasai berbagai keahlian, atau memiliki standar yang tinggi. Orang seperti ini biasanya selalu ingin menghadapi tantangan baru dan selalu ingin mengekspresikan dirinya dengan bebas.
The need for Authority and power. (n-pow)- (kebutuhan untuk meraih kekuasaan)
Kebutuhan akan kekuasaan ini didasari oleh keinginan seseorang mengatur atau memimpin orang lain.
The need for affillation (n-affi)-(kebutuhan akan persahabatan dan berkumpul/keanggotaan)
Kebutuhan akan persahabatan dan berkumpul ini didasari oleh keinginan untuk mendapatkan atau menjlankan hubungan yang baik dengan orang lain. Orang semacam ini merasa ingin disukai dan diterima oleh lingkungannya.
5.      Faktor-faktor penyebab munculnya perilaku siswa yang dapat menimbulkan masalah dalam kelas antara lain:
1.      Faktor internal
Faktor yang berasal dari diri siswa itu sendiri.
Misalnya jika ada siswa yang fisiknya kurang sehat, kemungkinan siswa tu konsentrasi belajarnya akan terganggu dan mungkin siswa itu akan mengantuk atau malah tertidur di dalam kelas.
–         Jika mendapati siswa yang suka usil atau nakal dalam kelas, mungkin itu karena siswa itu ingin mendapat perhatian, bosan dengan suasana kelas yang monoton, jenuh dengan suasana belajarnya atau tidak suka dengan mata pelajaran yang sedang berlangsung sehingga hal-hal yang demikian dapat menimbulkan masalah di dalam kelas.

2.      Faktor eksternal
Faktor yang berasal dari luar diri siswa tersebut (kondisi keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat).
Jika siswa memiliki masalah-masalah eksternal dalam dirinya, contohnya karena kondisi keluarganya yang tidak harmonis, atau tidak mendapat perhatian dari orang tuanya kemungkinan siswa itu tidak akan menjadi usil atau menjadi pendiam. Hal itu juga akan menjadi masalah dalam kelas.
Contoh kasus yang dihadapi guru dalam kelas dan langkah-langkah yang dapat dilakukan guru untuk mengatasi masalah tersebut.
a.      Bagaimana menemani siswa yang suka usil.
Siswa yang usil jangan langsung dimarahi, atau dilempar dengan penghapus, murid usil itu pasti ada alasannya.
Misalnya ada siswa yang usil mengusili teman sebangkunya dan teman-temannya yang lain dengan cara “mengetepel pake karet” sehingga mengganggu konsentrasi belajar siswa yang lain. Hal ini biasanya disebabkan karena mereka bosan dengan pelajaran atau merasa tidak cocok dengan gurunya.
Selain itu, bisa jadi anak ini memang lebih pandai dari murid yang lain. Jadi siswa tersebut sudah merasa sudah tahu dan faham isi materi pelajaran. Siswa merasa tidak perlu mendengarkan penjelasan dari guru di depan kelas. Kalau sudah begini, biasanya siswa akan mencari cara mengusili, menarik perhatian guru. Bisa dengan cara mengusili teman sebangku atau siapapun yang ada di dekatnya seperti contoh di atas.
Jika guru menemukan anak yang seperti itu (usil) cobalah tegur, tapi jangan serius-serius. Bukan malah diejek/dimarahi. Guru sebaiknya tidak mudah melontarkan kata-kata yang bernada makian/sindiran kepada siswanya. Tantang saja dengan sesuatu yang kreatif. Tapi jangan langsung diberi tugas sebagai hukumannya karena mungkin siswa tidak begitu memperhatikan pelajaran. Siswa malah kaget nanti. Tanggapilah dengan santai atau bisa juga dengan mendekati siswa tersebut, dan bertanya kenapa dia melakukan hal tersebut, tapi bertanyanya jangan terlalu serius nanti siswa akan merasa dihakimi. Dengan pendekatan seperti itu siswa akan merasa diperhatikan dan dihargai dan tidak akan melakukan hal serupa.
Asalkan saja kejahilannya itu tidak kelewatan, jangan terburu-buru menilai negative. Usil kadang bisa tersalurkan dengan positif untuk mengurangi aktifitas usil tadi. Guru bisa saja dengan mengalihkan perhatian dan mengizinkan siswa tersebut membawa minuman ke dalam kelas, bukan makanan tentunya.
b.      Bagaimana menemani siswa yang kurang konsentrasi
Tidak selamanya anak didik fokus di kelas, ada kalanya mereka kehilangan konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Alasannya bermacam-macam, bisa karena kecapean atau memikirkan masalah.
Jika guru menemukan siswanya kurang konsentrasi di dalam kelas, jika durasi waktunya tidak sering. Ada baiknya siswa tidak diusik, tetapi guru tetap melakukan pendekatan-pendekatan personal. Sekedar becanda atau bertanya mengapa si anak terlihat tidak bersemangat.
Misalnya ketika sedang mengajar, ada anak yang tertidur. Sebagai guru yang baik, jangan langsung memarahi anak tersebut. Lebih baik menegurnya lebih dahulu, memintanya agar jangan mengulangi perbuatan itu lagi. Tetapi juga harus bertanya mengapa dia sampai tertidur di dalam kelas. Bisa jadi tidak disengaja melakukannya. Bisa jadi karena kecapean ada masalah di rumah atau lebih aktif di kegiatan ekstrakurikuler sekolah. Jika alasannya masuk akal, seorang guru harap memaklumi, tetapi jika alasannya tidak masuk akal, guru dapat member penjelasan tentang kerugian dari sikap yang tidak baik itu. Misalnya akibat tertidur mendengkur, dia dapat mengganngu teman-temannya atau karena tertidur ia akan ketinggalan materi pelajaran

Artikel
Tema : kondisi kelas yang ideal
Menciptakan kondisi yang efektif dalam diskusi kelas Sains dengan memperhatikan beberapa faktor antara lain aransemen ruang dalam kelas diskusi, ukuran kelompok, lamaya durasi sesi diskusi, tipe siswa yang dapat dijumpai dalam diskusi
Aransemen ruang untuk diskusi kelas
Jika menginginkan diskusi dapat berjalan efektif maka aransemen kelas dan iklim kelas yang baik merupakan faktor yang harus dipertimbangkan. Siswa dapat berinteraksi lebih baik dengan lainnya jika mereka duduk berhadapan sehingga mereka dapat melihat teman-teman sekelas mereka daripada bagian belakang kepala mereka. Intinya, semua dapat terlihat jelas. Guru harus menggeser meja dan kursi  ketika mereka akan berdiskusi. Hasil akhirnya sepadan dengan usaha mereka. Guru sains yang melakukan semua aktivitas dalam ruangan yang dilengkapi dengan laboratorium dan beberapa usaha yang harus dicoba untuk mengimprovisasi kondisi kelas yang terbaik.
Jika ruangan sains dilengkapi dengan meja untuk dua siswa, secara umum dapat dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Jika guru menginginkan interaksi maksimum maka siswa dapat dibagi menjadi empat dalam setiap kelompok atau jika kelompok lebih besar muncul untuk dapat bekerja lebih baik, maka dapat ditambahkan meja sehingga setiap kelompok diskusi terdiri dari delapan siswa.
Salah satu faktor yang sering dilupakan adalah lokasi guru di kelas. Banyak guru yang terus berdiri dan mendominasi kelas sementara siswa duduk untuk berdiskusi. Fungsi guru selama diskusi adalah untuk memimpin dan menfasilitasi pertukaran antar siswa, guru juga dapat bergabung pada diskusi kelompok di kelas.
Tata letak meja dan bangku dalam proses belajar di kelas
Kursi dan meja siswa dan guru perlu ditata sedemikian rupa sehingga dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar yang mengaktifkan siswa, yakni memungkinkan hal-hal sebagai berikut:
Aksesibilitas: siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia.
Mobilitas: siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas
Interaksi: memudahkan terjadi interaksi antara guru dan siswa maupun antara siswa.
Variasi kerja siswa: memungkinkan siswa bekerjasama secara perorangan, berpasangan, atau kelompok.
Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat mejadikan belajar aktif. Tidak ada satupun bentuk ruang kelas yang ideal, namun ada beberapa pilihan yang dapat diambil sebagai variasi. Dekorasi interior kelas harus dirancang yang memungkinkan anak belajar aktif, yakni yang menyenangkan dan menantang. Formasi kelas berikut ini tidak dimaksudkan untuk menjadi susunan yang permanen. Jika mubeler (meja atau kursi) yang ada di ruang kelas dapat dengan mudah dipindah-pindah, maka sangat mungkin menggunakan beberapa formasi ini sesuai dengan yang diinginkan. Menurut Silberman (1996), ada beberapa formasi yang dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan belajar  yang aktif antara lain sebagai berikut:
1. Formasi huruf U
Formasi ini dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik dapat melihat guru dan/atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena guru dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.
2. Formasi corak tim
Mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.
3. Meja konferensi
Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja.
4. Lingkaran
Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh.  Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.
5. Kelompok untuk kelompok
Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.
6. Workstation
Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemonstrasikan. Tempat berhadapan mendorong patner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama
7. Breakout grouping
Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga.
8. Susunan Cheveron
Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah.
9. Kelas tradisional
Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari baris-baris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar jursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.
10. Auditorium
Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.Jika tempat-tempat duduk itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku asertif terhadap bentuk ini; sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi audotorium. Ingatlah : tidak masalah seberapa besar auditorium dan seberapa banyak audien, anda masih dapat memasangkan mereka dan menggunakan aktifitas-aktifitas belajar aktif yang melibatkan pasangan-pasangan.
Ukuran kelompok untuk diskusi kelas
Ukuran kelas adalah variabel lain dari yang mempengaruhi diskusi. Aturan umum bahwa setiap kelompok yang memiliki lebar 30, maka hanya sekitar sepertiga kelompok akan berpartisipasi aktif. Ketika siswa sains beraktifitas dalam laboratorium mereka dapat bekerja secara individu, berpasangan atau kelompok kecil, sementara fungsi dari guru adalah penasehat. Demikian juga bahwa aktivitas/kegiatan diskusi dapat diatur. Guru dam siswa dapat mengajukan pertanyaan terbuka yang harus dipertimbangkan sebelum kelas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil.
Ada ukuran optimal untuk diskusi kelompok. Delapan sampai dua belas siswa per kelompok merupakan kisaran dimana partisipasi aktif dapat berlangsung. Jika kelompok terlalu kecil, maka individu merasa tidak nyaman dan merasa berkawajiban untuk memberikan kontribusi, apakah mereka benar-benar memiliki sesuatu yang dapat dikatakan atau tidak. Jika kelompok terlalu besar maka ada beberapa siswa yang tidak pernah berpartisipasi.
Ketika kelompok pertama kali terbentuk maka guru menunjuk siswa untuk bergabung dalam kelompok tertentu. Komposoisi kelompok harus berasal dari berbagai kemampuan dan minat, hal ini akan berfungsi lebih baik daripada kelompok tersebut terdiri dari kemampuan dan bakat yang sama. Siswa ditunjuk sebagai pemimpin kelompok diskusi dan peran pemimpin selalu mengalami rotasi pada setiap pergantian sesi kelas. Siswa yang berbeda pada tiap kelompok ada yang berfungsi sebagai observer/pengamat yang diberikan tanggung jawab untuk membuat ringkasan, mengevaluasi kemajuan kelompok dan menjaga agar tetap dapat berpartisispasi. Tugas ini berotasi dari satu sesi kesesi berikutnya.
Ada beberapa hal yang harus dipertimangkan dalam diskusi yakni; 1) bagaimana diskusi tersebut berjalan, 2) bagaimana tujuan diskusi dapat tercapai, 3) berapa banyak kelompok yang berpartisispasi. Observer dapat memberikan data untuk menjawab sejumlah pertanyaan tersebut. Penilaian kualitas dan kuantitas dari distribusi siswa merupakan tugas dari guru.
Lamanya durasi sesi diskusi
Seperti halnya dengan ukuran kelompok, tidak ada panjang optimal untuk sebuah sesi diskusi. Guru yang mengetahui siswa mereka mungkin dapat menilai, dengan jenis dan frekuensi terhadap partisipasi siswa ketika membawa diskusi menjadi tertutup. Hal ini tidak penting untuk melanjutkan diskusi sampai konsensus telah tercapai atau semua solusi untuk sebuah masalah yang nyata atau hipotetis telah diidentifikasi. Guru mungkin ingin menggunakan beragam kegiatan tindak lanjut, tergantung pada apa yang terjadi selama diskusi, sejumlah minat siswa diskusi yang mungkin terprovokasi, atau tambahan topik diskusi yang mungkin telah diidentifikasi.
Sebagian besar sekolah-sekolah cenderung memiliki waktu pertemuan kelas sekitar empat puluh lima menit. Jika murid tidak terbiasa untuk berpartisipasi dalam diskusi, guru harus berusaha selama kira-kira dua puluh menit untuk sesi diskusi. Jika mayoritas siswa tampaknya tidak nyaman ketika dalam kelompok diskusi dan cenderung lebih menginginkan guru untuk lebih memberikan arahan atau dominasi yang lebih darpada yang mereka berikan, maka sesi diskusi tidak boleh diperpanjang jkareana nampaknya terjadi kemacetan/hambatan. Walaupun guru dan siswa dapat membisakan untuk bersikap toleransi dan  ambiguitas dan keragua-raguan pada saaat memulainya. Guru harus berspekulasi untuk memungkinkan lebih banyak waktu. Ini tidak hanya menyebabkan frustasi dan roda perputaran bagi sebagian siswa, tetapi juga dapat berarti bahwa waktu tambahan akan menghasilkan kemampuan berpikir yang pada akhirnya akan menghasilkan beberapa percakapan yang bermanfaat.
Tipe siswa yang dapat dijumpai guru dalam diskusi
Pertama, guru dapat menjumpai siswa yang menuntut lebih banyak struktur. Mungkin ini adalah siswa terbaik yang berorientasi pada kelas dan terbiasa untuk mengetahui “apa yang guru inginkan”. Mereka mampu belajar autonom tetapi mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk melakukannya. Mereka mungkin beranggapan, bahwa kegiatan diskusi adalah membuang-buang waktu. Ini adalah tugas guru, melalui jenis orientasi yang diberikan untuk diskusi dan dengan menggunakan stimulus, pertanyaan verbal yang jelas, untuk meyakinkan para siswa untuk mempertimbangkan penilaian diskusi sebagai perangkat belajar sampai mereka memiliki lebih banyak pengalaman dalam kelompok diskusi.
Tipe siswa kedua adalah hand-waver. Siswa ini memiliki keinginan untuk menarik perhatian, atau alasan lain, sehingga dapat mendominasi jalannya diskusi jika guru tidak waspada. Penekanan pada penghormatan terhadap berbagai pendapat dan peningkatan partisipasi sejumlah siswa harus disajikan kembali dari waktu ke waktu. Kadang-kadang hand-waver berkeinginan untuk membantu jalannya diskusi sehingga dapat berperan sebagai observer pada diskusi kelompok atau untuk sesi diskusi kelas. Guru harus belajar bagaimana menangani siswa yang memiliki semangat berlebihan, sehingga ia tidak mendominasi tanpa harus  menghukum atau menahan agar dia berhenti untuk berpartisipasi atau membuat  gangguan sebagai pembalasan karena tidak diperbolehkan bicara. Kadang-kadang guru dapat mengantisipasinya berkata dengan “mari kita memberikan kesempatan pada seseorang yang belum mengatakan sesuatu atau dalam waktu ini sedikit diberikan kesempatan untuk mengekspresikan ide mereka sebelum kami mendengar beberapa dari anda , ” atau kata-kata seperti itu.
Siswa jenis ketiga dapat digambarkan sebagai shy (pemalu). Mereka mungkin tidak akan bersikap dominan dikelas tetapi mereka begitu pendiam dan mereka sering terabaikan. Beberapa teknik diperlukan untuk mendorong tanggapan dari siswa yang cenderung untuk tidak menjawab pertanyaan.
Dalam beberapa kelompok di kelas, pelajar keempat ditemukan jenis yang diidentifikasi sebagai kelas bodoh. Siswa ini sering kali menjadi objek ejekan. Ketika siswa tersebut mencoba untuk menanggapi pertanyaan atau untuk berpartisipasi dalam diskusi, mereka akan disambut dengan rekan-rekan mereka ‘reaksi dari “apa yang Anda tahu, Bodoh?!” Perilaku ini akan berkurang jika guru telah mampu membentuk suasana ruang kelas di mana ide-ide atau pendapat dari masing-masing individu dihormati. Guru dibutuhkan untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya dalam cara mendengarkan dan memberikan dukungan bagi siswa tersebut.
Jenis siswa yang kelima dalah side-tracker (sisi-pelacak). Dia rupanya memiliki pertanyaan yang tidak berujung pangkal dan komentar yang muncul menjadi relevan, tetapi dapat mengirim diskusi terhenti dari tujuan aslinya. Guru membutuhkan penanganan taktik pengalihan sedemikian rupa sehingga ia tidak diabaikan atau ditegur atau menjadi angkuh dalam diskusi. Taktik terbaik adalah dengan menjawab pertanyaan sesingkat mungkin dan mengembalikan diskusi ke topik semula.
Jenis siswa yang keenam kadang-kadang ditemukan di dalam kelas adalah attention grabber/grand-stander. Mungkin ada berbagai individu yang sesuai dengan kategori ini, siswa yang melawan/memberontak guru atau untuk memulai permainan sendiri, untuk siswa yang memiliki masalah emosional dan psikologis yang mereka perlukan adalah perhatian. Sekali lagi, tidak ada satu cara terbaik untuk menangani situasi jika, atau ketika, timbul selain tidak menjadi kesal atau marah,  mengabaikan insiden adalah taktik yang paling efektif untuk digunakan.

%d blogger menyukai ini: