PENGELOLAAN KELAS??? HARUS!!!

BAB I

PENDAHULUAN

 

Mengapa menciptakan kondisi belajar yang efektif itu penting?

Tentu saja itu penting!

Karena pada kenyataannya di sekolah-sekolah sekarang hanya gurunya saja  yang aktif, dan guru jarang kesempatan pada siswa untuk aktif. Jika siswa seperti it uterus-menerus begitu juga dengan gurunya maka tujuan belajar tidak akan tercapai dan tidak berhasil.

Berkaitan dengan masalah tersebut seorang guru harus bias menciptakan suatu pembelajaran yang suasananya menarik dan diminati oleh siswa. Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar akan strategi mengajar atau bias juga seorang guru menciptakan suatu kondisi belajar mangajar yang efektif yang melibatkan keaktifkan siswa secara penuh, karena pembelajaran efektif ini salah satunya yaitu dengan melibatkan keterlibatan dan keaktifan siswa.

Dalam pembelajaran efektif ini peran guru sangat penting dan dibutuhkan dalam mengelola suatu pembelajaran agar tujuan belajar dapat tercapai dan berhasil sehingga pembelajaran yang berlagsung menjadi efektif dan menyenangkan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

KONDISI BELAJAR-MENGAJAR YANG MENYENANGKAN

 

  1. Apa yang dimaksud dengan kondisi belajar-mengajar yang efektif?

Pembelajaran efektif bagi seorang guru itu penting, karena guru memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakannya.

Kondisi pembelajaran yang efektif merupakan salah satu kondisi pembelajaran yang harus diciptakan oleh seorang guru, agar tujuan pembelajaran yang harus diciptakan oleh seorang guru, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Berikut adalah 5 variabel dalam menciptakan kondisi belajar-mengajar efektif.

  1. Melibatkan siswa secara aktif

Menurut (William Burton, 1944 : 21) mengajar adalah “teaching is the guidance of learning activities teaching is for purpose of aiding the pupil learn.” Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar. Aktifitas murid sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga muridlah yang seharusnya banyak aktif. Tetapi pada kenyatannya, di sekolah-sekolah sering kali guru yang akif sehingga murid tidak diberi kesempatan untuk aktif.

Aktivitas belajar murid dapat digolongkan ke dalam beberapa hal :

a)      Aktivitas visual (visual activities) : membaca, menulis, demonstrasi.

b)      Aktivitas lisan (oral activities) : bercerita, tanya jawab, menyanyi

c)      Aktivitas mendengarkan (listening activities) : mendengarkan penjelasan guru, ceramah.

d)      Aktivitas gerak (motor activities) : senam, menari dan melukis.

e)      Aktivitas menulis (writing activities) : membuat makalah, mengarang.

Salah satu upaya dalam menciptakan pembelajaran efektif, yaitu dengan sistem CBSA, yaitu belajar mengajar yang menyengkan keaktifan siswa secara fisik dan mental, intelektual dan emosional, untuk memperoleh belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, efektif, psikomotorik.

CBSA ini mengandung unsur keaktifan siswa, meskipun kadar keaktifannya berbeda-beda.

Menurut (T. Raka Joni, 1980) keaktifan dalam CBSA menunjuk pada keaktifan mental meskipun untuk mencapai maksud ini dalam banyak al dipersyaratkan ketertiban langsung dalam berbagai keaktifan fisik.

  1. Cara memperbaiki ketertiban kelas
  2. Cara meningkatkan keerlibatkan siswa :
    1. Kenalilah dan bantulah siswa yang kurang trlibat
    2. Siapkanlah siswa secara tepat.
    3. Sesuaikan pengajaran yang dibutuhkan dan individu siswa.
  1. Abadikanlah waktu yang lebih banyak untuk kegiatan-kegiatan belajar mengajar.
  2. Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam belajar mengajar.
  3. Masa transisi antara berbagai kegiatan mengajar dilakukan secara tepa dan luwes.
  4. Berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat.
  5. Usahakanlah agar pengajaran dapat lebih menarik siswa.

Interpensi : jadi dalam hal ini, seorang guru harus melibatkan keaktifan siswa secara secara keseluruhan dan juga harus bisa mengetahui kadar keaktifan siswanya yang berbeda-beda.

Kebanyakan di sekolah-sekolah guru tidak atau jarang member kesempatan siswanya untuk aktif, karena guru terlalu asyik sehingga dengan materi pelajaran yang disampaikan.

  1. Menarik minat dan perhatian siswa

Minat ini besar sekali pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan tidak ada minat maka seseorang tidak akan melakukan sesuatu atau sebaliknya dengan adanya minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya.

Ada 2 tipe perhatian dalam belajar mengajar :

a)      Perhatian terpusat (terkonsentrasi)

Perhatian ini hanya tertuju pada satu objek saja. Contoh : misal seseorang anak sedang belajar, ia tidak memperhatikan adiknya yang sedang menangis perhatiannya hanya terpusat pada belajar.

Dalam pembelajaran di kelas, siswa hendaknya menggunakan perhatian terpusat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, guru menggunakan berbagai alat peraga dalam penyajian materi.

b)      Perhatian terbagi (tidak terkonsentrasi)

Perhatian ini tertuju pada berbagai hal dan objek secara sekaligus.

Contoh : seorang guru yang sedang mengahar memperhatikan bahan pelajarannya, memperatikan sikap murid, dan juga memperhatikan apa yang diucapkannya.

Interprestasi : Minat itu penting, jika dalam diri siswa tidak ada minat, maka dalam mengikuti pembelajaran siswa tersebut akan merasa tidak semangat, jenuh, bosan sehingga belajarnya tidak tercapai. Maka dari itu guru harus pintar-pintar menarik minat dan perhatian siswa dengan cara salah satunya dalam mengajar, guru bias menggunakan multimedia,  atau alat peraga, supaya materi yang disampaikan gampang dan selalu diingat siswa.

  1. Membangkitkan motivasi siswa

Motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah membangkitkan moivasi anak sehingga ia mau belajar.motivasi dibedakan menjadi 2:

a)      Motivasi intrinsik : motivasi yang timbul dari dalam diri individu itu sendiri.

b)      Motivasi ekstrinsik : motivasi yang timbul dari pengaruh faktor luar individu.

Cara membangkitkan motivasi ekstrinsik dan menumbuhkan motivasi instrinsik :

–         Kompetisi (persaingan) guru berusaha menciptakan persaingan diantara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

–         Pasce making (membuat tujuan sementara) pada awal pembelajaran, guru menyampaikan teknik dahulu materi dan tujuan yang akan dicapainya.

–         Tujuan yang jelas

–         Kesempurnaan untuk sukses

Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas dan kesenangan terhadap diri sendiri.

–         Minat yang besar

–         Mengadakan penilaian

Interprestasi : banyak cara untuk dapat membangkitkan motivasi siswa seperti memberi hadiah, memberi nilai, memberi pujian dan lian-lian. Dengan hal-hal yang seperti itu, mungkin siswa akan mau belajar dengan termotivasi, tetapi ada juga siswa yang mempunyai motivasi sendiri dari dalam dirinya, biasanya siswa yang seperti itu tujuan belajarnya agar mudah tercapai dan berhasil.

  1. Prinsip individualitas

Masalah perbedaan individual adalah salah satu masalah utama dalam pendekatan pembelajaran, mengingat adanya perbedaan tersebut, maka menganggap sama semua siswa ketika guru mengajar secara klasikal pada hakekatnya kurang sesuai dengan prinsip individualitas. Guru harus menyadari bahwa setiap individu siswa memiliki perbedaan maka hendaknya guru harus menyadari jika ada siswa yang cepat menerima pelajaran atau yang lambat menerima pelajaran.

Interprestasi : perbedaan antara individualis sering menjadi masalah dalam proses belajar-mengajar, karena antara siswa individu yang satu  dengan siswa yang lain sangat berbeda, terutama dalam hal menerima materi yang disampaikan guru, maka dengan hal ini guru harus bisa mengerti dan memahami apabila ada siswa yang kurang mengerti atau lambat menerima pelajaran. Dalam menghadapi siswa yang seperti itu, mungkin guru bisa menggunakan pendekataan dan perhatian secara khusus, agar siswa tersebut bisa paham dengan materi yang diajarkan.


  1. Penghargaan dalam pembelajaran

Alat peraga pengajaran (audiovisual aids) atau AVA yaitu alat-alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran.

Manfaat atau nilai media pendidikan :

a)      Memperbesar perhatian siswa

b)      Membuat pelajaran lebih menetap/tidak mudah dilupakan

c)      Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu

d)      Meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir

e)      Sangat menarik minat siswa untuk belajar

Menurut (William Burton, 1994 : 32) dalam memlilih alat peraga hendaknya memperhatikan hal-hal berikut :

–         Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa.

–         Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan.

–         Harus direncakan dengan teliti dan diperiksa terlebih dahulu.

–         Sesuai dengan batas kemampuan biaya.

Interprestasi : penggunaan alat peraga dalam pembelajaran memang bisa menarik minat siswa untuk belajar, mungkin dengan adanya alat peraga tersebut, materi yang disampaikan oleh guru bisa dipahami oleh siswa lebih jelas, sehingga siswa akan jadi paham dan mudah mengingatnya. Disamping itu seorang guru harus pandai-pandai untuk memilih alat peraga yang cocok dengan pengalaman siswanya sehingga akan digunakan

 

KESIMPULAN

Pembelajaran efektif itu penting, salah satunya dengan cara guru harus menciptakan suatu kondisi belajar mengajar yang efektif pula. Pembelajaran efektifas itu menekankan keaktifan dan keterlibatan siswa. Jadi, bukan saja hanya gurunya yang aktif, tapi siswanya juga harus aktif. Karena siswa sebagai subjek yang merencakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar.

Selain melibatkan keaktifan siswa, guru juga harus bisa menarik minat siswa dan perhatikan siswa. Tanpa adanya minat siswa akan sulit untuk melakukan belajar di kelas, guru juga diharuskan untuk perhatian kepada siswa-siswa yang kurang mempunyai minat belajar.

Selain minat, motivasi juga penting dibutuhkan dalam belajar, terutama bagi siswa yang tidak mempunyai motivasi, maka disini tugas guru adalah membangkitkan dan memberikan motivasi pada anak tersebut agar ia mau melakukan belajar seperti memberikan hadiah, pujian dan lain-lain.

Perbedaan antara individu siswa juga menjadi masalah dalam belajar, karena kadar karakter siswa berbeda-beda diantaranya ada yang cepat menerima pelajaran dan ada juga yang lambat menerima pelajaran, maka guru diharuskan untuk memberikan perhatian yang khusus untuk siswa tersebut.

Biasanya untuk menarik minat alat peraga dalam belajar, guru bisa menggunakan alat peraga dalam pembelajaran, agar materi yang disampaikan bisa mudah diingat dan tidak mudah dilupakan (mudah menetap). Selain itu pasti siswa akan lebih tertartik untuk mengikuti belajar.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Uzer, Usman. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Crow, L dam A. Crow. 1989. Psychology Pendidikan. Yogyakarta : Nur-Cahaya.

Hakim, Thursan. 2004. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swara/

 

About Bang Akil Bent

Sudah Lahir Sudah Terlanjur...Mengapa Harus Menyesal...Hadapi Dunia Berani!!!

Posted on 26 April 2012, in Serpihan Perkuliahan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: