APLIKASI METODE PENDIDIKAN QUR`ANI DALAM PEMBELAJARAN AGAMA DI SEKOLAH

LAPORAN BUKU

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang mana berkat rahnmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan Laporan Buku “Psikologi Belajar Agama” ini tepat pada waktunya dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya dan sampai kepada kita selaku umatnya. Pada kesempatan ini, tidak lupa penulis ucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada: 1. Drs. H. SUHROWARDI, M.Ag., selaku Dosen 2. NANA SURYANA, S.Pd., M.Pd., Asst. Dosen Penulis menyadari bahwasannya laporan buku ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis berharap akan adanya kritikan dan saran dari berbagai pihak, yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan buku ini bisa bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi para pembaca. Amin.

Suryalaya, Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR         i

DAFTAR ISI                      ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Laporan 1

B. Tujuan Penulisan Laporan 1

C. Sistematika Penulisan Laporan 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Identitas Buku 3

B. Ruang Lingkup Permasalahan yang Dibahas 3

C. Cara Pengarang Menjelaskan dan Menyelesaikan Permasalahan 14

D. Konsep dan Teori Yang Dikembangkan serta Kesimpulan 14

E. Pendapat Anda Tentang Isi Buku 18

BAB III SIMPULAN

3.1 Simpulan 19

 

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penulisan Laporan

Dalam pelaksanaan Pendidikan Agama disekolah-sekolah, para guru agama mendapatkan kesulitan dalam menyajikan materi-materi pendidikan agama dalam suatu penyajian yang menarik, hal ini disebabkan karena mereka masih sangat terikat pada metode-metode yang dikembangkan di dunia barat yang tidak mengajarkan pendidikan agama disekolah. Apalagi materi-materi pendidikan agama yang disajikan tidak dengan berlandaskan pada nilai-nilai agama. Oleh sebab itu, tidaklah heran bila pendidikan agama islam disekolah lebih cenderung pada perkembangan aspek intelektual semata. Maka dari itu penulis memberikan ilustrasi dengan mengaplikasikan gagasan-gagasan pokok Al-qur’an dalam bentuk yang lebih realistis dengan harapan dapat menambah wawasan kepada guru agama islam dan menyadarkan kembali betapa banyaknya nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. B. Tujuan Penulisan Laporan Adapun tujuan dari pada penulisan Laporan Buku ini adalah : 1. Mengetahui landasan teoritis metode pendidikan Al-quran. 2. Memahami konsep pendidikan qur`ani. 3. Mengenal metode pendidikan Qur`ani dalam pendidikan Agama Islam di Sekolah. C. Sistematika Penulisan Laporan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Sistematika BAB II PEMBAHASAN 2.1 Identitas buku 2.2 Ruang lingkup permasalahan yang dibahas 2.3 Cara pengarang menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan 2.4 Konsep dan teori yang dikembangkan serta kesimpulan 2.5 Pendapat anda tentang isi buku

BAB III SIMPULAN 3.2 Simpulan

BAB II PEMBAHASAN

A. Identitas Buku Nama Pengarang : Dr.H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd Judul Buku : Aplikasi Metode Pendidikan Qurani Dalam Pembelajaran Agama Di Sekolah Tahun Terbit : 2005 Kota Penerbit : Tasikmaaya Penerbit : Pondok Pesantren Suryalaya Jumlah Halaman : 246 halaman B. Ruang Lingkup Permasalahan yang Dibahas 1. Pendidikan agama di sekolah Pendidikan agama islam di sekolah dapat difahami sebagai suatu program pendidikan yang menanamkan nilai-nilai islam melalui proses pembelajaran, baik di kelas maupun diluar kelas yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran dan di beri nama Pendidikan Agama Islan (PAI) yang merupakan salah satu media pendidikan islam dan mempunyai misi utama yaitu membina kepribadian siswa secara utuh dengan harapan kelak mereka akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada alloh swt, mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia Pelaksanaan pendidikan agama islam disekolah dewasa ini dihadapkan kepada dua tantangan besar, yakni: a. Tantangan eksternal Perubahan-perubahan yang terjadi akibat kemajuan IPTEK yang begitu cepat, pergaulan bebas, yang berdampak pada perubahan dalam berbagai segi kehidupan khususnya dapat mendorong terjadinya pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat. b. Tantangan internal Ada tiga hal yang menjadi tantangan internal pelaksanaan PAI disekolah, yaitu: – perbadaan pandangan masyarakat terhadap keberadaan PAI di sekolah – kurang jelasnya landasan filosofis pelaksanaan PAI di sekolah – peencanaan program PAI kurang jelas. Sehubungan dengan latar belakang yang telah penulis disampaikan, berkenaan dengan rumusan tujuan pendidikan islam, adapun tujuan dari pelaksanaan PAI di sekolah menurut para ahli, diantaranya: 1) Djawad Dahlan (1993), berpendapat bahwa dalam ajaran islam terdapat dua konsep ajaran rosululloh Saw yaitu mencapai derajat iman dan taqwa. Yang mana keduanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. 2) Sayyed Naquib Alattas (1993), tujuan pendidikan islam adalah menghasilkan manusia yang baik (Insan Kamil) 3) Athiah Al-Abrosyi (1985), tujuan hakiki pendidikan adalah kesempurnaan akhlak. 4) Muhammad abduh mamadukan dua tujuan pendidikan yaitu dengan membagi tugas akal dan tugas jiwa. – Akal dididik agar mendapatkan ilmu pengetahuan yang benar dan berguan bagi kehidupan. Contohnya dengan membedakan mana hal yang benar dan salah. – Sedangkan jiwa dididik untiuk memperoleh akhlak yang mulia yang dapat menjauhkan diri dari perbuatan yang tidak baik. Seseorang tidak akan mendapatkan ilmu yang hakiki kalau dirinya tidak dihiasi dengan akhlak yang mulia. 5) Ali syabani mengklasifikasikan tujuan pendidikan islam kedalam tiga tujuan asasi, yaitu: – Tujuan individual: pengetahuan, perubahan tingkah laku, pertumbuhan kedewasaan, dan kesiapan lain untuk mencapai kebahagian individual di dunia dan akhirat. – Tujuan sosial: perubahan, pertumbuhan, memperkaya pengalaman, dan kemajuan yang diinginkan dalam kehidupan bermasyarakat. – Tujuan-tujuan professional: pendidikan dan pengajaran ilmu, seni, profesi sebagai suatu aktifitas diantara aktifitas-aktifitas masyarakat. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Tujuan Pendidikan Islam bersifat final, ideal dan tidak akan pernah berubah. Intinya adalah kesempurnaan insani (insan kamil). Dimana ruhnya adalah akhlak sementara sasarannya adalah fisik, akal dan jiwa yang terpadu. tujuan ini sudah dapat dipastikan tidak akan tercapai bila diupayakan hanya di lembaga-lembaga formal tetapi mesti dilakukan oleh lembaga keluarga, sekolah dan masyarakat yang terintegrasi. Sementara, PAI disekolah umum merupakan bagian integral dari pendidikan islam, yaitu berfungsi sebagai salah satu media dalam mencapai tujuan pendidikan islam. 2. Landasan teoritis metode pendidikan qurani Seiring dengan lajunya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi, peranan pendidikan akan menjadi sangat penting, karena disamping kemajuan ilmu pengetahuan yang menuntut sumber daya manusia yang berkualitas (khalifah dimuka bumi), juga pendidikan berperan sebagai pengarah dari lajunya perkembangan pengetahuan itu sendiri, sehingga hasilnya tidak akan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Alquran memproduksikan dirinya sebagai pemberi petunjuk jalan yang lurus. Sebagaimana firman alloh dalam qs. Al-isra: 9 yaitu: “Sesungguhnya alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. Sehingga jelaslah bahwa kandungan al-quran bisa dijadikan sebagai materi pendidikan. Sepanjang peradaban islam, terbentuknya suatu generasi yang paling unggul adalah generasi sahabat rasul r.a, sebagai produk asli system pndidikan islam yang dilakukan oleh rasulullah saw dibawah bimbingan wahyu allah swt secara langsung. Adapun materi dan metode yang digunakan oleh nabi dalam mendidik para sahabatnya adalah materi dan metode yang diambil dari kitab suci al-quran yang esensinya tidak akan pernah berubah sepanjang hayat. Oleh sebab itu, bila kita ingin menghasilkan generasi yang berkualitas, maka seyogyanya kita mempola praktek pendidikan pada zaman rasulullah saw. a. Manusia sebagai makhluk pendidikan Dalam konteks pendidikan qurani, nabi dijadikan sebagai figure ideal seorang pendidik yang telah membuktikan dirinya sebagai orang yang mampu mengubah prilaku individu-individu bahkan umat yang terkenal memiliki sifat, karakter dan budaya yang keras dan kasar . nabi membimbing mereka menjadi pribadi-pribadi yang saleh cerdas, berani, dan sejumlah sifat-sifat yang tepuji lainnya, bahkan pribadi-pribadi itu melahirkan budaya yang tinggi dan beradab. Dalam pandangan pendidikan upaya nabi tersebutdikatakan sebagai suatu tidakan nyata penerapan metode pendidikan yang tepat dan sesuai sasaran pendidikannya, bukan suatu yang hanya kebetulan, melainkan sebagai tindakan yang disengaja berlandaskan kepada suatu pandangan yang benar tentang manusia dan nilai-nilai yang diyakininya.   b. Konsep Manusia dalam berbagai sudut pandang Pembahasan konsep manusia dalam pandangan islam berangkat dari suatu paradigma “Ilahiyah” yaitu bahwa manusia sebagai makhluk ciptaan allah swt. Untuk mengetahui makna dan hakekat manusia secara utuh semestinya bertanya kepada sang pencipta melalui wahyu (kitab suci) dan sunnah rasul. Pencarian makna manusia seperti ini menggunakan pendekatan deduktif, yakni berangkat dari suatu keyakinan akan kebenaran informasi Al-quran dan Al-Sunnah. Untuk Menelusuri pemahaman hakekat manusia dalam pandangan islam, al-syaibani (1979), menemukan delapan prinsip dasar pandangan islam tentang manusia yang digali dari al-quran dan al-sunnah dengan memahami berbagai aspek penafsiran yang dapat dihayatinya. Dari kedelapan prinsip dasar tersebut, ada tiga prinsip yang dapat dijadikan landasan dalam mengembangkan konsep pendidikan islam, yaitu: – Manusia sebagai makhluk allah yang dimuliakan – Manusia sebagai makhluk yang memiliki tiga dimensi yaitu: dimensi jiwa, dimensi akal, dan dimensi fisik – Manusia sebagai makhluk yang mempunyai potensi dasar yang cenderung menerimakeberadaan tuhandan dapat berfikir positif, lurus atau “hanif” (Q.S Ar-Rum: 30), memiliki motivasi, kecerdasan, kebutuhan, perbedaan individual, dapat dipengaruhi dan suka berubah sehingga sangat memungkinkan untuk dapat dididik. 3. Konsep pendidikan qurani Ada tiga istilah yang digunakan oleh para ahli pendidikan islam dalam mengartikan pendidikan, yaitu: Ta’lim, Ta’dib, dan Tarbiyah. Bila kita merujuk pada istilah Al-qur’an, tampaknya kata yang paling tepat untuk mengartikulasikan makna pendidikan adalah istilah Tarbiyah. Kata Tarbiyah di ambil dari istilah al-qur’an, berasal dari kata Rabbi yang lazimnya di artikan tuhan. sebagaimana sifat tuhan, dia maha pemilik, pengarah, pembimbing, pemberi petunjuk dan pemelihara semua makhluknya. Dalam konteks ini Tarbiyah (pendidikan) diartikan sebagai suatu proses pemberian petunjuk bagi yang belum tahu jalan, bimbingan bagi manusia muda untuk mencapai kedewasaan, dan pengarahan bagi manusia yang sudah memiliki pengetahuan. Pendidikan akan berlangsung sepanjang hayat dan tidak ada seorangpun manusia yang tidak mengalami pendidikan. Sedangkan Pendidikan Qurani dapat di definisikan sebagai “Suatu upaya manusia daam membina, membimbing, dan menjaga kesuciannya agar menjadi manusia yang sempurna. segala upaya tersebut sesuai dengan isyarat dan petunjuk Al-quran dan Sunnah”. Karena objek dan subjek pendidikan itu adalah manusia, maka yang dimaksud landasan pendidikan qurani ini berangkat dari konsepsi manusia menurut alquran, yaitu: makhluk ciptaan allah yang dibekali dengan potensi yang lengkap. Sedangkan tujuan pendidikan qurani identic dengan tujuan hidup manusia menurut al-quran, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat yakni manusia yang sempurna atau manusia seutuhnya. Pada prinsipnya, pelaksanaan pendidikan qurani mempola pada prilaku nabi muhammad saw dalam membina keluarga dan para sahabatnya, karena segala apa yang dilakukan oleh nabi merupakan manifestasi dari kandungan Al-Quran. Namun pada pelaksanaannya nabi memberikan peluang mengembangkan cara sendiri para pngikutnya selama cara tersebuttidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh nabi sendiri. Dari definisi tersebut, dapat dikembangkan maknanya bahwa konsep pendidikan qurani adalah suatu usaha yang dilakukan baik oleh perorangan atau klompok, informal maupun non formal dalam rangka mempersiapkan suatu generasi yang memiliki kepribadian muslim dengan figure ideal nabi Muhammad saw. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara: a. Menjaga dan melindungi potensi pesera didik b. Mengembangkan segala potensi dan bakat yang dimiliki peserta didik kearah yang lebih baik c. Mengarahkan kedewasaan rohani dan jasmani peserta didik menuju kesempurnaan d. Proses pendidikan dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, utuh dan terus menerus. 4. Model- model pendidikan Dalam pengertian yang luas, model pembelajaran merupakan suatu strategi, rencana dan pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mngaur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya. Salah satu aspek penting dalam model pembelajaran adalah metode atau cara menyampaikan materi pengajaran. Pada hakekatnya model pembelajaran itu adalah suatu bentuk proses dimana pengajar mampu menciptakan lingkungan yang baiksehingga terjadi kegiatan belajar secara optimal. Dalam ilmu pendidikan banyak ditemukan model-model mengajar seperti bruc joyce dan marsha weil dalam bukunya models of teaching (1992) menemukan 11 model pembelajaran yang dihimpun ke dalam empat rumpunmodel, yakni: 1) Informational processing model (Model pemrosesan informasi) Model ini menjelaskan bagaiman cara individu memberi respon yang datang dari lingkungannya dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah serta penggunaan symbol-simbol verbal dan non verbal. Diantaranya:   a. Model yang menitikberatkan perhatiannya kepada proses murid memecahkan masalah b. Model yang mengutamakan kecakapan intelektual umum c. Model yang menonjolkan interaksi social dan hubungan antara pribadi serta perkembangan kepribadian murid yang terintegrasi dan fungsional. 2) Personal model (Model pribadi) Personal model adalah model yang berorientasi kepada perkembangan diri individu. Penekanannya lebih diutamakan kepada proses yang membantu individu membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik. Dengan model ini murid diharapkan dapat melihat diri mereka sebagai pribadi yang berada dalam suatu kelompok dan cukup mempunyai kecakapan yang dapat menghasilkan hubungan inter-peronal yang cukup kaya. 3) Social model (Model interaksi sosial) Pada rumpun model mengajar ini, individu dihadapkan kepaa situasi yang cukup demokratis dan dapat bekerja lebih produktif dalam masyarakat. 4) Behavioral model (Model prilaku) Adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan 5. Aplikasi Metode Pendidikan Qurani dalam Pembelajaran Agama di Sekolah a. Metode amstsal al-quran ialah menonjolkan makna dalam bentuk (perkataan) yang menarik dan padat serta mempunyai pengaruh yang dalam terhadap jiwa, baik berupa tasybih maupun perkataan bebas (lepas) bukan tasybih. b. Tujuan metode amtsal diantaranya adalah : 1) Mudah mengingat suatu hal yang sering ditemukan 2) Mudah beranalogi untuk mendapatkan kesimpulan yang benar dan melatih berfikir manusia. 3) Memahami konsep yang absrak secara mudah. 4) Mampu mengambil pelajaran dari perumpamaan yang diberikan Allah swt., dalam al-quran. c. Model-Model Amtsal Dalam Al-Quran 1) Amtsal mussarahah, amtsal yang di dalamnya dijelaskan dengan lafad atau sesuatu yang menunjukan tasybih. 2) Amtsal kaminah, amtsal yang didalamnya tidak disebutkan secara jelas lafad tamtsil (pemisalan) tetapi ia menunjukan makna-makna yang indah dan menarik dalam kepadatan redaksionalnya. 3) Amtsal mursalah, merupakan kalimat yang tidak menggunakan tasybih secara jelas. d. Aplikasi metode amtsal di sekolah 1) guru mengungkapkan pokok bahasan yang hendak disajikan guru. 2) Guru memberikan free test lisan secara sepontan. 3) Guru mengangkat ayat-ayat tamtsil yang relevan dengan pokok bahasan. 4) Guru menerangkan konsep infak dijalan Allah swt. dengan media gambaran suatu buji yang ditanam secara baik dan benar. 5) Pada waktu kegiatan pembelajaran berlangsung, guru mengembangkan pokok bahasan. e. Metode kisah qurani Pemberitaan al-quran tentang hal ikhwal umat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu. 1) Karakteristik kisah qurani Gaya bahasa indah mempesona dan sederhana serta mudah dipahami, 2) materinya bersifat universal, 3) materinya tidak membosankan, 4) kebenarannya dapat dibuktikan, 5) merangsang pembaca untuk berfikir. Adapun tujuan dari kisah qurani, ialah : 1) untuk memberikan argumentasi yang kuat. 2) Meluruskan informasi yang salah 3) Memberikan bukti akan kerasulan 4) Memberikan argumentasi yang benar 5) Menjelaskan keseluruhan ajaran yang dibawa Rasul 6) Memberikan motivasi pada para pembela dan penyebar risalah Allah swt. 7) Memberikan peringatan kepada manusia 8) Memberikan informasi tentang akhirat. Manfaat metode ini ialah : 1) Memnejelaskan asas-asas dakwah islam menuju Allah 2) Meneguhkan hati Rasul dan umat Muhammad saw atas agama Allah 3) Mengembalikan jejak dan peninggalan para nabi terdahulu. 4) Menginfakan kebenaran nabi Muhammad saw. dalam dakwah 5) Menymak kebohongan ahli kitab dengan hujah Macam-macam kisah qurani diantaranya, Kisah para Nabi, kisah-kisah yang terjadi pada orang terahulu, dan kisah yang terjadi pada masa Rasulullah. f. Metode ibrah mauidzah Merupakan suatu metode Mengambil pelajaran dari peristiwa/pengalaman orang lain melalui nasihat-nasihat yang baik yang dapat menyentuh perasaan murid. Tujuan dari metode ini ialah : untuk menumbuhkan aqidah tauhid, mengantarkan pendengan pada suatu kepuasan berfikir akan salah satu aqidah, menggerakan perasaan rabbaniyah, mengarahkan dan mengokohkan serta menumbuhkan aqidah tauhid. Bentuk ibrah dan mauidzah dalam al-quran ialah : 1) Ibrah dari kisah Qurani dan nabawi 2) Ibrah dari makhluk Allah dan nikmatnya 3) Ibrah melalui peristiwa sejarah. 4) Nasihat langsung. 5) Tadzkir. Apikasi metode ibrah mauidzah dalam pengajaran sebagai cara yang digunakan al-quran dan sunah dalam mendidik manusia agar senantiasa taat, patuh pada perintah Allah swt., sebagai metode mengajar metode ini dapat digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa saat berlangsungnya proses pengajaran. Langkah-langkah penggunaannya sebagai berikut : 1) Tahap Pra-Instruksional (persiapan) 2) Tahap Penerapan metode ini dalam proses belajar mengajar. g. Metode targhib-tarhib Merupakan strategi untuk meyakinkan seseorang terhadap kebenaran Allah melalui janji-Nya yang disertai dengan bujukan untuk melakukan amal soleh. Tujuan dari pada metode ini adalah untuk mempengaruhi jiwa peserta didik, karena kecintaan, keindahan dan kesengsaraan merupakan naluri setiap manusia. Bentuk-bentuk dari metode ini diantaranya : 1) Bentuk targib rangsangan 2) Bentuk targib ancaman   C. Cara Pengarang Menjelaskan dan Menyelesaikan Permasalahan Dalam penjelasannya pengarang menggunakan pola deduktif, yaitu ide-ide yang telah dirumuskan dalam kalimat diatur dengan ide yang bersifat umum (premis mayor), diletakan pada bagian awal dan di ikuti dengan ide yang bersifat khusus. Ini terlihat dalam penguraiannya pada tiap bab, yang mana dalam penataannya direalisasikan dengan menampilkan kalimat topik terlebih dahulu (pada awal bab), kemudian dilanjutkan dengan kalimat penjelas. Pengarang dalam bukunya “Aplikasi Metode Pendidikan Qurani Dalam Pembelajaran Agama Di Sekolah” menuturkan bagaimana sebuah kegiatan pembelajaran berjalan efektif dengan sebuah metode yang tepat guna. D. Konsep dan Teori Yang Dikembangkan serta Kesimpulan 1. Pendidikan agama di sekolah Pendidikan agama islam di sekolah dapat difahami sebagai suatu program pendidikan yang menanamkan nilai-nilai islam melalui proses pembelajaran, baik di kelas maupun diluar kelas yang dikemas dalam bentuk mata pelajaran dan di beri nama Pendidikan Agama Islan (PAI) yang merupakan salah satu media pendidikan islam dan mempunyai misi utama yaitu membina kepribadian siswa secara utuh dengan harapan kelak mereka akan menjadi ilmuwan yang beriman dan bertakwa kepada alloh swt, mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia 2. Landasan teoritis metode pendidikan qurani Seiring dengan lajunya pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi, peranan pendidikan akan menjadi sangat penting, karena disamping kemajuan ilmu pengetahuan yang menuntut sumber daya manusia yang berkualitas (khalifah dimuka bumi), juga pendidikan berperan sebagai pengarah dari lajunya perkembangan pengetahuan itu sendiri, sehingga hasilnya tidak akan merusak nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga jelaslah bahwa kandungan al-quran bisa dijadikan sebagai materi pendidikan. Sepanjang peradaban islam, terbentuknya suatu generasi yang paling unggul adalah generasi sahabat rasul r.a, sebagai produk asli system pndidikan islam yang dilakukan oleh rasulullah saw dibawah bimbingan wahyu allah swt secara langsung. Adapun materi dan metode yang digunakan oleh nabi dalam mendidik para sahabatnya adalah materi dan metode yang diambil dari kitab suci al-quran yang esensinya tidak akan pernah berubah sepanjang hayat. 3. Konsep pendidikan qurani Kata Tarbiyah di ambil dari istilah al-qur’an, berasal dari kata Rabbi yang lazimnya di artikan tuhan. sebagaimana sifat tuhan, dia maha pemilik, pengarah, pembimbing, pemberi petunjuk dan pemelihara semua makhluknya. Dalam konteks ini Tarbiyah (pendidikan) diartikan sebagai suatu proses pemberian petunjuk bagi yang belum tahu jalan, bimbingan bagi manusia muda untuk mencapai kedewasaan, dan pengarahan bagi manusia yang sudah memiliki pengetahuan. Pendidikan akan berlangsung sepanjang hayat dan tidak ada seorangpun manusia yang tidak mengalami pendidikan. sedangkan Pendidikan Qurani dapat di definisikan sebagai “Suatu upaya manusia daam membina, membimbing, dan menjaga kesuciannya agar menjadi manusia yang sempurna. segala upaya tersebut sesuai dengan isyarat dan petunjuk Al-quran dan Sunnah”. Karena objek dan subjek pendidikan itu adalah manusia, maka yang dimaksud landasan pendidikan qurani ini berangkat dari konsepsi manusia menurut alquran, yaitu: makhluk ciptaan allah yang dibekali dengan potensi yang lengkap. Sedangkan tujuan pendidikan qurani identic dengan tujuan hidup manusia menurut al-quran, yaitu mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat yakni manusia yang sempurna atau manusia seutuhnya. 4. Model- model pendidikan Dalam pengertian yang luas, model pembelajaran merupakan suatu strategi, rencana dan pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mngaur materi pengajaran dan memberi petunjuk kepada pengajar dalam setting pengajaran ataupun setting lainnya. Salah satu aspek penting dalam model pembelajaran adalah metode atau cara menyampaikan materi pengajaran. Pada hakekatnya model pembelajaran itu adalah suatu bentuk proses dimana pengajar mampu menciptakan lingkungan yang baiksehingga terjadi kegiatan belajar secara optimal. Dalam ilmu pendidikan banyak ditemukan model-model mengajar seperti bruc joyce dan marsha weil dalam bukunya models of teaching (1992) menemukan 11 model pembelajaran yang dihimpun ke dalam empat rumpunmodel, yakni: 1) Informational processing model (Model pemrosesan informasi) Model ini menjelaskan bagaiman cara individu memberi respon yang datang dari lingkungannya dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah serta penggunaan symbol-simbol verbal dan non verbal. 2) Personal model (Model pribadi) Personal model adalah model yang berorientasi kepada perkembangan diri individu. Penekanannya lebih diutamakan kepada proses yang membantu individu membentuk dan mengorganisasikan realita yang unik. Dengan model ini murid diharapkan dapat melihat diri mereka sebagai pribadi yang berada dalam suatu kelompok dan cukup mempunyai kecakapan yang dapat menghasilkan hubungan inter-peronal yang cukup kaya. 3) Social model (Model interaksi sosial) Pada rumpun model mengajar ini, individu dihadapkan kepaa situasi yang cukup demokratis dan dapat bekerja lebih produktif dalam masyarakat. 4) Behavioral model (Model prilaku) Adanya kecenderungan memecahkan tugas belajar kepada sejumlah perilaku yang kecil-kecil dan berurutan 5. Metode kisah qurani Pemberitaan al-quran tentang hal ikhwal umat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu. 6. Metode ibrah mauidzah Merupakan suatu metode Mengambil pelajaran dari peristiwa/pengalaman orang lain melalui nasihat-nasihat yang baik yang dapat menyentuh perasaan murid. Apikasi metode ibrah mauidzah dalam pengajaran sebagai cara yang digunakan al-quran dan sunah dalam mendidik manusia agar senantiasa taat, patuh pada perintah Allah swt., sebagai metode mengajar metode ini dapat digunakan oleh guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa saat berlangsungnya proses pengajaran. 7. Metode targhib-tarhib Merupakan strategi untuk meyakinkan seseorang terhadap kebenaran Allah melalui janji-Nya yang disertai dengan bujukan untuk melakukan amal soleh.   E. Pendapat Anda Tentang Isi Buku Buku ini memberikan wawasan kepada kita tentang bagaimana suatu agama itu dapat diterima, dengan metode yang sesuai. Dan yang menarik disini ialah kata-katanya yang cukup sederhana, sehingga memungkinkan kita mudah untuk memahaminya.   BAB III SIMPULAN A. Simpulan 1. produk asli system pndidikan islam yang dilakukan oleh rasulullah saw dibawah bimbingan wahyu allah swt secara langsung. Adapun materi dan metode yang digunakan oleh nabi dalam mendidik para sahabatnya adalah materi dan metode yang diambil dari kitab suci al-quran yang esensinya tidak akan pernah berubah sepanjang hayat. Oleh sebab itu, bila kita ingin menghasilkan generasi yang berkualitas, maka seyogyanya kita mempola praktek pendidikan pada zaman rasulullah saw. 2. konsep pendidikan qurani adalah suatu usaha yang dilakukan baik oleh perorangan atau klompok, informal maupun non formal dalam rangka mempersiapkan suatu generasi yang memiliki kepribadian muslim dengan figure ideal nabi Muhammad saw. 3. Metode Pendidikan qur`ani dalam pendidikan agama islam di sekolah : a. Metode kisah qurani Pemberitaan al-quran tentang hal ikhwal umat terdahulu, baik informasi tentang kenabian maupun tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat terdahulu. b. Metode ibrah mauidzah Merupakan suatu metode Mengambil pelajaran dari peristiwa/pengalaman orang lain melalui nasihat-nasihat yang baik yang dapat menyentuh perasaan murid. c. Metode targhib-tarhib Merupakan strategi untuk meyakinkan seseorang terhadap kebenaran Allah melalui janji-Nya yang disertai dengan bujukan untuk melakukan amal soleh. Oleh : LILIH YULIANTI AZIZ (IAILM SURYALAYA)

About Bang Akil Bent

Sudah Lahir Sudah Terlanjur...Mengapa Harus Menyesal...Hadapi Dunia Berani!!!

Posted on 26 April 2012, in Serpihan Perkuliahan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: