RESUME PSIKOLOGI PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

Oleh :

KUSAERY MUSTOPA

NIM. 0951.063

 

 

`PSIKOLOGI PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN`

(PROF.DR.H.MOHAMAD SURYA : 2004)

BAB I

PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

  1. A.    Pengertian Psikologi

Psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos”  atau ilmu. Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati (hidup) yang meliputi jenis motorik, kognitif, konatif, dan efektif.

  1. B.     Pendekatan Psikologi

–          Pendekatan Behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Menurut pendekatan ini, perilaku adalah segala sesuatu yang dapat diamati oleh alat indra kita sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (stimulus-response). Tokoh dalam pendekatan ini ialah Watson, skinner, Pavlov, dan Thorndike.

–          Pendekatan Psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang berada dibawah kesadaran individu (libido). Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku individu dikontrol oleh bagian yang tidak sadar. Tokoh utamanya adalah Sigmund Freud.

–          Pendekatan Kognitif, bahwa perilaku itu sebagai proses internal (di dalam) atau suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran yang berupa perilaku. Tokoh dalam pendekatan ini adalah Piaget, Ausubel, dan Brunner.

–          Pendekatan Humanistik, lebih menekankan pada martabat kemanusiaan pada individu yang berbeda dengan hewan dan makhluk lainnya. Manusia sudah sejak awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Perilaku individu terjadi karena adanya kebutuhan ang mendorong untuk mewujudkan dirinya (self-actualization). Tokoh pendekatan ini ialah Maslow dan Carl Rogers.

–          Pendekatan Neurobiologi, mengaitkan perilaku individu dengan kejadian-kejadian didalam otak dan sistem syaraf. Perilaku seseorang amat tergantung pada kondisi otak dan syarafnya.

  1. C.    Jenis-jenis Psikologi

Beberapa jenis Psikologi khusus antara lain:

ü  Psikologi Perkembangan, mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan sejak kehidupan dimulai (konsepsi) sampai akhir kehidupan (mati).

ü  Psikologi Sosial, mengkaji perilaku individu dalam interaksi sosial.

ü  Psikologi Abnormal, mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.

ü  Psikologi Komparatif, mengkaji perbandingan perilaku manusia dengan prilaku binatang.

ü  Psikologi Diferensial, mengkaji perbedaan perilaku antar individu.

ü  Psikologi Kepribadian, mengkaji perilaku individu secara khusus dari aspek kepribadiannya.

ü  Psikologi Pendidikan, mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan.

ü  Psikologi Industri, mengkaji perilaku individu dalam kaitan dengan dunia industri.

ü  Psikologi Klinis, mengkaji perilaku individu untuk keperluan klinis/penyembuhan.

ü  Psikologi Kriminal, mengkaji perilaku individu dalam situasi kriminal.

ü  Psikologi Militer, mengkaji perilaku individu dalam situasi kemiliteran.

  1. D.    Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan ialah cabang psikologi yang secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitan dengan situasi pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan ialah menemukan berbagai fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif.

  1. E.     Pranan Psikologi dalam Pembelajaran dan Pengajaran
    1. Memahami siswa sebagai pelajar (perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dsb)
    2. Memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran.
    3. Memilih metode-metode pembelajaran dan pengajaran.
    4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran.
    5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondisif.
    6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran.
    7. Membantu siswa-siswa yang mendapat kesulitan pembelajaran.
    8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran.
    9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran.
    10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru.
    11. Membimbing perkembangan siswa.

 

 

 

 

BAB II

PENGERTIAN PEMBELAJARAN

  1. A.    Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut diatas ialah:

Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. a.      Perubahan yang disadari.
  2. b.      Perubahan yang bersifat kontinu (berkesinambungan).
  3. c.       Perubahan yang bersifat fungsional.
  4. d.      Perubahan yang bersifat positif.
  5. e.       Perubahan yang bersifat aktif.
  6. f.        Perubahan yang bersifat permanen (menetap).
  7. g.      Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.

Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses.

Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai.

Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.

  1. B.     Pengertian Pembelajaran dan Pengertian Lain
    1. 1.      Belajar dan pertumbuhan, perkembangan, kematangan, perubahan yang terjadi dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan akan terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam secara naluriah.
    2. 2.      Pembelajaran dan menghafal, proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila disertai dengan aktivitas menghafal.
    3. 3.      Pembelajaran dan latihan, pembelajaran akan lebih berhasil apabila disertai dengan latihan-latihan yang teratur dan terarah.
    4. 4.      Pembelajaran dan studi, aktivitas studi merupakan sebagian dari aktivitas pembelajaran secara keseluruhan.
    5. 5.      Pembelajaran dan berfikir, terdapat keterkaitan antara proses berfikir dengan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif  (terutama pembelajaran pemecahan masalah) sangat memerlukan keterampilan berfikir. Orang tidak mungkin berfikir tanpa belajar, dan tidak mungkin belajar tanpa berfikir.

 

BAB III

PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

  1. A.    Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran ialah proses individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa proses pembelajaran akan terjadi apabila individu menghadapi situasi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan insting atau kebiasaan. Proses pembelajaran akan merupakan suatu rangkaian aktivitas sebagai berikut:

Pertama, individu merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai.

Kedua, kesiapan (readiness) individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.

Ketiga, pemahaman situasi.

Keempat, menafsirkan situasi, yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek yang terdapat dalam situasi.

Kelima, tindak balas (response).

Keenam, akibat (hasil) pembelajaran.

  1. B.     Hasil Pembelajaran

Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah perubahan perilaku secara keseluruhan, bukan hanya salah satu aspek saja.

  1. C.    Jenis-Jenis Pembelajaran

Gagne membagi delapan jenis pembelajaran dari yang sederhana samapi dengan yang kompleks, yaitu:

  1. Signal Learning atau pembelajaran melalui isyarat.
  2. Stimulus Response learning atau pembelajaran rangsangan tindak balas.
  3. Chaining Learning atau pembelajaran melalui perantaian.
  4. Verbal Association Learning atau pembelajaran melalui perkaitan verbal.
  5. Discrimination Learning atau pembelajaran dengan membeda-bedakan.
  6. Concept Learning atau pembelajaran konsep.
  7. Rule Learning atau pembelajaran menurut hukum (aturan).
  8. Problem Solving Learning atau pembelajaran melalui penyelesaian masalah.

 

BAB IV

TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (1)

  1. A.    Peranan Teori dalam Pembelajaran dan Pengajaran

Empat fungsi umum suatu teori menurut Patrick Supper (1974), yaitu:

  1. Teori terdiri atas prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan kerangka untuk melaksanakan penelitian.
  2. Teori memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik.
  3. Menjadikan hal-hal yang bersifat kompleks menjadi lebih sederhana.
  4. Menyusun kembali dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Fungsi teori pembelajaran dalam pendidikan adalah:

  1. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pengajaran.
  2. Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang kelas.
  3. Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.
  4. Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarkan teori-teori tertentu.
  5. B.     Teori Pembelajaran Behaviorisme

Behaviorisme berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui perkaitan antara rangsangan (stimulus) dengan tindak balas (respons). Maka perubahan perilaku itu lebih banyak karena pengaruh lingkungan.

Teori ini dibedakan antara teori pelaziman klasik dan teori pelaziman operan,

  1. Teori Pelaziman Klasik, dipelopori oleh IP Pavlov, seorang ahli fisiologi dari Rusia mengemukakan beberapa konsep atau prinsip pembelajaran, yaitu:
    1. a.      Excitation (pergetaran)
    2. b.      Irradiation (penularan)
    3. c.       Stimulus generalization (generalisasi rangsangan)
    4. d.      Extintion (penghapusan)

Teori lain, JB Watson berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui pembentukan tindak balas (reflex) dengan memberikan rangsangan tertentu.

Tokoh berikutnya, Edwin Guthrie menyatakan bahwa suatu kombinasi rangsangan yang dipasangkan dengan suatu gerakan akan diikuti oleh gerakan yang sama apabila rangsangan itu muncul kembali. Ia juga membedakan antara pergerakan dengan tindakan. Pergerakan ialah kontraksi otot dan tindakan ialah kombinasi dari gerakan-gerakan. Guthrie mengemukakan ada tiga metode dalam mengubah kebiasaan (terutama kebiasaan buruk), yaitu:

  1. Metode ambang (the threshold method), secara berangsur.
  2. Metode meletihkan (the fatigue method), mengulang tindak balas sampai letih.
  3. Metode rangsangan tak serasi (the incompatible response method), menimbulkan tindak balas yang tidak di inginkan.
  4. Teori Pelaziman Operan: Thorndike

Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pembinaan hubungan antara rangsangan tertentu dengan perilaku tertentu. Ada tiga hukum pembelajaran dalam teori ini, yaitu hukum hasil (law of effect), hukum latihan (law of exercise) dan hukum kesiapan (law of readiness). Dalam kaitannya dengan pembelajaran dalam pendidikan Thorndike menembahkan lima macam hukum lagi yang disebut hukum minor, yaitu:

Pertama, hukum gerak tindak aneka (multiple response),

Kedua, hukum sikap atau keadaan awal (attitudes dispositions or state),

Ketiga, hukum kemampuan memilih hal-hal penting (partial or piecemeal activity of a situation),

Keempat, hukum tindak balas melalui analogi (assimilation of response by analogy)

Kelima, hukum perpindahan berkait (associative shifting)

  1. Teori Pelaziman Operan: Skinner

Perubahan perilaku itu adalah fungsi dari pada kondisi dan peristiwa lingkungan (yang tidak diketahui/tidak disadari). Pembelajaran menurut teori ini adalah perubahan suatu tindak balas yang dikehendaki. Dalam mengembangkan suasana kelas yang positif, teori skinner menyarankan peringkat-peringkat sebagai berikut: (1) menganalisis keadaan lingkungan kelas; (2) mengembangkan hal-hal yang dapat menjadi peneguhan positif; (3) memilih perilaku-perilaku pembelajaran yang akan diterapkan dalam kelas; (4) menerapkan perilaku pembelajaran, dengan memberikan pengendalian untuk mencatat dan menyesuaikan kalau diperlukan.

Tokoh lain dalam teori ini ialah Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan, ada empat unsur pokok dalam pembelajaran yaitu dorongan, isyarat, tindak balas, dan ganjaran. Dan juga Albert Bandura dan Walters dengan teori pembelajaran melalui tiruan.

  1. C.    Teori Pembelajaran Gestalt

Objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Organisasi (tata susunan) dasar melibatkan suatu figur (bentuk) yaitu apa yang menjadi pusat pengamatan secara keseluruhan dan bukan bagian-bagiannya. Pokok-pokok pandangan gestalt berangkat dari empat asumsi dasar, yaitu:

Pertama, bahwa perilaku molar (perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar) hendaknya lebih banyak dipelajari dibandingkan dengan pandangan molecular (perilaku dalam bentuk kontraksi otot/kelenjar)

Kedua, membedakan antara lingkungan geografis (lingkungan yang sebenarnya ada) dengan lingkungan behavioral (sesuatu yang nampak).

Ketiga, bahwa organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur-unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa.

Keempat, pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensori adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.

Menurut Koffka dan Kohler, ada enam prinsip organisasi yang terpenting, yaitu:

1)      Prinsip figure ground relationship (hubungan bentuk dan latar), setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua, yaitu figur atau bentuk dan latar belakang.

2)      Prinsip proximity (kedekatan), bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (bila waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai bentuk tertentu.

3)      Pronsip similarity (kesamaan), sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai sesuatu obyek yang saling memiliki.

4)      Prinsip common direction (arah bersama), unsu-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama, cenderung akan dipersepsi sebagai suatu figur atau bentuk tertentu.

5)      Prinsip simplivity (kesederhanaan), orang cenderung menata bidang pengamatannya dalam bentuk yang sederhana, penampilan reguler, dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.

6)      Prinsip closure (ketertutupan), orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengalaman yang tidak lengkap.

Dalam teori Gestalt, pembelajaran merupakan suatu fenomena kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang, atau peristiwa dalam cara-cara yang berbeda.

Beberapa aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran dan pengajaran, antara lain:

  1. Pengalaman Tilikan (insight), kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
  2. Pembelajaran yang Bermakna (meaningful learning), hal-hal yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
  3. Perilaku Bertujuan (purposive behavior), proses pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengenal tujuan yang akan dicapainya, dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut.
  4. Prinsip Ruang Hidup (life space), adanya padanan dan kaitan antara proses pembelajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan.
  5. Transfer dalam Pembelajaran, pemindahan pola-pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situasi lain.

 

BAB V

TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (2)

  1. A.    Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

Perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kualitatif berbeda dalam berfikir, yang terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui dua proses yaitu Organisasi (proses penataan segala sesuatu yang ada dilingkungan) dan Adaptasi (proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan).

Implikasi dari teori ini dalam pengajaran ialah:

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berdiskusi
  6. B.     Teori Pemrosesan Informasi (Robert Gagne)

Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pada pembelajaran, yakni bahwa hasil pembelajaran yang dicapai individu adalah merupakan kumpulan keseluruhan hasil-hasil pembelajaran sebelumnya yang saling terkait. Gagne berpendapat bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran. Dalam pemrosesan informasi itu terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal (keadaan didalam individu/proses kognitif yang terjadi) dan kondisi eksternal (rangsangan dari lungkungan yang mempengaruhi) individu.

Menurut teori ini, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari hasil pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capabilities) yang terdiri atas:

  1. Informasi verbal, informasi yang dinyatakan dalam bentuk kata/kalimat baik tertulis/lisan.
  2. Kecakapan intelektual, kecakapan dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.
  3. 3.      Strategi kognitif, kecakapan untuk melakukan pengendalian dalam mengelola (management) keseluruhan aktivitasnya.
  4. 4.      Sikap, kecakapan untuk memilih tindakan yang akan dilakuakan.
  5. 5.      Kecakapan motorik, kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Peringkat pemrosesan pembelajaran menurut teori Gagne, yaitu:

1)      Fase Motivasi, dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu.

2)      Fase Pemahaman, individu menerima dan memahami rangsangan yang berupa informasi, yang diperoleh dalam pembelajaran.

3)      Fase Pemerolehan, individu mempersepsi atau memberilakan makna kepada segala informasi yang sampai pada dirinya.

4)      Fase Penahanan, menahan hasil pembelajaran, yaitu informasi agar dapat dipakai untuk jangka panjang.

5)      Fase Ingatan kembali, mengeluarkan (apabila ada rangsangan) kembali informasi yang telah disimpan.

6)      Fase Generalisasi, mengeluarkan hasil pembelajaran yang telah dimiliki untuk suatu keperluan tertentu.

7)      Fase Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran.

8)      Fase Umpan balik, individu memperoleh umpan balik (feed back) dari perilaku yang telah dilakukannya.

Bentuk-bentuk pembelajaran menurut Gagne, yaitu:

¨      Pembelajaran melalui isyarat,

¨      Pembelajaran melalui rangsangan,

¨      Pembelajaran perantaian,

¨      Pembelajaran perkaitan verbal,

¨      Pembelajaran membeda-bedakan,

¨      Pembelajaran konsep,

¨      Pembelajaran menurut hukum, dan

¨      Pembelajaran penyelesaian masalah.

Langkah-langkah pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, ialah:

  1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.
  2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran dan topik-topik yang akan dibahas.
  3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
  4. Menyampaikan isi pelajaran yang dibahas sesuai dengan topik yang telah ditetapkan.
  5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
  6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.
  7. Memberikan umpan balik terhadap perilaku yang ditunjukan siswa.
  8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil pembelajaran.
  9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil pembelajaran.
  10. C.    Teori Pembelajaran Sosial-Kognitif (Albert Bandura)

Pertama, bahwa individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada dilingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain (perilaku model/contoh).

Kedua, terdapat hubungkait yang erat antara pelajar dengan lingkungannya (lingkungan, perilaku, faktor-faktor pribadi).

Ketiga, hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Jadi perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di lingkungan, pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, yaitu:

  1. Perilaku model (contoh),
  2. Pengaruh perilaku model,
  3. Proses internal belajar,

Fungsi perilaku model:

–          Untuk memindahkan informasi kedalam diri individu,

–          Untuk memperkuat atau memperlemah perilaku yang tlah ada,

–          Untuk memindahkan pola-pola perilaku yang baru.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran, ada tiga macam model:

  1. Live model, model yang berasal dari kehidupan nyata.
  2. Symbolic model, model-model yang berasal dari sesuatu perumpamaan.
  3. Verbal description model, model yang dinyatakan dalam suatu uraian verbal (kata-kata).

Model-model yang akan ditiru ditentukan oleh tiga faktor:

Pertama, ciri-ciri model (sesuai atau tidak dengan individu).

Kedua, nilai frestise (baik atau buruk untuk individu)

Ketiga, peringkat ganjaran intrinsik (kepuasan meniru suatu model)

Dalam mengembangkan proses pengajaran yang efektif, teori ini menyarankan strategi sebagai berikut:

1)      Mengidentifikasi model-model perilaku yang akan digunakan dalam kelas.

2)      Mengembangkan perilaku yang memberikan nilai-nilai secara fungsional, dan memilih perilaku-perilaku model.

3)      Mengembangkan urutan atau peringkat proses pengajaran.

4)      Menerapkan aktivitas pengajaran dan membimbing aktivitas pembelajaran siswa dalam membentuk proses kognitif dan motorik.

 

BAB VI

ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

  1. A.    Pengantar

Kegiatan belajar-mengajar merupakan inti kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Dalam prosesnya kegiatan ini melibatkan interaksi individu yaitu pengajar disatu pihak dan pelajar dipihak lain. Keduanya berinteraksi dalam suatu proses yang disebut proses belajar mengajar yang berlangsung dalam situasi belajar-mengajar.

Hubungan antara komponen-komponen dalam kegiatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

3

 

4

1

2

PERILAKU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 = pengajar yang berperilaku mengajar

2 = pelajar (siswa) yang berperilaku belajar

3 = interaksi pengajar-pelajar melalui proses belajar-mengajar

4    = situasi yang menunjang berlangsungnya proses belajar-mengajar

  1. B.     Siswa: Prilaku Belajar

Individu melakukan berbagai perbuatan dari yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks. Menurut Robert Gagne, bentuk perilaku dari yang sederhana ke yang paling komplek itu adalah:

  1. Mengenal tanda atau isyarat,
  2. Menghubungkan stimulus dengan respons,
  3. Merangkaikan dua respons atau lebih,
  4. Asosiasi verbal (menghubungkan lebel ke stimulus)
  5. Diskriminasi (menghubungkan respons yang berbeda ke stimulus yang sama),
  6. Mengenal konsep (menempatkan stimulus yang beda dalam kelas yang sama),
  7. Mengenal prinsip (membuat hubungan antara dua konsep atau lebih), dan
  8. Pemecahan masalah (penggunaan prinsip untuk merancang respons).

Dalam hubungannya dengan proses belajar, yang harus dikenal betul oleh para pengajar adalah:

Metakognisi, yakni pengetahuan seorang individu terhadap proses dan hasil belajar yang terjadi dalam dirinya serta hal-hal yang terkait.

Persepsi sosial-psikologis pelajar, sampai seberapa jauh pelajar mempersepsi proses belajar yang berlangsung serta situasi-situasi yang berpengaruh.

Tujuannya ialah supaya peserta didik mampu menjadi:

–          Pribadi yang mandiri, pribadi yang mengenal, menerima dan mengarahkan dirinya sendiri dan lingkungannya, dan pada gilirannya dapat mewujudkan dirinya secara optimal.

–          Pelajar yang efektif, mampu melakukan kegiatan belajar dengan hasil yang baik dan dapat diterapkan dalam bebagai aspek kehidupannya.

–          Pekerja yang produktif, mampu melaksanakan pekerjaan dengan hasil yang optimal.

–          Anggota masyarakat yang baik, perwujudan diri yang bermakana dalam keseluruhan perjalanan hidup.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut diatas maka hal yang harus dikembangkan pada siswa:

  1. Belajar untuk menjadi (learning to be), kegiatan belajar yang dilakukan siswa sehingga pada gilirannya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang mandiri.
  2. Belajar untuk belajar (learning to learn), bahwa apa yang dicapai dari satu pristiwa belajar, hendaknya mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut, baik secara horizontal (perluasan kegiatan belajar) maupun vertikal (mencapai hasil yang lebih tinggi).
  3. Belajar untuk berbuat (learning to do), apa yang dipelajari hendaknya menjadi modal dasar bagi keefektifan dan produktivitas bekerja.
  4. Belajar untuk hidup bersama (learning to live together), mengembangkan nilai-nilai kehidupan melalui tatanan hidup bersama atas dasar toleransi yang ditandai oleh nilai-nilai universal yang bersumber dari ajaran agama.
  5. C.    Guru: Prilaku Mengajar

Guru tidak terbatas hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan, akan tetapi lebih meningkat sebagai:

Perancang pengajaran, mengelola seluruh proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap anak dapat belajar secara efektif dan efisien.

Manajer pengajaran, senantiasa menimbulkan, memelihara, meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

Penilai hasil belajar siswa, secara terus menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang dicapai oleh siswa dari waktu kewaktu.

Direktur belajar, dapat mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam, sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya.

Dari itu, guru dituntut mampu mengenal dan memahami setiap siswa, baik secara individual atau kelompok; memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar; memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar dengan karakteristik pribadinya; membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya; menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.

Karakteristik pengaja yang diharapkan adalah:

  1. Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkannya.
  2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
  3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
  4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta didik.
  5. Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun metode.
  6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.

Pengajar akan mengajar dengan baik apabila:

1)      Memiliki sikap dasar yang benar dan:

–          Bertindak sebagai pembimbing dan kawan

–          Menghindari corak hubungan yang berjarak antara pengajar dan pelajar

–          Memahami tujuan dan kesulitan pelajaran; oleh karena itu, seyogyanya para pengajar:

ü  Bertemu dengan kelompok secara informasi untuk mengenal mereka secara mendalam.

ü  Berminat kepada pelajar disamping berminat kepada pelajaran.

2)      Memiliki sasaran yang benar dan:

–          Mewujudkan tujuan untuk mengembangkan pribadi belajar dan bukan memberikan informasi

–          Menyadari bahwa tujuan jangka panjang adalah perkembangan optimal dan pribadi belajar, sehingga tercapai ke puasan pribadi dan produkktivitas kerja yang optimal; oleh karena itu, para pengejar seyogianya:

ü  Menyiapkan rencana kegiatan belajar mengajar dengan sebaik-baiknya.

ü  Melaksanakan rencana tersebut dengan baik.

3)      Memiliki informasi faktual yang diperlukan; oleh karena itu mengajar seyogyanya:

–          Menemukan, memahami, dan memilih informasi yang memadai

–          Mempersiapkan pokok-pokok rangkuman materi

–          Menghargai dan memanfaatkan penemuan pelajar

4)      Memahami macam-macam metoda dan teknik, dan mengetahui bagaimana memilihnya, oleh karena itu, parapelajar seyogyanya:

–          Mampu memilih macam-macam metoda dan teknik pada setiap tahapan

–          Memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mendapatkan informasi, analisis, menilai dan menyatakan gagasan dengan jelas.

5)      Membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut, oleh karena itu, para pelajar seyogyanya:

–          Mendiskusikan masalah-masalah secara baik sebelum kegiatan belajar berakhir

  1. D.    Interaksi Pengajar – Pelajar

Proses (proses belajar, metode mengajar, pola-pola interaksi) saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil belajar.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan guru:

  • Penjabaran tujuan
  • Motivasi kepada siswa
  • Penggunaan model
  • Urutan materi
  • Bantuan dalam usaha pertama
  • Pengaturan latihan secara efektif
  • masalah perbedaan individual
  • evaluasi dan bimbingan
  • usaha menghafal
  • bantuan dalam aplikasi hasil belajar

Pola-pola interaksi, yaitu:

  1. Interaksi individual – individual,
  2. Individual – kelompok,
  3. Kelompok – individual,
  4. Kelompok – kelompok.
  5. E.     Model Pembelajaran

Salah satu model pembelajaran yang cukup konperehensif oleh Ernest Chang dan Don Simpson (1997) dengan nama “The Circle of Learning: Individual and Group Proses”. Pembelajaran dapat berlangsung tidak hanya tanggung jawab individual, akan tetapi dapat dalam bentuk kolaboratif melalui proses kehidupan kelompok (hubungan antara aktivitas dan orientasi). Dalam proses berlangsungnya pembelajaran ada dua dimensi, yaitu:

Dimensi Aktivitas Pembelajaran, aktivitas pembelajaran yang dilakukan dirinya sendiri dan kelompok sebaya.

Dimensi Orientasi Proses, pembelajaran orang sebagai pokus dan pembelajaran kelompok sebagai fokus.

Dari hubungan dua dimensi itu menghasilkan pola pembelajaran, yaitu:

  1. 1.      Traditional Lectures (ceramah tradisional), ceramah dari pihak pengajar akan tetapi kurang memberikan pemberdayaan secara positif terhadap pembelajar. Ciri utamanya ialah mendengarkan penjelasan pengajar, kegiatan dan lingkungan dikendalikan oleh pengajar, pengetahuan yang diperoleh tergantung penangkapan pembicaraan pengajar, sedikit dukungan teknologi, dan berlangsung dalam suasana otoriter.
  2. 2.      Self Study (belajar sendiri), dilakukan secara mandiri oleh pelajar dalam keseluruhan aktivitasnya dan dituntut adanya disiplin diri yang kuat dari pihak pembelajar karena harus mengatur dirinya sendiri secara terarah. Ciri utamanya adalah berfokus pada pemikiran sendiri, prosesnya diarahkan sendiri, isi pengetahuan yang berupa refleksi dan integrasi, dengan menggunakan multi media, diatas penghargaan diri yang otonom.
  3. 3.      Concurrent Learning (pembelajaran berbarengan), pembelajaran dilakukan atas dasar tanggung jawab pembelajar secara mandiri, namun dalam suasana berbarengan dengan yang lain dan saling berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung. Ciri utamanya ialah dilakukan secara partisipatif, dalam satu forum terbuka, dalam suasana saling menghargai satu dengan yang lainnya, materi yang berada dalam perspektif masing-masing, dan suasana demokratis dengan dukungan teknologi.
  4. 4.      Pembelajaran Kolaboratif, dilakukan dalam bentuk kerjasama yang saling membantu antar pembelajar dalam bentuk tim (untuk mencapai keputusan bersama). Ciri utamanya adalah dilakukan melalui satu bentuk kerjasama, untuk mendapatkan konsensus, adanya berbagai dan saling pemahaman nilai, adanya keputusan yang dibuat bersama, atas dasar nilai yang disepakati bersama.

Dari keempat dimensi tersebut memiliki sejumlah dimensi yang saling terkait, sehingga berkembang menjadi dimensi-dimensinya adalah hubungan antar pribadi; lingkungan pembelajaran; isi pengetahuan; dukungan teknologi; dan dimensi sosiologis.

BAB VII

ASPEK-ASPEK PRILAKU PEMBELAJARAN

  1. A.    Prinsip-Prinsip Motivasi dalam Pembelajaran

Beberapa alasan bahwa motivasi itu merupakan hal yang sangat penting;

  1. Para siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja sama dalam belajar dan senantiasa berada dalam situasi itu,
  2. Para siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan belajar,
  3. Motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam memelihara dan mengembangkan SDM melalui pendidikan.

Motivasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu.

Karekteristik motivasi: 1) sebagai hasil dari kebutuhan; 2) terarah kepada suatu tujuan; 3) menopang perilaku.

Alasan bahwa motivasi itu merupakan hal yang kompleks, yaitu:

1)      Motif yang menjadi sebab dari tindakan seseorang itu tidak dapat diamati, akan tetapi hanya diperkirakan

2)      Individu mempunyai kebutuhan atau harapan yang senantiasa berubah dan berkelanjutan

3)      Manusia memuaskan kebutuhannya dengan bermaca-macam cara

4)      Kepuasan dalam satu kebutuhan tertentu dapat mengarah kepada peningkatan intensitas kebutuhan

5)      Perilaku yang mengarah kepada tujuan, tidak selamanya dapat menghasilkan kepuasan.

Reaksi yang terjadi bila dalam pencapaian tujuan itu belaum berhasil menimbulkan keadaan yang disebut frustasi atau reaksi seseorang terhadap kegagalan dan ke-kecewaannya, ialah:

Pertama Reaksi yang tergolong konstruktif, individu mampu menghadapi kegagalan itu

Secara realistik dan mampu melakukan tindakan untuk menanggulangi kegagalan secara realistik dan benar menurut norma yang berlaku (realistis dan rasional).

Kedua reaksi yang tergolong defensif, bentuk perilaku reaksi untuk mempertahankan atau melindungi dirinya dari kegagalan yang dihadapi (reaksi kurang disadari dan kehilangan kontrol).

  1. B.     Kepuasan Belajar dan Motivasi

Faktor yang mempengaruhi kepuasan siswa dalam belajar:

  1. Imbalan hasil belajar, sesuatu yang dapat diperoleh siswa sebagai konsekuensi dari perilaku belajar yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan (berbentuk nilai atau angka).
  2. Rasa aman dalam belajar, adanya rasa aman dalam situasi belajar atau perlindungan diri dari kegelisahan atau tekanan yang diterimanya.
  3. Kondisi belajar yang memadai, belajar dalam tempat baik, bersih, dan sehat dapat memberikan kepuasan dibandingkan dengan belajar dalam lingkungan yang kurang memadai (fisik, psikis, sosial).
  4. Kesempatan untuk memperluas diri, kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan diri demi masa depannya yang lebih baik.
  5. Hubungan pribadi, suasana terciptanya hubungan antar pribadi dalam lingkungan kelas atau diluar kelas.

Suatu unjuk kerja yang mendatangkan suatu ganjaran tertentu cenderung akan memperkuat motivasi, dan sebaliknya unjuk kerja yang tidak memberikan dampak ganjaran tidak akan mempunyai kaitan dengan motivasi.

  1. C.    Prinsip-Prinsip Motivasi
    1.  Prinsip kompetisi, persaingan secara sehat baik inter pribadi (dalam diri pribadi masing-masing/dimensi tempat dan waktu) ataupun antar pribadi (individu yang satu dengan yang lain).
    2. Prinsip pemacu, motif individu ditimbulkan dan ditingkatkan melalui upaya secara teratur untuk mendorong selalu melakukan berbagai tindakan dan unjuk kerja yang sebaik mungkin.
    3. Prinsip ganjaran dan hukuman, ganjaran dan hukuman yang diterima seseorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan tindakan yang menimbulkan ganjaran atau hukuman itu.
    4. Kejelasan dan kedekatan tujuan, makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka akan semakin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan.
    5. Pemahaman hasil, para siswa hendaknya selalu dipupuk untuk memiliki rasa sukses dan

terhindar dari berkembangnya rasa gagal.

  1. Pengembangan minat, motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya.
  2. Lingkungan yang kondusif, lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis, dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif.
  3. Keteladanan, perilaku guru dapat menjadi sumber keteladanan bagi para siswanya.
  4. D.    Pengamatan dan Perhatian
    1. Pengamatan, suatu proses mengenal lingkungan dengan menggunakan alat indera, dengan proses pengamatan yang dimulai dari penerimaan rangsangan oleh alat indera, pengiriman informasi kepusat kesadaran atau otak, pemberian tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Beberapa gaya pengamatan individu, yaitu:

–          Gaya Pengamatan Visual, dengan menggunakan indera penglihatan atau mata.

–          Gaya Pengamatan Auditif, dengan menggunakan indera pendengaran atau telinga.

–          Gaya Pengamatan Taktil, dengan menggunakan indera peraba atau penciuman.

–          Gaya Pengamatan Kinestetik, pengamatan melalui gerakan.

Faktor-faktor ke efektifan suatu pengamatan, antara lain:

  1. Faktor Rangsangan, ada rangsangan yang diterima individu apabila jelas, kuat dan berarti.
  2. Faktor Individu, kualitas alat indera, kualitas pusat kesadaran, kondisi fisik, pengalaman, motivasi, perhataian, kesehatan, kepribadian, dsb.
  3. Faktor Lingkungan, lingkungan yang baik akan menunjang terjadinya pengamatan yang baik dan sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat proses pengamatan.

Macam-macam kelainan dalam pengamatan:

Ilusi, kelainan pengamatan dalam bentuk terjadinya perbedaan antara apa yang diamati dengan keadaan yang sebenarnya.

Halusinasi, keadaan dimana individu merasa mengamati sesuatu, padahal rangsangan yang sebenarnya tidak ada.

Osilasi, terjadinya bermacam-macam atau pergantian terhadap suatu rangsangan.

Hal-hal yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswa melakukan pengamatan yang baik dalam pembelajaran adalah:

1)      Pengamatan akan lebih efektif kepada rangsangan-rangsangan yang mempunyai struktur dan bentuk yang jelas, Hal-hal yang akan dipelajari hendaknya mempunyai struktur dan organisasi yang jelas.

2)      Pengamatan kepada sesuatu yang dekat akan lebih berkesan, siswa diberi banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan hal-hal yang akan dipelajari.

3)      Pengamatan dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, pada waktu guru mulai mengajar sebaiknya dimulai dengan pengalaman-pengalaman siswa.

4)      Pengamatan dimulai dengan keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian yang lebih khusus.

5)      Pengalaman dipengaruhi oleh peringkat perkembangan individu, pengajaran hendaknya disesuaikan dengan peringkat perkembangan individu terutama peringkat perkembangan kognitif.

6)      Terdapat perbedaan individual dalam pengamatan. Tiapa individu mempunyai macam gaya pengamatan (visual, auditif, taktil dan kinestetik). Oleh karena itu, pengajaran hendaknya disesuaikan dengan gaya pengamatan masing-masing siswa.

7)      Beberapa faktor dapat menimbulkan terjadinya kesalahan atau kelainan pengamatan, hindari hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan pengamatan, seperti rangsangan yang kurang jelas, kurangnya perhatian siswa, pengalaman dimasa lampau, kurang baiknya alat indera, lingkungan yang mengganggu, dsb.

  1. Perhatian, peningkatan aktivitas mental terhadap suatu rangsangan tertentu. Setiap individu mempunyai cara memberikan perhatian yang berbeda. Ada yang Terpencar, yaitu kemampuan memberikan perhatian kepada berbagai hal atau rangsangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan, dan ada yang Terpusat, yaitu kemampuan memberikan perhatian secara khusus kepada hal atau rangsangan tertentu.

Hal-hal yang mempengaruhi perhatian dari faktor rangsangan ialah:

1)      Intensitas atau kekuatan rangsangan, intensitas atau kekuatan yang lebih tinggi akan lebih menarik pehatian.

2)      Actractiveness atau daya tarik, rangsangan yang sangat berbeda dengan rangsangan lain di lingkungannya, sehingga mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian.

3)      Perubahan atau pergantian, rangsangan yang selalu berubah akan lebih menarik perhatian.

4)      Keteraturan, rangsangan yang datang berulang-ulang secara teratur.

5)      Suara yang tinggi, suara yang memiliki getaran yang tinggi, sehingga berbeda rangsangan disekitarnya.

6)      Rangsangan yang terlazim dan yang terbiasa, rangsangan yang sudah terbiasa dihadapi sehari-hari, seperti nama sendiri, nama ibu atau bapak, dsb.

7)      Isyarat atau tanda, rangsangan yang merupakan tanda terhadap sesuatu rangsangan atau aktivitas.

Hal-hal yang mempengaruhi perhatian dari faktor individu ialah:

1)      Minat, sesuatu yang diminati akan lebih menarik perhatian.

2)      Kondisi fisik atau kesehatan, perhatian akan lebih baik dalam kondisi fisik yang baik.

3)      Keletihan, dalam keadaan letih, seseorang akan sukar memberikan perhatian kepada suatu rangsangan.

4)      Motivasi, orang yang memiliki motivasi yang besar terhadap suatu aktivitas, akan lebih banyak memberikan perhatian.

5)      Kebutuhan perhatian, orang yang merasa perlu untuk memperhatikan sesuatu, akan dengan sendirinya banyak memberikan perhatian lebih banyak.

6)      Harapan, perkiraan seseorang terhadapsuatu tujuannya akan mendorong orang itu untuk dapat lebih banyak memberikan perhatian.

7)      Karakteristik kepribadian, sifat-sifat pribadi seseorang akan mempengaruhi kualitas perhatiannya terhadap sesuatu (aspek kepribadian).

Guru dapat membantu siswa dalam memusatkan memelihara perhatian dalam proses pembelajaran, dengan hal-hal sebagai berikut:

Isyarat, memberikan isyarat tertentu kepada siswa pada saat memulai atau pergantian pelajaran.

Gerakan, senantiasa bergerak dan berkeliling keseluruh kelas selama menyajikan pelajaran.

Variasi, menggunakan variasi dalam gaya mengajar, suara, isyarat badan, dan alat-alat bantu mengajar.

Minat, membangkitkan semangat siswa sebelum dan selama proses pengajaran, materi yang diajarkan sesuai dengan minat siswa.

Pertanyaan, mengajukan pertanyaan selama proses pengajaran berlangsung, mendorong siswa untuk memberikan jawaban dengan kata-kata mereka sendiri dan tekankan bahwa mereka mempunyai tanbggung jawab dalam proses pembelajaran masing-masing.

  1. E.     Mengingat dan Lupa

Mengingat merupakan proses menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi-informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran/otak (terdiri dari ingatan jangka panjang dan pendek) setelah diberikan tafsiran. Proses mengingat banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

–          Faktor individu, memiliki minat yang besar, motivasi yang kuat, memiliki metode dalam pengamatan dan pembelajaran, kondisi fisik dan kesehatan yang baik.

–          Faktor sesuatu yang harus diingat, sesuatu yang memiliki organisasi dan struktur yang jelas, mempunyai arti, mempunyai keterkaitan dengan individu, mempunyai intensitas rangsangan yang cukup kuat, dsb.

–          Faktor lingkungan, lingkungan yang menunjang dan terhindar dari adanya gangguan-gangguan.

Lupa ialah suatu keadaan dimana individu kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan kembali informasi yang telah tersimpan dalam ingatan jangka panjang atau jangka pendek. Lupa dapat disebabkan oleh:

  1. Keusangan, hilangnya informasi dari tempat penyimpanan ingatan karena tidak pernah dipakai.
  2. Gangguan informasi baru terhadap informasi lama atau sebaliknya.
  3. Gangguan dalam otak.
  4. Kesengajaan untuk dilupakan.
  5. F.     Transfer dalam Pembelajaran

Pemindahan hasil pembelajaran dari satu situasi kesituasi lain. Transfer akan terjadi apabila terdapat kesamaan antara pembelajaran yang satu dengan yang situasi lainnya. Ada dua macam transfer yaitu:

–          Transfer positif, hasil pembelajaran yang satu menunjang hasil pembelajaran yang lainnya, dan

–          Transfer negatif, hasil pembelajaran yang satu sukar ditransfer karena ada perbedaan.

  1. G.    Kebutuhan

Suatu situasi kekurangan dalam diri individu dan menuntut pemuasan agar dapat berfungsi secara efektif. Ada dua macam kebutuhan yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologi (hayat), disebut juga kebutuhan biologis yang meliputi jenis kebutuhan mendapatkan makanan, minuman, tidur dan istirahat, udara, pembuangan kotoran, sek dan bergerak.
  2. Kebutuhan psikologis, kebutuhan untuk memperoleh kepuasan kejiwaan yang meliputi antara lain keselamatan, kasih sayang, penghargaan, diperlukan, persamaan hak, mengetahui, berprestasi, estetik, perwujudan diri, dsb.

 

BAB VIII

PSIKOLOGI MENGAJAR

  1. A.    Proses Pengajaran yang Efektif
    1. 1.      Berpusat pada siswa, dalam proses pengajaran siswa merupakan subyek/perhatian utama dari para guru, segala bentuk aktivitas hendaknya diarahkan untuk membantu perkembangan siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam perwujudan diri siswa sebagai pribadi yang mandiri, pelajar efektif dan pekerja produktif.
    2. 2.      Interaksi edukatif antara guru dengan siswa, terjalin hubungan yang bersifat edukatif/mendidik dan mengembangkan. Guru harus menjadi figur yang merangsang perkembangan pribadi siswa. Adanya saling pemahaman antar guru dengan siswa.
    3. 3.      Suasana demokratis, semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensinya, sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, dan pada gilirannya dapat berinovasi dan berekreasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
    4. 4.      Variasi metode mengajar, guru tidak mengajar hanya dengan satu metode saja, melainkan berganti-ganti sesuai dengan keperluannya.
    5. 5.      Guru profesional, guru memiliki keahlian yang memadai dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Guru mencintai pekerjaannya dan melaksanakannya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.
    6. 6.      Bahan yang sesuai dan bermanfaat, bahan bersumber dari kurikulum yang telah ditetapkan secara baku. Tugas guru adalah mengolah bahan pengajaran menjadi sajian yang dapat dicerna (sesuai dengan kondisi dan lingkungan siswa) oleh siswa secara tepat dan bermakna, sehingga siswa melakukan aktivitas pembelajaran dengan lebih bergairah.
    7. 7.      Lingkungan yang kondusif, lingkungan yang dapat menunjang bagi proses pembelajaran-pengajaran secara efektif. Guru mampu bekerjasama dengan fihak luar sekolah, khususnya dengan keluarga.
    8. 8.      Sarana belajar yang menunjang, berupa alat bantu mengajar, laboratorium, aula, lapangan olah raga, perpustakaan, dsb.
  2. B.     Mengenal Model-Model Mengajar

Bruce Joyce dan Marsha Weil (1986, model of teaching. New Jersey: Prentice Hall International) mengemukakan ada sejumlah model mengajar yang dikelompokan dalam em[pat rumpun, yaitu:

  1. Rumpun model-model informasi, berorientasi pada kecakapan siswa dalam memproses informasi dan cara-cara mereka dapat memperbaiki kecakapan untuk menguasai informasi.
  2. Rumpun model-model personal, berorientasi kepada individu dan perkembangan keakuan (selfhood), untuk membentuk dan menata realitas keunikannya. Perhatian banyak diberikan kepada kehidupan emosional.
  3. Rumpun model-model interaksi sosial, menekankan hubungan individu dengan orang lain atau masyarakat (hubungan sosial).
  4. Rumpun model-model behavioral (perilaku), menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati. Penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari menjadi serangkaian perilaku dalam bentuk yang lebih kecil.
  5. C.    Mengembangkan Perbendaharaan Model-Model Mengajar

Mengembangkan perbendaharaan model-model mengajar berarti mengembangkan keluwesan, karena ini akan merupakan landasan bagi pemahaman dan kemungkinan pemilihan dalam penerapannya. Pada sisi pribadi, perbendaharaan menuntut kecakapan untuk menumbuhkan dan memperluas potensi seseorang, dan kemampuan untuk mengajar dengan cara-cara bervariasi dan menarika agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan yang ada.

  1. D.    Memilih Model untuk Dipelajari

Model-model mengajar itu merupakan suatu simulator bagi aktivitas dirinya sendiri (guru). Model-model itu sebagai landasan dalam mengkreasikan kegiatan mengajarnya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan situasi dan kondisi yang ada.

 

BAB IX

PSIKOLOGI GURU

  1. A.    Peranan Guru

Keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Disekolah guru berperan sebagai perancang pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil pembelajaran, dan sebagai pembimbing murid. Dalam keluarga guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga atau family educator. Sedangkan dimasyarakat guru berperan sebagai pembina masyarakat, pendorong masyarakat, penemu masyarakat, dan sebagai agen masyarakat.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, lebih jauh guru berperan sebagai:

  1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan.
  2. Wakil masyarakat disekolah, guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
  3. Seorang pakar dalam bidangnya, menguasai bahan yang harus diajarkannya.
  4. Penegak disiplin, guru harus menjaga agar siswa-siswa melaksanakan disiplin.
  5. Pelaksana administrasi pendidikan, guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
  6. Pemimpin generasi muda, guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan siswa sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan.
  7. Penterjemaah kepada masyarakat, guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Dipandang dari segi dirinya pribadi (self-oriented), seorang guru dapat berperan sebagai:

  1. Pekerja sosial, memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  2. Pelajar dan ilmuan, harus senantiasa belajar secara terus menerus.
  3. Orang tua, wakil orang tua disekolah bagi setiap siswa.
  4. Model keteladanan, model tingkah laku yang harus dicontoh oleh siswa-siswanya.
  5. Pemberi keselamatan, memberikan rasa keselamatan bagi setiap siswa.

Dari sudut pandang secara psikologis, guru adalah sebagai:

  1. Pakar psikologi pendidikan, memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
  2. Seniman dalam hubungan antar manusia, memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan siswa-siswa.
  3. Pembentuk kelompok, menciptakan kelompok dan aktivitas-aktivitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
  4. Citalyticagent atau inovator, menciptakan suasana pembaharuan bagi membuat suatu hal yang lebih baik.
  5. Petugas kesehatan mental, bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para siswa.
  6. B.     Kebutuhan dan Motivasi

Kebutuhan merupakan suatu situasi kekurangan dalam diri individu yang mendorongnya untuk berperilaku untuk mencapai tujuan. Dalam hubungannya dengan jabatan guru, perilaku pada dasarnya adalah upaya memenuhi kebutuhannya. Lima tingkatan kebutuhan manusia menurut A.H. Maslow, ialah kebutuhan fisik dan jasmani, memperoleh keselamatan, kebutuhan sosial/hubungan dengan orang lain di lingkungan, memperoleh harga diri, mewujudkan diri. Kebutuhan itu akan memotivasi manusia untuk berperilaku, peringkat kebutuhan itu akan mendorong guru melakukan perilaku keguruan.

Faktor yang mempengaruhi kerja guru, ialah:

  1. Imbalan kerja, guru merasakan memperoleh kepuasan kerja dari imbalan yang diterimanya.
  2. Rasa aman dalam pekerjaan, merasakan adanya keamanan lahir bathin dalam melaksanakan tugasnya.
  3. Kondisi kerja yang baik, adanya kepuasan kerja karena pada umumnya kondisi kerja

guru lebih baik dari kondisi lainnya.

  1. Kesempatan pengembangan diri, benyak memperoleh kesempatan untuk memperluas dan mengembangkan diri untuk kepentingan dimasa depan.
  2. Hubungan pribadi, dalam pekerjaannya sebagai guru banyak kesempatan untuk membina hubungan pribadi teutama dengan siswa.
  3. C.    Kompetensi Guru

Kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam kaitan dengan sesuatu tugas tertentu. Kompetensi guru meliputi:

–          Kompetensi personal, kemampuan pribadi yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

–          Kompetensi profesional, berbagai kemampuan pribadi yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional, mencakup kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya, dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.

–          Kompetensi sosial, kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain atau keterampilan dalam interaksi sosial dalam melaksanakan tanggung jawab sosial.

–          Kompetensi intelektual, penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru.

–          Kompetensi spiritual, kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai orang yang beragama.

Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A.M. MacKay, tentang pengajaran yang efektif (dalam Guy R. Lefrancois. 1991. Psychology for Teaching. Belmont, California, Wadwordh Publising Company, p.13-14) disarankan PERILAKU UNTUK MENGAJAR YANG EFEKTIF, sebagai berikut:

  1. Menggunakan suatu sistem aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal pribadi atau prosedur tetentu.
  2. Mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak keterusan.
  3. Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat.
  4. Bergerak keseluruh ruang kelas untuk mengamati seluruh siswa.
  5. Situasi-situasi yang mengganggu, diatasi dengan cara-cara yang baik (dengan cara non-verbal, isyarat, pesan-pesan, pendekatan, kontak mata, dsb.
  6. Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas.
  7. Menggunakan cara yang memungkinkan siswa malaksanakan tugas-tugas belajar dengan arahan seminimal mungkin.
  8. Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.
  9. Menggunakan cara-cara tertentu untuk mendapatkan perhatian siswa.
  10. Tidak memulai berbicara kepada kelas sebelum semua siswa memberikan perhatian.
  11. Menggunakan teknik-teknik mengajar yang bervariasi dan menyesuaikan pengajaran dengan keperluan pembelajaran.
  12. Menggunakan satu sistem pemeriksaan tugas-tugas.
  13. Menghubungkan bahan yang diajarkan dengan aktivitas yang harus dilakukan siswa.
  14. Menggunakan teknik-teknik yang memberikan kemudahan berpindah secara berangsur dari aktivitas yang konkrit ke yang lebih abstrak.
  15. Menggunakan campuran pertanyaan dari peringkat yang rendah dan tinggi.
  16. Menyadari apa yang sedang berlangsung didalam kelas.
  17. Dapat menghadirkan lebih dari satu hal dalam satu waktu.
  18. Mengatur perhatian pelajaran atau aktivitas secara mulus.
  19. Memelihara jalannya arahan pelajaran dengan baik.
  20. Memberikan penyajian secara jelas di dalam kelas.
  21. Dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.
  22. Menunjukan sikap memelihara, menerima, dan menghargai anak.
  23. Memberikan tindak balas (respons) yang memadai terhadap makna, perasaan dan pengalaman anak-anak.
  24. Mengarahkan pertanyaan kepada banyak siswa yang berbeda-beda, dan bukan hanya kepada siswa tertentu saja.
  25. Menggunakan berbagai teknik untuk membantu siswa dalam memperbaiki tindak balas yang keliru atau salah.
  26. Memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa.
  27. Menggunakan kritikan yang halus dalam mengkomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai.
  28. Menerima inisiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan, atau sasaran.
  29. D.    Profesionalisme Guru

Guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan (satu perwujudan solidaritas kebersamaan sesama guru untuk mencapai tujuan bersama) yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Unjuk kerja secara profesional mencakup berbagai dimensi secara terpadu, yaitu filosofi, konseptual, dan operasional. Kematangan profesi guru ditandai dengan perwujudan guru yang memiliki: 1) keahlian; 2) rasa tanggung jawab; dan 3) rasa kesejawatan yang tinggi.

Guru yang profesional ialah mereka yang memiliki keahlian, baik yang menyangkut materi keilmuan yang dikuasainya maupun keterampilan metodologinya, yang telah mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, lisensi, dan akreditasi dari pihak yang berwenang (pemerintah dan organisasi profesi).

Perwujudan unjuk kerja profesional guru di tunjang dengan jiwa profesionalisme yaitu sikap mental (intrinsik) yang senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan diri sebagai guru profesional. Profesionalisme guru mempunyai makna penting karena, profesionalisme memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum, merupakan satu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan, memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya.

Kualitas profesionalisme ditunjukan oleh lima unjuk kerja sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. Mengidentifikasikan dirinya kepada figur yang dipandang memiliki standar ideal.
  2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi. Keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perilaku profesional, seperti penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, postur, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dsb.
  3. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya, berusaha mencari dan memanfaatkan kesempatan yang dapat mengembangkan profesinya, antara lain: a) mengikuti kegiatan ilmiah (lokakarya, seminar dsb); b) mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan; c) melakukan penelitian atau pengabdian pada msyarakat; d) menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah; e) memasuki organisasi profesi.
  4. Mengejar kualitas dancita-cita dalam profesi, aktif dalam seluruh kegiatan dan perilakunya untuk menghasilkan kualitas yang ideal atau selalu memperbaiki diri untuk memperoleh hal-hal yang lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.
  5. Memiliki kebanggaan terhadap profesinya, memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesinya serta berdedikasi tinggi terhadap tugas-tugasnya sekarang, dan menyakini akan potensi dirinya bagi perkembangan dimasa depan..
  6. E.     Menampilkan Kepribadian

Keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi dan kondisi. Sifat utama guru adalah kemampuannya dalam mewujudkan penampilan

kualitas kepribadian dalam interaksi pendidikan yang sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan dapat tercapai secara efektif. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

Keterangan:

  1. Komponen Penampilan, kemampuan mewujudkan berbagai perilaku kinerja yang Nampak sesuai dengan bidang jabat dan tugasnya sebagai pendidik.
  2. Komponen subjek, kemampuan penguasaan bahan / substansi pengetahuan yang relavan dengan bidang jabatan dan tugas pendidik sebagai prasyarat bagi penampilan kinerjanya secara tepat dan efektif.
  3. Komponen Subyek, kemampuan penguasaan substansi pengetahuan dan keterampilin teknis keahlian khusus dalam bidang jabatan dan tigas pendidik yang diperoleh melalu
  4. Komponen Profesional, kemampuan penguasaan proses-proses mental-intelektual yang mencakup proses berfikir (logis, kritis rasional, kreatif) dalam pemecahan masalah, pembuatan keputusan, dsb. Sebagai prasyarat bagi terwujudnya penampilan kinerja pendidik.
  5. Komponen penyesuayan diri, kemampuan penyerasian dan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan berdasarkan karakteristik pribadi untuk mencapai keefektifan kinerja kependidikan.
  6. Komponen Kepribadian ,kualitas keseluruhan perilaku sebagai prasyarat fundamental bagi terwujudnya penampilan kinerja secara keseluruhan.

Kepribadian Efektif

Akan terwujud melalui berfungsinya keseluruhan fotensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Potensi manusiawi itu berbentuk daya nalar sebagai pilar penyangga dengan empat jenjang anak-anak tangga yang berupa: 1) Coping, kemampuan melakukan tindakan sehari-hari dengan baik; 2) Knowing, memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari; 3) Believing, kenyakinan yang melandasi berbagai tindakan; 4) Being, perwujudan diri yang otentik dan bermakna (William D.Htt,1993).

  1. Penalaran,
  2. Sumber-sumber daya, seseorang memerlukan atau daya berupa kecakapan untuk melakukan sesuatu, mempengaruhi pihak lain, dan mendapatkan hasil dari tindakannya. Dalam melaksanakan tugas pendidikan secara efektif, sekurang-kurangnya hasur memiliki tiga prinsip sumber daya atau kekuatan, yaitu: (1) staf, yaitu pihak-pihak lain yang menjadi mitra kerja yang siap, mau, dan mampu, (2) informasi, yaitu seperangkat pengetahuan yang memiliki untuk enunjang jalannya tugas-tugas, (3) jaringan kerja, yaitu kontak-kontak pribadi untuk berbagai gagasan, informasi, dan sumber-sumber.  
  3. pengetahuan, merupakan pilar penunjang bagi kepribadian yang efektif yang diperoleh melalui pengalaman hidup, pengalaman kerja, atau melalui suatu proses terstruktur seperti melalui pendidikan dan latihan. Untuk perwujudan kepribadian efektif, pengetahuan yang harus dikuasai secara utuh mencakup: (1) pengetahuan tentang diri sendiri, yaitu sejauh mana mengenal, memahami, dan menerima berbagai aspek tentang dirinya secara utuh dan benar; (2) pengetahuan tentang tugas atau pekerjaan, yaitu pemahaman mengenai berbagai tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan jabatan atau pekerjaannya; (3) pengetahuan tentang organisasi, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek organisasi tempat tugas; (4) pengetahuan tentang bisnis utma, yaitu pemahaman mengenai visi dan misi secara khusus organisasi tempat tugas; dan (5) pengetahuan tentang dunia, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek lingkungan dan perkembangannya, baik local maupun global.      
  4. Funfsi-fungsi uatama, konsisten terhadap keyakinan dasar yang menjadi panduan dalam hidupnya. Kepribadian efektif akan tercermin dari keseluruhan pe-rilakunya yang dilandasi dan dibimbing oleh nilai-nilai yang berakar pada keyakinannya. Atas dasar itu, ada enam fungsi dasar yang dilakukan oleh pendidik berkepribadian efktif yang meliputi; (1) valving, yaitu kemampuan penguasaan nilai-nilai yang baik da-lam lingkungan pendidikan dan mampu menterjemahkan nilai-nilai itu dalam praktek, (2) visioning, yaitu memiliki gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang diinginkan bagi pendidikan, (3) coaching, yaitu membantu orang lain mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yangdiperlukan untuk mencapaai visi, (4) empowering, yaitu memberdayakan orang lain untuk bergerak sampai visi, (5) team bulding, yaitu mengembangkan kebersamaan dengan orang-orang yang bersedia untuk bersama-sama mencapai visi, dan (6) promoting quality, yaitu mencapai suatu reputasi meningkatnya mutu kinerja lembaga pendidikan.           
  5. Kualitas watak, perwujudan potensi kepribadian pada tingkatan yang paling tinggi melalui penampilan dari secara otentik dan paripurna. Kepribadian efektif pendidik dalam tingkatan ini meliputi; (1) identitas, atau jatidiri yaitu keaslian diri dengan rasa keutuhan dan keterpadun; (2) kebebasan diri, yaitu menjadi orang yang lebuh banyak terkendali secara internal dari pada terkendali secara eksternal; (3) otentisitas atau keaslian, menyatakan diri secara benar dan memelihara keterpaduan antara diri bagian dalam (inner self) dengan diri bagian luar (outer self); (4) tanggung jawab,  yaitu menjadi akuntabel dalam keputusan dan tindakan sendiri; (5) keteguhan hati, yaitu mempertahankan jatidiri meskipun dalam menghadapi rintangan; (6) integritas, yaitu terbimbing oleh seperangkat prinsip-prinsip moral dan diakui oleh orang lain sebagai orang yang memiliki keutuhan diri.            
  6. F.     Menampilkan Kewibawaan

 

  1. G.    Fleksibilitas Kognitif dan Keterbukaan Psikologis

 

  1. H.    Etika, Etos, dan Kode Etik Guru

 

 

BUKU REFERENSI :

PROF. DR. H. MOHAMAD SURYA (2004). PSIKOLOGI PEMBELAJARAN & PENGAJARAN. BANDUNG : PUSTAKA BANI QURAISY

 

About Bang Akil Bent

Sudah Lahir Sudah Terlanjur...Mengapa Harus Menyesal...Hadapi Dunia Berani!!!

Posted on 12 April 2012, in Psikologi. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. THANKS Y ATS ARTIKELX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: