Category Archives: Psikologi

PROSEDUR DAN TEKNIK DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR

Oleh :

KUSAERY MUSTOPA

0951.063

FAKULTAS TARBIYAH JURUSAN S-1 PGSD/MI

INSTITUT LATIFAH MUBAROKIYYAH

PONDOK PESANTREN SURYALAYA

TASIKMALAYA

2010


 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT. Shalawat dan salam semoga

tetap terlimpah curahkan kepada junjunan kita Nabi Muhammad  SAW., kepada keluarganya, para shahabatnya dan juga kepada kita selaku umatnya dan mendapatkan syafa`atnya di hari Hisab kelak.

Kami menyadari bahwa daam penulisan makalah ini masih banyak kekhilafan dan kekurangan, maka dari itu segala saran dan kritik yang membangun akan kami hargai dan diterima dengan hatu yang mulia.

Namun demikian, kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Suryalaya, Nopember 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………..                i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………..               ii

 

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………………               1

  1. Latar Belakang Masalah…………………………………………………………….               1

BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………………………….               3

  1. Pengertian Belajar…………………………………………………………………….               3
  2. Kesulitan Belajar………………………………………………………………………               5
  3. Diagnostik Mengatasi Kesulitan belajar…………………………………………             9
  4. Bimbingan Belajar…………………………………………………………………….             11
  5. Model Pembelajaran………………………………………………………………….             13
  6. Mengatasi Kesulitan Belajar………………………………………………………             18
  7. Sasaran dan Langkah-langkah Tindakan Diagnosa……………………….             19

BAB III SIMPULAN DAN SARAN………………………………………………………             23

  1. Simpulan ………………………………………………………………………………..             23
  2. Saran ……………………………………………………………………………………..             23

DAFTAR PUSTAKA


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.

Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa. Perlunya diadakan diagnosis belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat, untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan, sikap yang terbuka dan mengasah ketrampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa.

Berkait dengan kegiatan diagnosis, secara garis besar dapat diklasifikasikan ragam diagnosis ada dua macam, yaitu diagnosis untuk mengerti masalah dan diagnosis yang mengklasifikasi masalah. Diagnosa untuk mengerti masalah merupakan usaha untuk dapat lebih banyak mengerti masalah secara menyeluruh. Sedangkan diagnosis yang mengklasifikasi masalahmerupakan pengelompokan masalah sesuai ragam dan sifatnya. Ada masalah yang digolongkan kedalam masalah yang bersifat vokasional, pendidikan, keuangan, kesehatan, keluarga dan kepribadian. Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar.

Abin Syamsudin Maknum (2002: 307) mengatakan bahwa “Seorang siswa diduga mengalami kesulitan belajar kalau yang bersangkutan menunjukan kegagalan”. Sejalan dengan itu Burton (Abin Syamsudin Makmun, 2002: 307) mengungkapkan bahwa kegagalan belajar didefinisikan sebagai berikut:

  1. Siswa dikatakan gagal apabila dalam waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan minimal dalam pelajaran tertentu, seperti yang telah ditetapkan oleh guru.
  2. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi yang semestinya (berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, intelegensia, bakat). Ia diramalkan akan dapat mengerjakannya atau mencapai suatu prestasi, namun ternyata tidak sesuai dengan kemampuannya.
  3. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak dapat mewujudkan tugas-tugas perkembangan termasuk penyesuaian sosial sesuai dengan pola organismiknya, pada fase perkembangan tertentu seperti yang berlaku bagi kelompok sosial dan usia yang bersangkutan.
  4. Siswa dikatakan gagal apabila yang bersangkutan tidak berhasil mencapai tingkat penguasaan yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan pada tingkat pelajaran selanjutnya.

Dalam menyelesaikan soal yang dihadapinya siswa akan terlibat dalam suatu proses berpikir yang mengharuskan siswa untuk menghubungkan konsep-konsep dan aturan yang telah diketahui sebelumnya. Hal ini sejalan dengan definisi pemecahan masalah yang dikemukakan Gagne (Fannyta, 1999: 7) bahwa “Suatu proses berpikir manusia dalam menghubungkan konsep-konsep atau aturan-aturan untuk menghasilkan aturan yang lebih komplek”. Pendapat lainnya dikemukakan oleh Hudoyo (Fannyta, 1999: 4) mengatakan bahwa “Dalam menyelesaikan masalah siswa perlu dilatih berpikir untuk mendapatkan langkah-langkah penyelesaian secara terurut, sistematis, dan penarikan kesimpulan yang sah (valid) berdasarkan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan”.

Pada dasarnya setiap kesulitan belajar selalu berlatar belakang pada komponen-komponen yang berpengaruh pada proses belajar mengajar itu sendiri. Burton (Sapuro, 1997: 8) mengelompokkan faktor-faktor penyebab kesulitan belajar ke dalam dua kategori, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang terdapat pada diri siswa itu sendiri, yang meliputi kelemahan jasmaniah, kelemahan mental, kelemahan yang disebabkan karena kebiasaan dan sifat yang salah, serta kurangnya keterampilan dan pengetahuan dasar siswa. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang terdapat di luar diri siswa, antara lain situasi belajar, sikap dan cara mengajar guru, situasi keluarga dan lingkungan sekolah.

 

BAB II

PEMBHASAN

  1. A.    Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Winkel (1995: 53) menyatakan bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai-sikap. Perubahan itu bersikap secara relatif konstan dan berbekas”.

Berdasarkan psikologi, Usman dan Setiawati (Neti, 2003: 11) mendefinisikan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang terjadi karena adanya interaksi baik antara individu dengan individu maupun antara individu dengan lingkungannya”. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi perubahan dalam kebiasaan (habit), kecakapan-kecakapan (skills), ataupun dalam tiga aspek yaitu pengetahuan (kognitif), sikap (apektif), dan keterampilan (psikomotor). Sadirman (1990: 22) menyatakan bahwa “Belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”. Dari definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar akan membawa suatu perubahan tingkah laku individu-individu yang belajar.

Sejalan dengan hal itu, Sudjana (1989: 6) menyatakan bahwa “Apabila kita bicara tentang belajar, maka kita bicara tentang cara mengubah tingkah laku seseorang atau individu melalui berbagai pengalaman yang ditempuhnya”. Berdasarkan pernyataan di atas belajar dapat dipandang sebagai proses dalam melihat apa yang terjadi selama siswa mengalami pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Siswa, guru, dan tujuan adalah tiga hal penting yang saling terkait selama proses belajar mengajar berlangsung. Secara skematik (Abin Syamsudin: 155) interrelasi antara ketiga komponen tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

Gambar 2.1.

HUBUNGAN ANTARA SISWA, TUJUAN, DAN GURU

Dari gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa hubungan antara siswa, tujuan, dan guru adalah sebagai berikut:

–          Siswa berusaha mengembangkan dirinya seoptimal mungkin melalui belajar untuk mencapai tujuannya.

–          Tujuan merupakan seperangkat tugas atau tuntutan yang harus dipenuhi atau sistem nilai yang harus tampak dalam perilaku dan merupakan karakteristik kepribadian siswa yang dapat dievaluasi (terukur).

–          Guru selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat (mengajar) sehingga memungkinkan terjadinya proses pengalaman belajar pada diri siswa dengan mengarahkan segala sumber dan strategi belajar mengajar yang tepat.

  1. B.     Kesulitan Belajar

Dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kita dihadapkan dengan sejumlah karakterisktik siswa yang beraneka ragam. Ada siswa yang dapat menempuh kegiatan belajarnya secara lancar dan berhasil tanpa mengalami kesulitan, namun di sisi lain tidak sedikit pula siswa yang justru dalam belajarnya mengalami berbagai kesulitan. Kesulitan belajar siswa ditunjukkan oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk mencapai hasil belajar, dan dapat bersifat psikologis, sosiologis, maupun fisiologis, sehingga pada akhirnya dapat menyebabkan prestasi belajar yang dicapainya berada di bawah semestinya.

Banyak faktor yang menjadi penyebab kesulitan belajar. Menurut Muhibbin (1995: 173) faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam, yaitu:

  1. Faktor intern siswa, yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa, labilnya emosi dan sikap, serta terganggunya indera-indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).
  2. Faktor ekstern siswa, yaitu hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa yang meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas siswa seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah.

Guru perlu meneliti faktor-faktor itu agar dapat memberikan diagnosis dan menganalisis kesulitan-kesulitan itu. Cara untuk mengetahui kesulitan tersebut Ruseffendi (1991: 467) menyatakan bahwa “Kita dapat mengetahui kelemahan anak melalui pengamatan guru sehari-hari di dalam atau di luar kelas, tanya jawab, tes yang dilakukan guru, tes diagnostik, tes dari buku, tugas-tugas dan semacamnya”. Jika kita ingin melihat kelemahan anak itu sangat tergantung kepada keterampilan dan kemampuan guru sendiri, artinya salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh guru adalah mampu mendiagnosis kesulitan siswa dalam belajar dan mampu mengadakan pengajaran remidial.

Diagnosis merupakan istilah teknis yang diambil dari bidang medis. Menurut Thorndike dan Hagen (Abin Syamsudin, 2000: 307), diagnosis diartikan sebagai:

  1. Upaya atau proses menemukan kelemahan atau penyakit (weakness, disease) apa yang dialami seseorang dengan melalui pengujian dan studi yang seksama mengenai gejala-gejalanya (symptons).
  2. Studi yang seksama terhadap fakta tentang suatu hal untuk menemukan karakteristik atau kelemahan-kelemahan dan sebagainya yang esensial.
  3. Keputusan yang dicapai setelah dilakukan suatu studi yang seksama atas gejala-gejala atau fakta tentang suatu hal.

Dari pengertian di atas, terlihat bahwa dalam pekerjaan mendiagnosis bukan hanya mengidentifikasi jenis, karakteristiknya dan latar belakang dari suatu kelemahan atau penyakit tertentu, melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

Kesulitan belajar siswa mencakup pengetian yang luas, diantaranya : (a) learning disorder; (b) learning disfunction; (c) underachiever; (d) slow learner, dan (e) learning diasbilities. Di bawah ini akan diuraikan dari masing-masing pengertian tersebut.

  1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Pada dasarnya, yang mengalami kekacauan belajar, potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajarnya terganggu atau terhambat oleh adanya respons-respons yang bertentangan, sehingga hasil belajar yang dicapainya lebih rendah dari potensi yang dimilikinya. Contoh : siswa yang sudah terbiasa dengan olah raga keras seperti karate, tinju dan sejenisnya, mungkin akan mengalami kesulitan dalam belajar menari yang menuntut gerakan lemah-gemulai.
  2. Learning Disfunction merupakan gejala dimana proses belajar yang dilakukan siswa tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnya siswa tersebut tidak menunjukkan adanya subnormalitas mental, gangguan alat dria, atau gangguan psikologis lainnya. Contoh : siswa yang yang memiliki postur tubuh yang tinggi atletis dan sangat cocok menjadi atlet bola volley, namun karena tidak pernah dilatih bermain bola volley, maka dia tidak dapat menguasai permainan volley dengan baik.
  3. Under Achiever mengacu kepada siswa yang sesungguhnya memiliki tingkat potensi intelektual yang tergolong di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah. Contoh : siswa yang telah dites kecerdasannya dan menunjukkan tingkat kecerdasan tergolong sangat unggul (IQ = 130 – 140), namun prestasi belajarnya biasa-biasa saja atau malah sangat rendah.
  4. Slow Learner atau lambat belajar adalah siswa yang lambat dalam proses belajar, sehingga ia membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan sekelompok siswa lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.
  5. Learning Disabilities atau ketidakmampuan belajar mengacu pada gejala dimana siswa tidak mampu belajar atau menghindari belajar, sehingga hasil belajar di bawah potensi intelektualnya.

Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai
hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar. Kelompok pertama merupakan sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.

Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan. Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

Siswa yang mengalami kesulitan belajar seperti tergolong dalam pengertian di atas akan tampak dari berbagai gejala yang dimanifestasikan dalam perilakunya, baik aspek psikomotorik, kognitif, konatif maupun afektif . Beberapa perilaku yang merupakan manifestasi gejala kesulitan belajar, antara lain :

  1. Menunjukkan hasil belajar yang rendah di bawah rata-rata nilai yang dicapai oleh kelompoknya atau di bawah potensi yang dimilikinya.
  2. Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan. Mungkin ada siswa yang sudah berusaha giat belajar, tapi nilai yang diperolehnya selalu rendah
  3. Lambat dalam melakukan tugas-tugas kegiatan belajarnya dan selalu tertinggal dari kawan-kawannya dari waktu yang disediakan.
  4. Menunjukkan sikap-sikap yang tidak wajar, seperti: acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta dan sebagainya.
  5. Menunjukkan perilaku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mengganggu di dalam atau pun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, dan sebagainya.
  6. Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti : pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira dalam menghadapi situasi tertentu. Misalnya dalam menghadapi nilai rendah, tidak menunjukkan perasaan sedih atau menyesal, dan sebagainya.

Sementara itu, Burton (Abin Syamsuddin. 2003) mengidentifikasi siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar, yang ditunjukkan oleh adanya kegagalan siswa dalam mencapai tujuan-tujuan belajar. Menurut dia bahwa siswa dikatakan gagal dalam belajar apabila :

  1. Dalam batas waktu tertentu yang bersangkutan tidak mencapai ukuran tingkat keberhasilan atau tingkat penguasaan materi (mastery level) minimal dalam pelajaran tertentu yang telah ditetapkan oleh guru (criterion reference).
  2. Tidak dapat mengerjakan atau mencapai prestasi semestinya, dilihat berdasarkan ukuran tingkat kemampuan, bakat, atau kecerdasan yang dimilikinya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam under achiever.
  3. Tidak berhasil tingkat penguasaan materi (mastery level) yang diperlukan sebagai prasyarat bagi kelanjutan tingkat pelajaran berikutnya. Siswa ini dapat digolongkan ke dalam slow learner atau belum matang (immature), sehingga harus menjadi pengulang (repeater)

Untuk dapat menetapkan gejala kesulitan belajar dan menandai siswa yang mengalami kesulitan belajar, maka diperlukan kriteria sebagai batas atau patokan, sehingga dengan kriteria ini dapat ditetapkan batas dimana siswa dapat diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Terdapat empat ukuran dapat menentukan kegagalan atau kemajuan belajar siswa : (1) tujuan pendidikan; (2) kedudukan dalam kelompok; (3) tingkat pencapaian hasil belajar dibandinngkan dengan potensi; dan (4) kepribadian.

1.      Tujuan pendidikan

Dalam keseluruhan sistem pendidikan, tujuan pendidikan merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting, karena akan memberikan arah proses kegiatan pendidikan. Segenap kegiatan pendidikan atau kegiatan pembelajaran diarahkan guna mencapai tujuan pembelajaran. Siswa yang dapat mencapai target tujuan-tujuan tersebut dapat dianggap sebagai siswa yang berhasil. Sedangkan, apabila siswa tidak mampu mencapai tujuan-tujuan tersebut dapat dikatakan mengalami kesulitan belajar. Untuk menandai mereka yang mendapat hambatan pencapaian tujuan pembelajaran, maka sebelum proses belajar dimulai, tujuan harus dirumuskan secara jelas dan operasional. Selanjutnya, hasil belajar yang dicapai dijadikan sebagai tingkat pencapaian tujuan tersebut. Secara statistik, berdasarkan distribusi normal, seseorang dikatakan berhasil jika siswa telah dapat menguasai sekurang-kurangnya 60% dari seluruh tujuan yang harus dicapai. Namun jika menggunakan konsep pembelajaran tuntas (mastery learning) dengan menggunakan penilaian acuan patokan, seseorang dikatakan telah berhasil dalam belajar apabila telah menguasai standar minimal ketuntasan yang telah ditentukan sebelumnya atau sekarang lazim disebut Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebaliknya, jika penguasaan ketuntasan di bawah kriteria minimal maka siswa tersebut dikatakan mengalami kegagalan dalam belajar. Teknik yang dapat digunakan ialah dengan cara menganalisis prestasi belajar dalam bentuk nilai hasil belajar.

2.      Kedudukan dalam Kelompok

Kedudukan seorang siswa dalam kelompoknya akan menjadi ukuran dalam pencapaian hasil belajarnya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila memperoleh prestasi belajar di bawah prestasi rata-rata kelompok secara keseluruhan. Misalnya, rata-rata prestasi belajar kelompok 8, siswa yang mendapat nilai di bawah angka 8, diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Dengan demikian, nilai yang dicapai seorang akan memberikan arti yang lebih jelas setelah dibandingkan dengan prestasi yang lain dalam kelompoknya. Dengan norma ini, guru akan dapat menandai siswa-siswa yang diperkirakan mendapat kesulitan belajar, yaitu siswa yang mendapat prestasi di bawah prestasi kelompok secara keseluruhan.

Secara statistik, mereka yang diperkirakan mengalami kesulitan adalah mereka yang menduduki 25 % di bawah urutan kelompok, yang biasa disebut dengan lower group. Dengan teknik ini, kita mengurutkan siswa berdasarkan nilai nilai yang dicapainya. dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah, sehingga siswa mendapat nomor urut prestasi (ranking). Mereka yang menduduki posisi 25 % di bawah diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Teknik lain ialah dengan membandingkan prestasi belajar setiap siswa dengan prestasi rata-rata kelompok. Siswa yang mendapat prestasi di bawah rata – rata kelompok diperkirakan pula mengalami kesulitan belajar.

3.      Perbandingan antara potensi dan prestasi

Prestasi belajar yang dicapai seorang siswa akan tergantung dari tingkat potensinya, baik yang berupa kecerdasan maupun bakat. Siswa yang berpotensi tinggi cenderung dan seyogyanya dapat memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Sebaliknya, siswa yang memiliki potensi yang rendah cenderung untuk memperoleh prestasi belajar yang rendah pula. Dengan membandingkan antara potensi dengan prestasi belajar yang dicapainya kita dapat memperkirakan sampai sejauhmana dapat merealisasikan potensi yang dimikinya. Siswa dikatakan mengalami kesulitan belajar, apabila prestasi yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Misalkan, seorang siswa setelah mengikuti pemeriksaan psikologis diketahui memiliki tingkat kecerdasan (IQ) sebesar 120, termasuk kategori cerdas dalam skala Simon & Binnet. Namun ternyata hasil belajarnya hanya mendapat nilai angka 6, yang seharusnya dengan tingkat kecerdasan yang dimikinya dia paling tidak dia bisa memperoleh angka 8. Contoh di atas menggambarkan adanya gejala kesulitan belajar, yang biasa disebut dengan istilah underachiever.

4.      Kepribadian

Hasil belajar yang dicapai oleh seseorang akan tercerminkan dalam seluruh kepribadiannya. Setiap proses belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam aspek kepribadian. Siswa yang berhasil dalam belajar akan menunjukkan pola-pola kepribadian tertentu, sesuai dengan tujuan yang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Siswa diakatan mengalami kesulitan belajar, apabila menunjukkan pola-pola perilaku atau kepribadian yang menyimpang dari seharusnya, seperti : acuh tak acuh, melalaikan tugas, sering membolos, menentang, isolated, motivasi lemah, emosi yang tidak seimbang dan sebagainya.

C.    Diagnostik mengatasi kesulitan belajar

Belajar pada dasarnya merupakan proses usaha aktif seseorang untuk memperoleh sesuatu, sehingga terbentuk perilaku baru menuju arah yang lebih baik. Kenyataannya, para pelajar seringkali tidak mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak memperoleh perubahan tingkah laku sebagai mana yang diharapkan. Hal itu menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan belajar yang merupakan hambatan dalam mencapai hasil belajar.

Sementara itu, setiap siswa dalam mencapai sukses belajar, mempunyai kemampuan yang berbeda-beda. Ada siswa yang dapat mencapainya tanpa kesulitan, akan tetapi banyak pula siswa mengalami kesulitan, sehingga menimbulkan masalah bagi perkembangan pribadinya.

Menghadapi masalah itu, ada kecendrungan tidak semua siswa mampu memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat.

Atas kenyataan itu, semestinya sekolah harus berperan turut membantu memecahkan masalah yang dihadapi siswa. Seperti diketahui, sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sekurang-kurangnya memiliki 3 fungsi utama. Pertama fungsi pengajaran, yakni membantu siswa dalam memperoleh kecakapan bidang pengetahuan dan keterampilan. Kedua, fungsi administrasi, dan ketiga fungsi pelayanan siswa, yaitu memberikan bantuan khusus kepada siswa untuk memperoleh pemahaman diri, pengarahan diri dan integrasi sosial yang lebih baik, sehingga dapat menyesuaikan diri baik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya.

Setiap fungsi pendidikan itu, pada dasarnya bertanggung jawab terhadap proses pendidikan pada umumnya. Termasuk seorang guru yang berdiri di depan kelas, bertanggung jawab pula atau melekat padanya fungsi administratif dan fungsi pelayanan siswa. Hanya memang dalam pendidikan, pada dasarnya sulit memisahkan secara tegas fungsi yang satu dengan fungsi yang lainnya, meskipun pada setiap fungsi tersebut mempunyai penanggung jawab masing-masing. Dalam hal ini, guru atau pembimbing dapat membawa setiap siswa kearah perkembangan individu seoptimal mungkin dalam hubungannya dengan kehidupan sosial serta tanggung jawab moral. Salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dalam melaksanakan tugas dan peranannya ialah kegiatan evaluasi. Dilihat dari jenisnya evaluasi ada empat, yaitu sumatif, formatif, penempatan, dan diagnostik.

1.      Diagnosis

Diagnosis merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor penyebab atau yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar faktor-faktor yang penyebab kegagalan belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun out put belajarnya. W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor – faktor yang mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu : (a) faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri, seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat, kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan (b) faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan sejenisnya.

2.      Prognosis

Langkah ini untuk memperkirakan apakah masalah yang dialami siswa masih mungkin untuk diatasi serta menentukan berbagai alternatif pemecahannya, Hal ini dilakukan dengan cara mengintegrasikan dan menginterpretasikan hasil-hasil langkah kedua dan ketiga. Proses mengambil keputusan pada tahap ini seyogyanya terlebih dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang kompeten untuk diminta bekerja sama menangani kasus – kasus yang dihadapi.

3.      Tes diagnostik

Pada konteks ini, penulis akan mencoba menyoroti tes diagnostik kesulitan belajar yang kurang sekali diperhatikan sekolah. Lewat tes itu akan dapat diketahui letak kelemahan seorang siswa. Jika kelemahan sudah ditemukan, maka guru atau pembimbing sebaiknya mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan guna menolong siswa tersebut.

Tes dignostik kesulitan belajar sendiri dilakukan melalui pengujian dan studi bersama terhadap gejala dan fakta tentang sesuatu hal, untuk menemukan karakteristik atau kesalahn-kesalahan yang esensial. Tes dignostik kesulitan belajar juga tidak hanya menyangkut soal aspek belajar dalam arti sempit yakni masalah penguasaan materi pelajaran semata, melainkan melibatkan seluruh aspek pribadi yang menyangkut perilaku siswa.

Tujuan tes diagnostik untuk menemukan sumber kesulitan belajar dan merumuskan rencana tindakan remidial. Dengan demikian tes diagnostik sangat penting dalam rangka membantu siswa yang mengalami kesulitan belajar dan dapat diatasi dengan segera apabila guru atau pembinbing peka terhadap siswa tersebut. Guru atau pembimbing harus mau meluangkan waktu guna memerhatikan keadaan siswa bila timbul gejala-gejala kesulitan belajar.

Agar memudahkan pelaksanaan tes diagnostik, maka guru perlu mengumpulkan data tentang anak secara lengkap, sehingga penanganan kasus akan menjadi lebih mudah dan terarah.

D.    Bimbingan Belajar

Bimbingan belajar merupakan upaya guru untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam belajarnya. Secara umum, prosedur bimbingan belajar dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut

1.      Identifikasi kasus

Identifikasi kasus merupakan upaya untuk menemukan siswa yang diduga memerlukan layanan bimbingan belajar. Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) memberikan beberapa pendekatan yang dapat dilakukan untuk mendeteksi siswa yang diduga mebutuhkan layanan bimbingan belajar, yakni :

  1. Call them approach; melakukan wawancara dengan memanggil semua siswa secara bergiliran sehingga dengan cara ini akan dapat ditemukan siswa yang benar-benar membutuhkan layanan bimbingan.
  2. Maintain good relationship; menciptakan hubungan yang baik, penuh keakraban sehingga tidak terjadi jurang pemisah antara guru dengan siswa. Hal ini dapat dilaksanakan melalui berbagai cara yang tidak hanya terbatas pada hubungan kegiatan belajar mengajar saja, misalnya melalui kegiatan ekstra kurikuler, rekreasi dan situasi-situasi informal lainnya.
  3. Developing a desire for counseling; menciptakan suasana yang menimbulkan ke arah penyadaran siswa akan masalah yang dihadapinya. Misalnya dengan cara mendiskusikan dengan siswa yang bersangkutan tentang hasil dari suatu tes, seperti tes inteligensi, tes bakat, dan hasil pengukuran lainnya untuk dianalisis bersama serta diupayakan berbagai tindak lanjutnya.
  4. Melakukan analisis terhadap hasil belajar siswa, dengan cara ini bisa diketahui tingkat dan jenis kesulitan atau kegagalan belajar yang dihadapi siswa.
  5. Melakukan analisis sosiometris, dengan cara ini dapat ditemukan siswa yang diduga mengalami kesulitan penyesuaian sosial

2.      Identifikasi Masalah

Langkah ini merupakan upaya untuk memahami jenis, karakteristik kesulitan atau masalah yang dihadapi siswa. Dalam konteks Proses Belajar Mengajar, permasalahan siswa dapat berkenaan dengan aspek : (a) substansial – material; (b) struktural – fungsional; (c) behavioral; dan atau (d) personality. Untuk mengidentifikasi masalah siswa, Prayitno dkk. telah mengembangkan suatu instrumen untuk melacak masalah siswa, dengan apa yang disebut Alat Ungkap Masalah (AUM). Instrumen ini sangat membantu untuk mendeteksi lokasi kesulitan yang dihadapi siswa, seputar aspek : (a) jasmani dan kesehatan; (b) diri pribadi; (c) hubungan sosial; (d) ekonomi dan keuangan; (e) karier dan pekerjaan; (f) pendidikan dan pelajaran; (g) agama, nilai dan moral; (h) hubungan muda-mudi; (i) keadaan dan hubungan keluarga; dan (j) waktu senggang.

3.      Remedial atau referal (Alih Tangan Kasus)

Jika jenis dan sifat serta sumber permasalahannya masih berkaitan dengan sistem pembelajaran dan masih masih berada dalam kesanggupan dan kemampuan guru atau guru pembimbing, pemberian bantuan bimbingan dapat dilakukan oleh guru atau guru pembimbing itu sendiri. Namun, jika permasalahannya menyangkut aspek-aspek kepribadian yang lebih mendalam dan lebih luas maka selayaknya tugas guru atau guru pembimbing sebatas hanya membuat rekomendasi kepada ahli yang lebih kompeten.

4.      Evaluasi dan Follow Up

Cara manapun yang ditempuh, evaluasi atas usaha pemecahan masalah seyogyanya dilakukan evaluasi dan tindak lanjut, untuk melihat seberapa pengaruh tindakan bantuan (treatment) yang telah diberikan terhadap pemecahan masalah yang dihadapi siswa.

Berkenaan dengan evaluasi bimbingan, Depdiknas telah memberikan kriteria-kriteria keberhasilan layanan bimbingan belajar, yaitu :

  • Berkembangnya pemahaman baru yang diperoleh siswa berkaitan dengan masalah yang dibahas;
  • Perasaan positif sebagai dampak dari proses dan materi yang dibawakan melalui layanan,
  • Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa sesudah pelaksanaan layanan dalam rangka mewujudkan upaya lebih lanjut pengentasan masalah yang dialaminya.

Sementara itu, Robinson dalam Abin Syamsuddin Makmun (2003) mengemukakan beberapa kriteria dari keberhasilan dan efektivitas layanan yang telah diberikan, yaitu apabila:

  1. Siswa telah menyadari (to be aware of) atas adanya masalah yang dihadapi.
  2. Siswa telah memahami (self insight) permasalahan yang dihadapi.
  3. Siswa telah mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima kenyataan diri dan masalahnya secara obyektif (self acceptance).
  4. Siswa telah menurun ketegangan emosinya (emotion stress release).
  5. Siswa telah menurun penentangan terhadap lingkungannya
  6. Siswa mulai menunjukkan kemampuannya dalam mempertimbangkan, mengadakan pilihan dan mengambil keputusan secara sehat dan rasional.
  7. Siswa telah menunjukkan kemampuan melakukan usaha –usaha perbaikan dan penyesuaian diri terhadap lingkungannya, sesuai dengan dasar pertimbangan dan keputusan yang telah diambilnya.

E.     Model Pembelajaran

Dalam mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Di bawah ini akan diuraikan secara singkat dari masing-masing model pembelajaran tersebut.

1.      Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning)

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar.

Dengan mengutip pemikiran Zahorik, E. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu :

  1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik
  2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus)
  3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: (a) menyusun konsep sementara; (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain; dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep.
  4. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

2.      Bermain Peran (Role Playing)

Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Dengan mengutip dari Shaftel dan Shaftel, (E. Mulyasa, 2003) mengemukakan tahapan pembelajaran bermain peran meliputi : (1) menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik; (2) memilih peran; (3) menyusun tahap-tahap peran; (4) menyiapkan pengamat; (5) menyiapkan pengamat; (6) tahap pemeranan; (7) diskusi dan evaluasi tahap diskusi dan evaluasi tahap I ; (8) pemeranan ulang; dan (9) diskusi dan evaluasi tahap II; dan (10) membagi pengalaman dan pengambilan keputusan.

3.      Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning)

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Dengan meminjam pemikiran Knowles, (E.Mulyasa,2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut:

  1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar.
  2. Membantu peserta didik menyusun kelompok, agar siap belajar dan membelajarkan
  3. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya.
  4. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar.
  5. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar.
  6. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar.
  7. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar.

4.      Belajar Tuntas (Mastery Learning)

Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik, dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal, pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan, terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar, melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar, bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu,dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. Evaluasi yang dilaksanakan setelah para peserta didik menyelesaikan suatu kegiatan belajar tertentu merupakan dasar untuk memperoleh balikan (feedback). Tujuan utama evaluasi adalah memperoleh informasi tentang pencapaian tujuan dan penguasaan bahan oleh peserta didik. Hasil evaluasi digunakan untuk menentukan dimana dan dalam hal apa para peserta didik perlu memperoleh bimbingan dalam mencapai tujuan, sehinga seluruh peserta didik dapat mencapai tujuan ,dan menguasai bahan belajar secara maksimal (belajar tuntas).

Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test); (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan; dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh, melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif).

Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom, meliputi tiga bagian, yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi; (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar; dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual, yang meliputi : (1) corrective technique yaitu semacam pengajaran remedial, yang dilakukan memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik, dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya; dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas).

Di samping implementasi dalam pembelajaran secara klasikal, belajar tuntas banyak diimplementasikan dalam pembelajaran individual. Sistem belajar tuntas mencapai hasil yang optimal ketika ditunjang oleh sejumlah media, baik hardware maupun software, termasuk penggunaan komputer (internet) untuk mengefektifkan proses belajar.

5.      Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction)

Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik, bagaimana melakukan, dan sumber belajar apa yang harus digunakan.
  2. Modul meripakan pembelajaran individual, sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya; (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh; dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur.
  3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin, serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif, tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu, modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing), simulasi dan berdiskusi.
  4. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis, sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul, serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari.
  5. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik, terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar.

Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.

Komponen-komponen tersebut dikemas dalam format modul, sebagai beriku:

  1. Pendahuluan; yang berisi deskripsi umum, seperti materi yang disajikan, pengetahuan, keterampilan dan sikap yang akan dicapai setelah belajar, termasuk kemampuan awal yang harus dimiliki untuk mempelajari modul tersebut.
  2. Tujuan Pembelajaran; berisi tujuan pembelajaran khusus yang harus dicapai peserta didik, setelah mempelajari modul. Dalam bagian ini dimuat pula tujuan terminal dan tujuan akhir, serta kondisi untuk mencapai tujuan.
  3. Tes Awal; yang digunakan untuk menetapkan posisi peserta didik dan mengetahui kemampuan awalnya, untuk menentukan darimana ia harus memulai belajar, dan apakah perlu untuk mempelajari atau tidak modul tersebut.
  4. Pengalaman Belajar; yang berisi rincian materi untuk setiap tujuan pembelajaran khusus, diikuti dengan penilaian formatif sebagai balikan bagi peserta didik tentang tujuan belajar yang dicapainya.
  5. Sumber Belajar; berisi tentang sumber-sumber belajar yang dapat ditelusuri dan digunakan oleh peserta didik.
  6. Tes Akhir; instrumen yang digunakan dalam tes akhir sama dengan yang digunakan pada tes awal, hanya lebih difokuskan pada tujuan terminal setiap modul.

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar, antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif; (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas; (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik.

6.      Pembelajaran Inkuiri

Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

Joyce (Gulo, 2005) mengemukakan kondisi- kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa, yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi; (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya; dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta, sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis,

Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah; kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah; (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah.
  2. Mengembangkan hipotesis; kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh; (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis; dan merumuskan
  3. Menguji jawaban tentatif; kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa, terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan, mengumpulkan data, dan mengevaluasi data; (b) menyusun data, terdiri dari : mentranslasikan data, menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data.; (c) analisis data, terdiri dari : melihat hubungan, mencatat persamaan dan perbedaan, dan mengidentifikasikan trend, sekuensi, dan keteraturan.
  4. Menarik kesimpulan; kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan; dan (b) merumuskan kesimpulan
  5. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi , Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor, konsultan, teman yang kritis dan fasilitator. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok, serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok.

F.        Mengatasi Kesulitan Belajar

Kesulitan belajar merupakan masalah yang cukup kompleks dan sering membuat orangtua bingung mencari penyelesaiannya. Kesulitan belajar banyak ditemukan pada anak usia sekolah. Pola belajar anak, memang dibentuk saat di sekolah dasar. Sesuai dengan masanya ia mengalami perkembangan mental dan pembentukan karakternya. Di masa kini anak tidak hanya belajar menghitung, membaca, atau menghafal pengetahuan umum, tapi juga belajar tentang tanggung jawab, skala nilai moral, skala nilai prioritas dalam kegiatannya.  Masalah disiplin juga tidak kalah pentingnya. Anak-anak sejak kecil sudah harus ditanamkan disiplin. Jika, tidak sangat menentukan perkembangan karakter anak tersebut. Di dalam kebudayaan Bugis-Makassar ada istilah macanga-canga atau memandang enteng persoalan. Sering menunda-nunda jadwal belajar.

Dalam menghadapi perilaku anak seperti ini, dalalm artikel Ibu Anak disebutkan setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan. Namun, sebelum memperhatikan hal tersebut, orangtua hendaknya tidak mudah jatuh iba sehingga mengambil alih tugas anak. Tentu dengan tujuan meringankan agar mereka bisa mengerjakan pekerjaan rumah misalnya.

Sekali lagi orangtua tidak dianjurkan membantu anak dengan cara mengambil alih, tapi bagaimana menuntun anak agar pekerjaan rumah dikerjakan sendiri dalam situasi menyenangkan.

  1. 1.       Perhatikan Mood

Untuk mengenal mood anak, seorang ibu harus mengenal karakter dan kebiasaan belajar anak. Apakah anak belajar dengan senang hati atau dalam keadaan kesal. Jika belajar dalam suasana hati yang senang, maka apa yang akan dipelajari lebih cepat ditangkap. Bila saat belajar, ia merasa kesal, coba untuk mencari tahu penyebab munculnya rasa kesal itu. Apakah karena pelajaran yang sulit atau karena konsentrasi yang pecah. Nah di sini tugas orangtua untuk menyenangkan hati si anak.

  1. 2.       Siapkan Ruang Belajar

Kesulitan belajar anak bisa juga karena tempat yang tersedia tidak memadai. Karena itu, coba sediakan tempat belajar untuk anak. Jika kesulitan itu muncul karena tidak tersedianya meja, maka ajaklah anak belajar di meja makan didampingi orangtuanya. Tentu sebelum belajar meja makan harus dibersihkan lebih dahulu.

Selain itu, saat mengajari anak ini Anda bisa melakukannya dengan menularkan cara belajar yang baik. Misalnya bercerita kepada anak tentang bagaimana dahulu ibunya menyelesaikan mata pelajaran yang dianggap sulit. Biasanya anak cepat larut dengan cerita ibunya sehingga ia mencoba mencocok-cocokkan dengan apa yang dijalaninya sekarang.

  1. 3.        Komunikasi

Masa kecil kita, pelajaran yang disukai tergantung bagaimana cara guru itu mengajar. Tidak bisa dipungkiri perhatian terhadap mata pelajaran, tentu ada kaitan dengan cara guru mengajar di kelas.

Sempatkan juga waktu dan dengarkan anak-anak bercerita tentang bagaimana cara guru mereka mengajar di sekolah. Jika, anak Anda aktif maka banyak sekali cerita yang lahir termasuk bagaimana guru kelas memperhatikan baju, ikat rambut, dan sepatunya. Khusus soal komunikasi ini, biarkan anak-anak bercerita tentang gurunya. Sejak dini biasakan anak berperilaku sportif dan pandai menyampaikan pendapatnya.

  1. G.    Sasaran dan Langkah-langkah Tindakan Diagnosa

Langkah-Langkah Tindakan Diagnosa Menurut C. Ross dan Julian Stanley, langkah-langkah mendiagnosis kesulitan belajar ada tiga tahap, yaitu :

1. Langkah-langkah diagnosis yang meliputi aktifitas, berupa: Identifikasi kasus, Lokalisasi jenis dan sifat kesulitan, Menemukan faktor penyebab baik secara internal maupun eksternal

2. Langkah prognosis yaitu suatu langkah untuk mengestimasi (mengukur),
memperkirakan apakah kesulitan tersebut dapat dibantu atau tidak.

3. Langkah Terapi yaitu langkah untuk menemukan berbagai alternatif kemungkinan cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyembuhan kesulitan tersebut yang kegiatannya meliputi antara lain pengajaran remedial, transfer atau referal.

Sasaran dari kegiatan diagnosis pada dasarnya ditujukan untuk memahami
karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan. Dari ketiga pola pendekatan diatas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pokok prosedur dan teknik diagnosa kesulitan belajar adalah sebagai berikut :

  • Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
  • Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi.
  • Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai-nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal komptensi yang dituntut.
  • Menganalisa hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
  • Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan didalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa dirumah melalui check list.
  • Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas, dan guru pembimbing.
  • Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dengan membandingkan angka nilai prestasi siswa yang bersangkutan dari bidang studi yang diikuti atau dengan angka nilai rata-rata dari setiap bidang studi. Atau dengan melakukan analisa terhadap catatan mengenai proses belajar. Hasil analisa empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas, kehadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar.
  • Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.
  • Memperkirakan alternatif pertolongan, menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Simpulan

Kesulitan dalam pembelajaran atau belajar merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik, terutama guru. Sebagai upaya untuk memberikan terapi terhadap permasalahan kesulitan belajar maka dapat ditempuh melalui media klinik pembelajaran.

Klinik pembelajaran merupakan wadah bagi guru untuk melakukan serangkaian upaya yaitu kegiatan refleksi, penemuan masalah, pemecahan masalah melalui beragam strategi untuk meningkatkan keterampilan dalam mengelola pembelajaran. Strategi utama yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas.

Karena klinik pembelajaran merupakan milik bersama para guru, maka tempat ini dapat digunakan dengan bebas untuk berdiskusi, melakukan refleksi atau merenung tentang proses pembelajaran yang telah dijalani, bersimulasi, misalnya bagaimana cara mengajarkan suatu konsep dengan menyenangkan, dan membuat catatan bersama-sama dengan teman sejawat. Di Klinik Pembelajaran, para supervisor akan membantu dalam melakukan berbagai kegiatan tersebut.

Dalam klinik pembelajaran analisis kesulitan pembelajaran dapat dilalui dengan identifikasi kesulitan belajar, mengadakan diagnosis kesulitan belajar, melakukan bimbingan dan konseling belajar, dan kemudian menetapkan model pembelajaran serta mengatasi kesulitan belajar.

  1. B.     Saran

Penerapan prosedur dan teknik diagnosis kesulitan belajar dalam proses konseling bisa sangat bervariasi, bahkan ada beberapa pakar yang bertolak belakang atau kontradiktif. Bahkan, menurut Carl Rogers, terapi atau pertolongan yang baik tidak membutuhkan keterampilan dan pengetahuan diagnosa. Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Wiliamson, Ellis, Frued dan Thorn yang menekankan bahwa diagnosa sebagai langkah yang perlu dipakai dalam pendekatan konseling, termasuk konseling yang mengenai kesulitan dalam belajar. Bahkan ditekankan bahwa diagnosa merupakan bagian dari kegiatan konselor dalam proses konseling.

Seyogyanya seorang pembimbing atau konselor perlu mengingat dan dapat bertindak bijaksana dalam mempertimbangkan kapan sebaiknya diagnosa dipergunakan atau tidak untuk menolong siswa dalam mengatasi kesulitan belajar.

Ada berbagai macam cara untuk mengidentifikasi siswa, diantaranya seorang konselor dapat menggunakan check list. Disamping penggunaan check list ini sangat efektif dan efisien terutama bila jumlah siswa banyak, check list ini bisa berfungsi sebagai alat pengayaan (screening device) untuk mengidentifikasi siswa yang perlu segera atau skala prioritas yang harus ditolong. Sebab-sebab yang mungkin mengakibatkan timbulnya kesulitan belajar, dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :

  1. Banyak sebab yang menimbulkan pola gejala yang sama. Seringkali gejala-gejala kesulitan belajar yang nampak pada seorang siswa disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan yang lain yang memeperlihatkan gejala yang sama.
  2. Banyak pola gejala yang ditimbulkan oleh sebab yang sama. Sebab yang nampak sama, dapat mengakibatkan gejala yang berbeda-beda bagi siswa yang berlainan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara sebab dan kondisi tempat tinggal siswa.
  3.  Sebab-sebab yang saling berkaitan dengan yang lain. Kesulitan yang menimbulkan reaksi dari orang-orang yang di sekelilingnya atau yang menyebabkan dia bereaksi pada dirinya sendiri dengan cara yang selanjutnya, menyebabkan timbulnya kesulitan yang baru.

Proses pemecahan kesulitan belajar pada siswa yaitu dimulai dengan memperkirakan kemungkinan bantuan apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitan atau tidak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa tertentu dan dimana pertolongan itu dapat diberikan. Perlu dianalisis pula siapa yang dapat memberikan pertolongan dan bantuan, bagaimana cara menolong siswa yang efektif dan siapa yang harus dilibatkan dalam proses konseling. Dalam proses pemberian bantuan, diperlukan bimbingan yang intensif, dan berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya.

Kemampuan yang harus dimiliki Konselor terkait dengan perannya sebagai seorang konselor, ialah mampu melakukan langkah-langkah :

  1. Mengumpulkan data tentang siswa.
  2. Mengamati tingkah laku siswa.
  3. Mengenal siswa yang memerlukan bantuan khusus.
  4. Mengadakan komunikasi dengan orang tua siswa untuk memperoleh keterangan dalam pendidikan anak.
  5. Bekerjasama dengan ma.syarakat dan lembaga yang terkait untuk membantu

memecahkanmasalah siswa.

  1. Membuat catatan pribadi siswa.
  2. Menyelenggarakan bimbingan kelompok ataupun individual.
  3. Bekerjasama dengan konselor yang lain dalam menyusun program bimbinga sekolah.
  4. Meneliti kemajuan siswa baik disekolah maupun diluar sekolah.

Mengingat sedemikian pentingnya peranan dan tanggung jawab konselor, maka diperlukan dua persyaratan khusus bagi seorang konselor, yaitu memiliki gelar kesarjanaan dalam bidang Psikologi dan mempunyai ciri-ciri serta kepribadian antara lain ; dapat memahami orang lain secara objektif dan simpatik, mampu mengadakan kerjasama dengan orang lain dengan baik, memiliki kemampuan perspektif, memahami batas-batas kemampuan sendiri, mempunyai perhatian dan minat terhadap masalah pada siswa dan ada keinginan untuk membantu, dan harus memiliki sikap yang bijak dan konsisten dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, seorang konselor diharapkan mampu membantu mengatasi dan memecahkan masalah kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Namun perlu diingat bahwa keberhasilan suatu konseling akan bisa maksimal apabila ada keterbukaan dan kepercayaan antara pihak klien dan konselor.


 

DAFTAR PUSTAKA

Buku Referensi :

Abin Syamsuddin (2003), Psikologi Pendidikan, Bandung : PT Remaja Rosda Karya

Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya (__ ___ ). Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

E. Mulyasa (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep; Karakteristik dan Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

E. Mulyasa (2004). Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Prayitno dan Erman Anti (1995), Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta : P2LPTK Depdikbud

Prayitno (2003), Panduan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdikbud Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah

Seri Pemandu Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (1995), Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Umum (SMU) Buku IV, Jakarta : IPBI

Udin S. Winataputra, dkk. (2003). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Winkel, W.S. (1991), Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, Jakarta : Gramedia

W.,Gulo (2005). Strategi Belajar Mengajar Jakarta :. Grasindo.

 

Web Site :

Maghfira Wijayanti, (2007), Alternatif Mengatasi Kesulitan Belajar, http://www.tujuhtujuhtiga.com/73/index.php?name=News&file=article&sid=50

Syarif Hidayat, (2004). Tes Diagnostik Atasi Siswa Sulit Belajar, Suplemen Teropong, Www.pikiran-rakyat.com

 

Iklan

RESUME PSIKOLOGI PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

Oleh :

KUSAERY MUSTOPA

NIM. 0951.063

 

 

`PSIKOLOGI PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN`

(PROF.DR.H.MOHAMAD SURYA : 2004)

BAB I

PSIKOLOGI DAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN

  1. A.    Pengertian Psikologi

Psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan “logos”  atau ilmu. Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dengan lingkungannya. Perilaku yang dimaksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati (hidup) yang meliputi jenis motorik, kognitif, konatif, dan efektif.

  1. B.     Pendekatan Psikologi

–          Pendekatan Behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Menurut pendekatan ini, perilaku adalah segala sesuatu yang dapat diamati oleh alat indra kita sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (stimulus-response). Tokoh dalam pendekatan ini ialah Watson, skinner, Pavlov, dan Thorndike.

–          Pendekatan Psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang berada dibawah kesadaran individu (libido). Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku individu dikontrol oleh bagian yang tidak sadar. Tokoh utamanya adalah Sigmund Freud.

–          Pendekatan Kognitif, bahwa perilaku itu sebagai proses internal (di dalam) atau suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran yang berupa perilaku. Tokoh dalam pendekatan ini adalah Piaget, Ausubel, dan Brunner.

–          Pendekatan Humanistik, lebih menekankan pada martabat kemanusiaan pada individu yang berbeda dengan hewan dan makhluk lainnya. Manusia sudah sejak awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Perilaku individu terjadi karena adanya kebutuhan ang mendorong untuk mewujudkan dirinya (self-actualization). Tokoh pendekatan ini ialah Maslow dan Carl Rogers.

–          Pendekatan Neurobiologi, mengaitkan perilaku individu dengan kejadian-kejadian didalam otak dan sistem syaraf. Perilaku seseorang amat tergantung pada kondisi otak dan syarafnya.

  1. C.    Jenis-jenis Psikologi

Beberapa jenis Psikologi khusus antara lain:

ü  Psikologi Perkembangan, mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan sejak kehidupan dimulai (konsepsi) sampai akhir kehidupan (mati).

ü  Psikologi Sosial, mengkaji perilaku individu dalam interaksi sosial.

ü  Psikologi Abnormal, mengkaji perilaku individu yang tergolong abnormal.

ü  Psikologi Komparatif, mengkaji perbandingan perilaku manusia dengan prilaku binatang.

ü  Psikologi Diferensial, mengkaji perbedaan perilaku antar individu.

ü  Psikologi Kepribadian, mengkaji perilaku individu secara khusus dari aspek kepribadiannya.

ü  Psikologi Pendidikan, mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan.

ü  Psikologi Industri, mengkaji perilaku individu dalam kaitan dengan dunia industri.

ü  Psikologi Klinis, mengkaji perilaku individu untuk keperluan klinis/penyembuhan.

ü  Psikologi Kriminal, mengkaji perilaku individu dalam situasi kriminal.

ü  Psikologi Militer, mengkaji perilaku individu dalam situasi kemiliteran.

  1. D.    Psikologi Pendidikan

Psikologi pendidikan ialah cabang psikologi yang secara khusus mengkaji berbagai perilaku individu dalam kaitan dengan situasi pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan ialah menemukan berbagai fakta, generalisasi, dan teori psikologis yang berkaitan dengan pendidikan untuk digunakan dalam upaya melaksanakan proses pendidikan yang efektif.

  1. E.     Pranan Psikologi dalam Pembelajaran dan Pengajaran
    1. Memahami siswa sebagai pelajar (perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dsb)
    2. Memahami prinsip-prinsip dan teori pembelajaran.
    3. Memilih metode-metode pembelajaran dan pengajaran.
    4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran.
    5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondisif.
    6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran.
    7. Membantu siswa-siswa yang mendapat kesulitan pembelajaran.
    8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran.
    9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran.
    10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru.
    11. Membimbing perkembangan siswa.

 

 

 

 

BAB II

PENGERTIAN PEMBELAJARAN

  1. A.    Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran ialah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Beberapa prinsip yang menjadi landasan pengertian tersebut diatas ialah:

Pertama, pembelajaran sebagai usaha memperoleh perubahan perilaku, dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  1. a.      Perubahan yang disadari.
  2. b.      Perubahan yang bersifat kontinu (berkesinambungan).
  3. c.       Perubahan yang bersifat fungsional.
  4. d.      Perubahan yang bersifat positif.
  5. e.       Perubahan yang bersifat aktif.
  6. f.        Perubahan yang bersifat permanen (menetap).
  7. g.      Perubahan yang bertujuan dan terarah.

Kedua, hasil pembelajaran ditandai dengan perubahan perilaku secara keseluruhan.

Ketiga, pembelajaran merupakan suatu proses.

Keempat, proses pembelajaran terjadi karena adanya sesuatu yang mendorong dan ada sesuatu tujuan yang akan dicapai.

Kelima, pembelajaran merupakan bentuk pengalaman.

  1. B.     Pengertian Pembelajaran dan Pengertian Lain
    1. 1.      Belajar dan pertumbuhan, perkembangan, kematangan, perubahan yang terjadi dalam pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan akan terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam secara naluriah.
    2. 2.      Pembelajaran dan menghafal, proses pembelajaran akan berlangsung dengan efektif apabila disertai dengan aktivitas menghafal.
    3. 3.      Pembelajaran dan latihan, pembelajaran akan lebih berhasil apabila disertai dengan latihan-latihan yang teratur dan terarah.
    4. 4.      Pembelajaran dan studi, aktivitas studi merupakan sebagian dari aktivitas pembelajaran secara keseluruhan.
    5. 5.      Pembelajaran dan berfikir, terdapat keterkaitan antara proses berfikir dengan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif  (terutama pembelajaran pemecahan masalah) sangat memerlukan keterampilan berfikir. Orang tidak mungkin berfikir tanpa belajar, dan tidak mungkin belajar tanpa berfikir.

 

BAB III

PROSES DAN HASIL PEMBELAJARAN

  1. A.    Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran ialah proses individu mengubah perilaku dalam upaya memenuhi kebutuhannya. Hal ini mengandung arti bahwa proses pembelajaran akan terjadi apabila individu menghadapi situasi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dengan insting atau kebiasaan. Proses pembelajaran akan merupakan suatu rangkaian aktivitas sebagai berikut:

Pertama, individu merasakan adanya kebutuhan dan melihat tujuan yang ingin dicapai.

Kedua, kesiapan (readiness) individu untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.

Ketiga, pemahaman situasi.

Keempat, menafsirkan situasi, yaitu bagaimana individu melihat kaitan berbagai aspek yang terdapat dalam situasi.

Kelima, tindak balas (response).

Keenam, akibat (hasil) pembelajaran.

  1. B.     Hasil Pembelajaran

Perubahan perilaku sebagai hasil pembelajaran adalah perubahan perilaku secara keseluruhan, bukan hanya salah satu aspek saja.

  1. C.    Jenis-Jenis Pembelajaran

Gagne membagi delapan jenis pembelajaran dari yang sederhana samapi dengan yang kompleks, yaitu:

  1. Signal Learning atau pembelajaran melalui isyarat.
  2. Stimulus Response learning atau pembelajaran rangsangan tindak balas.
  3. Chaining Learning atau pembelajaran melalui perantaian.
  4. Verbal Association Learning atau pembelajaran melalui perkaitan verbal.
  5. Discrimination Learning atau pembelajaran dengan membeda-bedakan.
  6. Concept Learning atau pembelajaran konsep.
  7. Rule Learning atau pembelajaran menurut hukum (aturan).
  8. Problem Solving Learning atau pembelajaran melalui penyelesaian masalah.

 

BAB IV

TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (1)

  1. A.    Peranan Teori dalam Pembelajaran dan Pengajaran

Empat fungsi umum suatu teori menurut Patrick Supper (1974), yaitu:

  1. Teori terdiri atas prinsip-prinsip yang dapat diuji sehingga dapat dijadikan kerangka untuk melaksanakan penelitian.
  2. Teori memberikan kerangka kerja bagi informasi yang spesifik.
  3. Menjadikan hal-hal yang bersifat kompleks menjadi lebih sederhana.
  4. Menyusun kembali dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.

Fungsi teori pembelajaran dalam pendidikan adalah:

  1. Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pengajaran.
  2. Menilai hasil-hasil yang telah dicapai untuk digunakan dalam ruang kelas.
  3. Mendiagnosis masalah-masalah dalam ruang kelas.
  4. Menilai hasil penelitian yang dilaksanakan berdasarkan teori-teori tertentu.
  5. B.     Teori Pembelajaran Behaviorisme

Behaviorisme berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui perkaitan antara rangsangan (stimulus) dengan tindak balas (respons). Maka perubahan perilaku itu lebih banyak karena pengaruh lingkungan.

Teori ini dibedakan antara teori pelaziman klasik dan teori pelaziman operan,

  1. Teori Pelaziman Klasik, dipelopori oleh IP Pavlov, seorang ahli fisiologi dari Rusia mengemukakan beberapa konsep atau prinsip pembelajaran, yaitu:
    1. a.      Excitation (pergetaran)
    2. b.      Irradiation (penularan)
    3. c.       Stimulus generalization (generalisasi rangsangan)
    4. d.      Extintion (penghapusan)

Teori lain, JB Watson berpendapat bahwa perilaku terbentuk melalui pembentukan tindak balas (reflex) dengan memberikan rangsangan tertentu.

Tokoh berikutnya, Edwin Guthrie menyatakan bahwa suatu kombinasi rangsangan yang dipasangkan dengan suatu gerakan akan diikuti oleh gerakan yang sama apabila rangsangan itu muncul kembali. Ia juga membedakan antara pergerakan dengan tindakan. Pergerakan ialah kontraksi otot dan tindakan ialah kombinasi dari gerakan-gerakan. Guthrie mengemukakan ada tiga metode dalam mengubah kebiasaan (terutama kebiasaan buruk), yaitu:

  1. Metode ambang (the threshold method), secara berangsur.
  2. Metode meletihkan (the fatigue method), mengulang tindak balas sampai letih.
  3. Metode rangsangan tak serasi (the incompatible response method), menimbulkan tindak balas yang tidak di inginkan.
  4. Teori Pelaziman Operan: Thorndike

Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan pembinaan hubungan antara rangsangan tertentu dengan perilaku tertentu. Ada tiga hukum pembelajaran dalam teori ini, yaitu hukum hasil (law of effect), hukum latihan (law of exercise) dan hukum kesiapan (law of readiness). Dalam kaitannya dengan pembelajaran dalam pendidikan Thorndike menembahkan lima macam hukum lagi yang disebut hukum minor, yaitu:

Pertama, hukum gerak tindak aneka (multiple response),

Kedua, hukum sikap atau keadaan awal (attitudes dispositions or state),

Ketiga, hukum kemampuan memilih hal-hal penting (partial or piecemeal activity of a situation),

Keempat, hukum tindak balas melalui analogi (assimilation of response by analogy)

Kelima, hukum perpindahan berkait (associative shifting)

  1. Teori Pelaziman Operan: Skinner

Perubahan perilaku itu adalah fungsi dari pada kondisi dan peristiwa lingkungan (yang tidak diketahui/tidak disadari). Pembelajaran menurut teori ini adalah perubahan suatu tindak balas yang dikehendaki. Dalam mengembangkan suasana kelas yang positif, teori skinner menyarankan peringkat-peringkat sebagai berikut: (1) menganalisis keadaan lingkungan kelas; (2) mengembangkan hal-hal yang dapat menjadi peneguhan positif; (3) memilih perilaku-perilaku pembelajaran yang akan diterapkan dalam kelas; (4) menerapkan perilaku pembelajaran, dengan memberikan pengendalian untuk mencatat dan menyesuaikan kalau diperlukan.

Tokoh lain dalam teori ini ialah Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan, ada empat unsur pokok dalam pembelajaran yaitu dorongan, isyarat, tindak balas, dan ganjaran. Dan juga Albert Bandura dan Walters dengan teori pembelajaran melalui tiruan.

  1. C.    Teori Pembelajaran Gestalt

Objek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai suatu keseluruhan yang terorganisasikan. Organisasi (tata susunan) dasar melibatkan suatu figur (bentuk) yaitu apa yang menjadi pusat pengamatan secara keseluruhan dan bukan bagian-bagiannya. Pokok-pokok pandangan gestalt berangkat dari empat asumsi dasar, yaitu:

Pertama, bahwa perilaku molar (perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar) hendaknya lebih banyak dipelajari dibandingkan dengan pandangan molecular (perilaku dalam bentuk kontraksi otot/kelenjar)

Kedua, membedakan antara lingkungan geografis (lingkungan yang sebenarnya ada) dengan lingkungan behavioral (sesuatu yang nampak).

Ketiga, bahwa organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur-unsur atau suatu bagian peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa.

Keempat, pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensori adalah merupakan suatu proses yang dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis.

Menurut Koffka dan Kohler, ada enam prinsip organisasi yang terpenting, yaitu:

1)      Prinsip figure ground relationship (hubungan bentuk dan latar), setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua, yaitu figur atau bentuk dan latar belakang.

2)      Prinsip proximity (kedekatan), bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (bila waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai bentuk tertentu.

3)      Pronsip similarity (kesamaan), sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai sesuatu obyek yang saling memiliki.

4)      Prinsip common direction (arah bersama), unsu-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama, cenderung akan dipersepsi sebagai suatu figur atau bentuk tertentu.

5)      Prinsip simplivity (kesederhanaan), orang cenderung menata bidang pengamatannya dalam bentuk yang sederhana, penampilan reguler, dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.

6)      Prinsip closure (ketertutupan), orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengalaman yang tidak lengkap.

Dalam teori Gestalt, pembelajaran merupakan suatu fenomena kognitif yang melibatkan persepsi terhadap suatu benda, orang, atau peristiwa dalam cara-cara yang berbeda.

Beberapa aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran dan pengajaran, antara lain:

  1. Pengalaman Tilikan (insight), kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
  2. Pembelajaran yang Bermakna (meaningful learning), hal-hal yang dipelajari siswa hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
  3. Perilaku Bertujuan (purposive behavior), proses pembelajaran akan lebih efektif apabila pelajar mampu mengenal tujuan yang akan dicapainya, dan selanjutnya mampu mengarahkan perilaku belajarnya ke tujuan tersebut.
  4. Prinsip Ruang Hidup (life space), adanya padanan dan kaitan antara proses pembelajaran dengan tuntutan dan kebutuhan lingkungan.
  5. Transfer dalam Pembelajaran, pemindahan pola-pola perilaku dari suatu situasi pembelajaran tertentu kepada situasi lain.

 

BAB V

TEORI-TEORI PEMBELAJARAN (2)

  1. A.    Teori Perkembangan Kognitif (Jean Piaget)

Perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana tujuan individu melalui suatu rangkaian yang secara kualitatif berbeda dalam berfikir, yang terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dengan lingkungan melalui dua proses yaitu Organisasi (proses penataan segala sesuatu yang ada dilingkungan) dan Adaptasi (proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan).

Implikasi dari teori ini dalam pengajaran ialah:

  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa.
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik.
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  4. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya.
  5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berdiskusi
  6. B.     Teori Pemrosesan Informasi (Robert Gagne)

Pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pada pembelajaran, yakni bahwa hasil pembelajaran yang dicapai individu adalah merupakan kumpulan keseluruhan hasil-hasil pembelajaran sebelumnya yang saling terkait. Gagne berpendapat bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil pembelajaran. Dalam pemrosesan informasi itu terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal (keadaan didalam individu/proses kognitif yang terjadi) dan kondisi eksternal (rangsangan dari lungkungan yang mempengaruhi) individu.

Menurut teori ini, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari hasil pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capabilities) yang terdiri atas:

  1. Informasi verbal, informasi yang dinyatakan dalam bentuk kata/kalimat baik tertulis/lisan.
  2. Kecakapan intelektual, kecakapan dalam melakukan interaksi dengan lingkungannya dengan menggunakan simbol-simbol.
  3. 3.      Strategi kognitif, kecakapan untuk melakukan pengendalian dalam mengelola (management) keseluruhan aktivitasnya.
  4. 4.      Sikap, kecakapan untuk memilih tindakan yang akan dilakuakan.
  5. 5.      Kecakapan motorik, kecakapan pergerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Peringkat pemrosesan pembelajaran menurut teori Gagne, yaitu:

1)      Fase Motivasi, dorongan untuk melakukan suatu tindakan dalam mencapai tujuan tertentu.

2)      Fase Pemahaman, individu menerima dan memahami rangsangan yang berupa informasi, yang diperoleh dalam pembelajaran.

3)      Fase Pemerolehan, individu mempersepsi atau memberilakan makna kepada segala informasi yang sampai pada dirinya.

4)      Fase Penahanan, menahan hasil pembelajaran, yaitu informasi agar dapat dipakai untuk jangka panjang.

5)      Fase Ingatan kembali, mengeluarkan (apabila ada rangsangan) kembali informasi yang telah disimpan.

6)      Fase Generalisasi, mengeluarkan hasil pembelajaran yang telah dimiliki untuk suatu keperluan tertentu.

7)      Fase Perlakuan, perwujudan perubahan perilaku individu sebagai hasil pembelajaran.

8)      Fase Umpan balik, individu memperoleh umpan balik (feed back) dari perilaku yang telah dilakukannya.

Bentuk-bentuk pembelajaran menurut Gagne, yaitu:

¨      Pembelajaran melalui isyarat,

¨      Pembelajaran melalui rangsangan,

¨      Pembelajaran perantaian,

¨      Pembelajaran perkaitan verbal,

¨      Pembelajaran membeda-bedakan,

¨      Pembelajaran konsep,

¨      Pembelajaran menurut hukum, dan

¨      Pembelajaran penyelesaian masalah.

Langkah-langkah pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, ialah:

  1. Melakukan tindakan untuk menarik perhatian siswa.
  2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran dan topik-topik yang akan dibahas.
  3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran.
  4. Menyampaikan isi pelajaran yang dibahas sesuai dengan topik yang telah ditetapkan.
  5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
  6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.
  7. Memberikan umpan balik terhadap perilaku yang ditunjukan siswa.
  8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil pembelajaran.
  9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil pembelajaran.
  10. C.    Teori Pembelajaran Sosial-Kognitif (Albert Bandura)

Pertama, bahwa individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada dilingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain (perilaku model/contoh).

Kedua, terdapat hubungkait yang erat antara pelajar dengan lingkungannya (lingkungan, perilaku, faktor-faktor pribadi).

Ketiga, hasil pembelajaran adalah berupa kode perilaku visual dan verbal yang diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Jadi perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di lingkungan, pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya sehingga bersesuaian dengan keadaan dirinya dan tujuannya.

Proses pembelajaran menurut teori Bandura, yaitu:

  1. Perilaku model (contoh),
  2. Pengaruh perilaku model,
  3. Proses internal belajar,

Fungsi perilaku model:

–          Untuk memindahkan informasi kedalam diri individu,

–          Untuk memperkuat atau memperlemah perilaku yang tlah ada,

–          Untuk memindahkan pola-pola perilaku yang baru.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran, ada tiga macam model:

  1. Live model, model yang berasal dari kehidupan nyata.
  2. Symbolic model, model-model yang berasal dari sesuatu perumpamaan.
  3. Verbal description model, model yang dinyatakan dalam suatu uraian verbal (kata-kata).

Model-model yang akan ditiru ditentukan oleh tiga faktor:

Pertama, ciri-ciri model (sesuai atau tidak dengan individu).

Kedua, nilai frestise (baik atau buruk untuk individu)

Ketiga, peringkat ganjaran intrinsik (kepuasan meniru suatu model)

Dalam mengembangkan proses pengajaran yang efektif, teori ini menyarankan strategi sebagai berikut:

1)      Mengidentifikasi model-model perilaku yang akan digunakan dalam kelas.

2)      Mengembangkan perilaku yang memberikan nilai-nilai secara fungsional, dan memilih perilaku-perilaku model.

3)      Mengembangkan urutan atau peringkat proses pengajaran.

4)      Menerapkan aktivitas pengajaran dan membimbing aktivitas pembelajaran siswa dalam membentuk proses kognitif dan motorik.

 

BAB VI

ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN

  1. A.    Pengantar

Kegiatan belajar-mengajar merupakan inti kegiatan pendidikan secara keseluruhan. Dalam prosesnya kegiatan ini melibatkan interaksi individu yaitu pengajar disatu pihak dan pelajar dipihak lain. Keduanya berinteraksi dalam suatu proses yang disebut proses belajar mengajar yang berlangsung dalam situasi belajar-mengajar.

Hubungan antara komponen-komponen dalam kegiatan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

3

 

4

1

2

PERILAKU

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1 = pengajar yang berperilaku mengajar

2 = pelajar (siswa) yang berperilaku belajar

3 = interaksi pengajar-pelajar melalui proses belajar-mengajar

4    = situasi yang menunjang berlangsungnya proses belajar-mengajar

  1. B.     Siswa: Prilaku Belajar

Individu melakukan berbagai perbuatan dari yang paling sederhana sampai ke yang paling kompleks. Menurut Robert Gagne, bentuk perilaku dari yang sederhana ke yang paling komplek itu adalah:

  1. Mengenal tanda atau isyarat,
  2. Menghubungkan stimulus dengan respons,
  3. Merangkaikan dua respons atau lebih,
  4. Asosiasi verbal (menghubungkan lebel ke stimulus)
  5. Diskriminasi (menghubungkan respons yang berbeda ke stimulus yang sama),
  6. Mengenal konsep (menempatkan stimulus yang beda dalam kelas yang sama),
  7. Mengenal prinsip (membuat hubungan antara dua konsep atau lebih), dan
  8. Pemecahan masalah (penggunaan prinsip untuk merancang respons).

Dalam hubungannya dengan proses belajar, yang harus dikenal betul oleh para pengajar adalah:

Metakognisi, yakni pengetahuan seorang individu terhadap proses dan hasil belajar yang terjadi dalam dirinya serta hal-hal yang terkait.

Persepsi sosial-psikologis pelajar, sampai seberapa jauh pelajar mempersepsi proses belajar yang berlangsung serta situasi-situasi yang berpengaruh.

Tujuannya ialah supaya peserta didik mampu menjadi:

–          Pribadi yang mandiri, pribadi yang mengenal, menerima dan mengarahkan dirinya sendiri dan lingkungannya, dan pada gilirannya dapat mewujudkan dirinya secara optimal.

–          Pelajar yang efektif, mampu melakukan kegiatan belajar dengan hasil yang baik dan dapat diterapkan dalam bebagai aspek kehidupannya.

–          Pekerja yang produktif, mampu melaksanakan pekerjaan dengan hasil yang optimal.

–          Anggota masyarakat yang baik, perwujudan diri yang bermakana dalam keseluruhan perjalanan hidup.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut diatas maka hal yang harus dikembangkan pada siswa:

  1. Belajar untuk menjadi (learning to be), kegiatan belajar yang dilakukan siswa sehingga pada gilirannya akan menghasilkan pribadi-pribadi yang mandiri.
  2. Belajar untuk belajar (learning to learn), bahwa apa yang dicapai dari satu pristiwa belajar, hendaknya mendorong siswa untuk belajar lebih lanjut, baik secara horizontal (perluasan kegiatan belajar) maupun vertikal (mencapai hasil yang lebih tinggi).
  3. Belajar untuk berbuat (learning to do), apa yang dipelajari hendaknya menjadi modal dasar bagi keefektifan dan produktivitas bekerja.
  4. Belajar untuk hidup bersama (learning to live together), mengembangkan nilai-nilai kehidupan melalui tatanan hidup bersama atas dasar toleransi yang ditandai oleh nilai-nilai universal yang bersumber dari ajaran agama.
  5. C.    Guru: Prilaku Mengajar

Guru tidak terbatas hanya sebagai pengajar dalam arti penyampai pengetahuan, akan tetapi lebih meningkat sebagai:

Perancang pengajaran, mengelola seluruh proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap anak dapat belajar secara efektif dan efisien.

Manajer pengajaran, senantiasa menimbulkan, memelihara, meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

Penilai hasil belajar siswa, secara terus menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang dicapai oleh siswa dari waktu kewaktu.

Direktur belajar, dapat mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam, sehingga dapat membantu dalam keseluruhan proses belajarnya.

Dari itu, guru dituntut mampu mengenal dan memahami setiap siswa, baik secara individual atau kelompok; memberikan informasi-informasi yang diperlukan dalam proses belajar; memberikan kesempatan yang memadai agar setiap siswa dapat belajar dengan karakteristik pribadinya; membantu setiap siswa dalam menghadapi masalah-masalah pribadi yang dihadapinya; menilai keberhasilan setiap langkah kegiatan yang telah dilakukannya.

Karakteristik pengaja yang diharapkan adalah:

  1. Memiliki minat yang besar terhadap pelajaran dan mata pelajaran yang diajarkannya.
  2. Memiliki kecakapan untuk memperkirakan kepribadian dan suasana hati secara tepat serta membuat kontak dengan kelompok secara tepat.
  3. Memiliki kesabaran, keakraban, dan sensitivitas yang diperlukan untuk menumbuhkan semangat belajar.
  4. Memiliki pemikiran yang imajinatif (konseptual) dan praktis dalam usaha memberikan penjelasan kepada peserta didik.
  5. Memiliki kualifikasi yang memadai dalam bidangnya, baik isi maupun metode.
  6. Memiliki sikap terbuka, luwes, dan eksperimental dalam metode dan teknik.

Pengajar akan mengajar dengan baik apabila:

1)      Memiliki sikap dasar yang benar dan:

–          Bertindak sebagai pembimbing dan kawan

–          Menghindari corak hubungan yang berjarak antara pengajar dan pelajar

–          Memahami tujuan dan kesulitan pelajaran; oleh karena itu, seyogyanya para pengajar:

ü  Bertemu dengan kelompok secara informasi untuk mengenal mereka secara mendalam.

ü  Berminat kepada pelajar disamping berminat kepada pelajaran.

2)      Memiliki sasaran yang benar dan:

–          Mewujudkan tujuan untuk mengembangkan pribadi belajar dan bukan memberikan informasi

–          Menyadari bahwa tujuan jangka panjang adalah perkembangan optimal dan pribadi belajar, sehingga tercapai ke puasan pribadi dan produkktivitas kerja yang optimal; oleh karena itu, para pengejar seyogianya:

ü  Menyiapkan rencana kegiatan belajar mengajar dengan sebaik-baiknya.

ü  Melaksanakan rencana tersebut dengan baik.

3)      Memiliki informasi faktual yang diperlukan; oleh karena itu mengajar seyogyanya:

–          Menemukan, memahami, dan memilih informasi yang memadai

–          Mempersiapkan pokok-pokok rangkuman materi

–          Menghargai dan memanfaatkan penemuan pelajar

4)      Memahami macam-macam metoda dan teknik, dan mengetahui bagaimana memilihnya, oleh karena itu, parapelajar seyogyanya:

–          Mampu memilih macam-macam metoda dan teknik pada setiap tahapan

–          Memberikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan, mendapatkan informasi, analisis, menilai dan menyatakan gagasan dengan jelas.

5)      Membantu pelajar dalam merencanakan tindak lanjut, oleh karena itu, para pelajar seyogyanya:

–          Mendiskusikan masalah-masalah secara baik sebelum kegiatan belajar berakhir

  1. D.    Interaksi Pengajar – Pelajar

Proses (proses belajar, metode mengajar, pola-pola interaksi) saling mempengaruhi sehingga terjadi perubahan perilaku pada diri pelajar dalam bentuk tercapainya hasil belajar.

Faktor-faktor yang harus diperhatikan guru:

  • Penjabaran tujuan
  • Motivasi kepada siswa
  • Penggunaan model
  • Urutan materi
  • Bantuan dalam usaha pertama
  • Pengaturan latihan secara efektif
  • masalah perbedaan individual
  • evaluasi dan bimbingan
  • usaha menghafal
  • bantuan dalam aplikasi hasil belajar

Pola-pola interaksi, yaitu:

  1. Interaksi individual – individual,
  2. Individual – kelompok,
  3. Kelompok – individual,
  4. Kelompok – kelompok.
  5. E.     Model Pembelajaran

Salah satu model pembelajaran yang cukup konperehensif oleh Ernest Chang dan Don Simpson (1997) dengan nama “The Circle of Learning: Individual and Group Proses”. Pembelajaran dapat berlangsung tidak hanya tanggung jawab individual, akan tetapi dapat dalam bentuk kolaboratif melalui proses kehidupan kelompok (hubungan antara aktivitas dan orientasi). Dalam proses berlangsungnya pembelajaran ada dua dimensi, yaitu:

Dimensi Aktivitas Pembelajaran, aktivitas pembelajaran yang dilakukan dirinya sendiri dan kelompok sebaya.

Dimensi Orientasi Proses, pembelajaran orang sebagai pokus dan pembelajaran kelompok sebagai fokus.

Dari hubungan dua dimensi itu menghasilkan pola pembelajaran, yaitu:

  1. 1.      Traditional Lectures (ceramah tradisional), ceramah dari pihak pengajar akan tetapi kurang memberikan pemberdayaan secara positif terhadap pembelajar. Ciri utamanya ialah mendengarkan penjelasan pengajar, kegiatan dan lingkungan dikendalikan oleh pengajar, pengetahuan yang diperoleh tergantung penangkapan pembicaraan pengajar, sedikit dukungan teknologi, dan berlangsung dalam suasana otoriter.
  2. 2.      Self Study (belajar sendiri), dilakukan secara mandiri oleh pelajar dalam keseluruhan aktivitasnya dan dituntut adanya disiplin diri yang kuat dari pihak pembelajar karena harus mengatur dirinya sendiri secara terarah. Ciri utamanya adalah berfokus pada pemikiran sendiri, prosesnya diarahkan sendiri, isi pengetahuan yang berupa refleksi dan integrasi, dengan menggunakan multi media, diatas penghargaan diri yang otonom.
  3. 3.      Concurrent Learning (pembelajaran berbarengan), pembelajaran dilakukan atas dasar tanggung jawab pembelajar secara mandiri, namun dalam suasana berbarengan dengan yang lain dan saling berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung. Ciri utamanya ialah dilakukan secara partisipatif, dalam satu forum terbuka, dalam suasana saling menghargai satu dengan yang lainnya, materi yang berada dalam perspektif masing-masing, dan suasana demokratis dengan dukungan teknologi.
  4. 4.      Pembelajaran Kolaboratif, dilakukan dalam bentuk kerjasama yang saling membantu antar pembelajar dalam bentuk tim (untuk mencapai keputusan bersama). Ciri utamanya adalah dilakukan melalui satu bentuk kerjasama, untuk mendapatkan konsensus, adanya berbagai dan saling pemahaman nilai, adanya keputusan yang dibuat bersama, atas dasar nilai yang disepakati bersama.

Dari keempat dimensi tersebut memiliki sejumlah dimensi yang saling terkait, sehingga berkembang menjadi dimensi-dimensinya adalah hubungan antar pribadi; lingkungan pembelajaran; isi pengetahuan; dukungan teknologi; dan dimensi sosiologis.

BAB VII

ASPEK-ASPEK PRILAKU PEMBELAJARAN

  1. A.    Prinsip-Prinsip Motivasi dalam Pembelajaran

Beberapa alasan bahwa motivasi itu merupakan hal yang sangat penting;

  1. Para siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja sama dalam belajar dan senantiasa berada dalam situasi itu,
  2. Para siswa harus senantiasa didorong untuk bekerja dan berusaha sesuai dengan tuntutan belajar,
  3. Motivasi merupakan hal yang sangat penting dalam memelihara dan mengembangkan SDM melalui pendidikan.

Motivasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan dorongan untuk mewujudkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu.

Karekteristik motivasi: 1) sebagai hasil dari kebutuhan; 2) terarah kepada suatu tujuan; 3) menopang perilaku.

Alasan bahwa motivasi itu merupakan hal yang kompleks, yaitu:

1)      Motif yang menjadi sebab dari tindakan seseorang itu tidak dapat diamati, akan tetapi hanya diperkirakan

2)      Individu mempunyai kebutuhan atau harapan yang senantiasa berubah dan berkelanjutan

3)      Manusia memuaskan kebutuhannya dengan bermaca-macam cara

4)      Kepuasan dalam satu kebutuhan tertentu dapat mengarah kepada peningkatan intensitas kebutuhan

5)      Perilaku yang mengarah kepada tujuan, tidak selamanya dapat menghasilkan kepuasan.

Reaksi yang terjadi bila dalam pencapaian tujuan itu belaum berhasil menimbulkan keadaan yang disebut frustasi atau reaksi seseorang terhadap kegagalan dan ke-kecewaannya, ialah:

Pertama Reaksi yang tergolong konstruktif, individu mampu menghadapi kegagalan itu

Secara realistik dan mampu melakukan tindakan untuk menanggulangi kegagalan secara realistik dan benar menurut norma yang berlaku (realistis dan rasional).

Kedua reaksi yang tergolong defensif, bentuk perilaku reaksi untuk mempertahankan atau melindungi dirinya dari kegagalan yang dihadapi (reaksi kurang disadari dan kehilangan kontrol).

  1. B.     Kepuasan Belajar dan Motivasi

Faktor yang mempengaruhi kepuasan siswa dalam belajar:

  1. Imbalan hasil belajar, sesuatu yang dapat diperoleh siswa sebagai konsekuensi dari perilaku belajar yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan (berbentuk nilai atau angka).
  2. Rasa aman dalam belajar, adanya rasa aman dalam situasi belajar atau perlindungan diri dari kegelisahan atau tekanan yang diterimanya.
  3. Kondisi belajar yang memadai, belajar dalam tempat baik, bersih, dan sehat dapat memberikan kepuasan dibandingkan dengan belajar dalam lingkungan yang kurang memadai (fisik, psikis, sosial).
  4. Kesempatan untuk memperluas diri, kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan diri demi masa depannya yang lebih baik.
  5. Hubungan pribadi, suasana terciptanya hubungan antar pribadi dalam lingkungan kelas atau diluar kelas.

Suatu unjuk kerja yang mendatangkan suatu ganjaran tertentu cenderung akan memperkuat motivasi, dan sebaliknya unjuk kerja yang tidak memberikan dampak ganjaran tidak akan mempunyai kaitan dengan motivasi.

  1. C.    Prinsip-Prinsip Motivasi
    1.  Prinsip kompetisi, persaingan secara sehat baik inter pribadi (dalam diri pribadi masing-masing/dimensi tempat dan waktu) ataupun antar pribadi (individu yang satu dengan yang lain).
    2. Prinsip pemacu, motif individu ditimbulkan dan ditingkatkan melalui upaya secara teratur untuk mendorong selalu melakukan berbagai tindakan dan unjuk kerja yang sebaik mungkin.
    3. Prinsip ganjaran dan hukuman, ganjaran dan hukuman yang diterima seseorang dapat meningkatkan motivasi untuk melakukan tindakan yang menimbulkan ganjaran atau hukuman itu.
    4. Kejelasan dan kedekatan tujuan, makin jelas dan makin dekat suatu tujuan, maka akan semakin mendorong seseorang untuk melakukan tindakan.
    5. Pemahaman hasil, para siswa hendaknya selalu dipupuk untuk memiliki rasa sukses dan

terhindar dari berkembangnya rasa gagal.

  1. Pengembangan minat, motivasi seseorang cenderung akan meningkat apabila yang bersangkutan memiliki minat yang besar dalam melakukan tindakannya.
  2. Lingkungan yang kondusif, lingkungan kerja yang kondusif, baik lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis, dapat menumbuhkan dan mengembangkan motif untuk bekerja dengan baik dan produktif.
  3. Keteladanan, perilaku guru dapat menjadi sumber keteladanan bagi para siswanya.
  4. D.    Pengamatan dan Perhatian
    1. Pengamatan, suatu proses mengenal lingkungan dengan menggunakan alat indera, dengan proses pengamatan yang dimulai dari penerimaan rangsangan oleh alat indera, pengiriman informasi kepusat kesadaran atau otak, pemberian tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.

Beberapa gaya pengamatan individu, yaitu:

–          Gaya Pengamatan Visual, dengan menggunakan indera penglihatan atau mata.

–          Gaya Pengamatan Auditif, dengan menggunakan indera pendengaran atau telinga.

–          Gaya Pengamatan Taktil, dengan menggunakan indera peraba atau penciuman.

–          Gaya Pengamatan Kinestetik, pengamatan melalui gerakan.

Faktor-faktor ke efektifan suatu pengamatan, antara lain:

  1. Faktor Rangsangan, ada rangsangan yang diterima individu apabila jelas, kuat dan berarti.
  2. Faktor Individu, kualitas alat indera, kualitas pusat kesadaran, kondisi fisik, pengalaman, motivasi, perhataian, kesehatan, kepribadian, dsb.
  3. Faktor Lingkungan, lingkungan yang baik akan menunjang terjadinya pengamatan yang baik dan sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat proses pengamatan.

Macam-macam kelainan dalam pengamatan:

Ilusi, kelainan pengamatan dalam bentuk terjadinya perbedaan antara apa yang diamati dengan keadaan yang sebenarnya.

Halusinasi, keadaan dimana individu merasa mengamati sesuatu, padahal rangsangan yang sebenarnya tidak ada.

Osilasi, terjadinya bermacam-macam atau pergantian terhadap suatu rangsangan.

Hal-hal yang dapat dilakukan guru untuk membantu siswa melakukan pengamatan yang baik dalam pembelajaran adalah:

1)      Pengamatan akan lebih efektif kepada rangsangan-rangsangan yang mempunyai struktur dan bentuk yang jelas, Hal-hal yang akan dipelajari hendaknya mempunyai struktur dan organisasi yang jelas.

2)      Pengamatan kepada sesuatu yang dekat akan lebih berkesan, siswa diberi banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan hal-hal yang akan dipelajari.

3)      Pengamatan dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, pada waktu guru mulai mengajar sebaiknya dimulai dengan pengalaman-pengalaman siswa.

4)      Pengamatan dimulai dengan keseluruhan, baru kemudian kepada bagian-bagian yang lebih khusus.

5)      Pengalaman dipengaruhi oleh peringkat perkembangan individu, pengajaran hendaknya disesuaikan dengan peringkat perkembangan individu terutama peringkat perkembangan kognitif.

6)      Terdapat perbedaan individual dalam pengamatan. Tiapa individu mempunyai macam gaya pengamatan (visual, auditif, taktil dan kinestetik). Oleh karena itu, pengajaran hendaknya disesuaikan dengan gaya pengamatan masing-masing siswa.

7)      Beberapa faktor dapat menimbulkan terjadinya kesalahan atau kelainan pengamatan, hindari hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan pengamatan, seperti rangsangan yang kurang jelas, kurangnya perhatian siswa, pengalaman dimasa lampau, kurang baiknya alat indera, lingkungan yang mengganggu, dsb.

  1. Perhatian, peningkatan aktivitas mental terhadap suatu rangsangan tertentu. Setiap individu mempunyai cara memberikan perhatian yang berbeda. Ada yang Terpencar, yaitu kemampuan memberikan perhatian kepada berbagai hal atau rangsangan sekaligus dalam waktu yang bersamaan, dan ada yang Terpusat, yaitu kemampuan memberikan perhatian secara khusus kepada hal atau rangsangan tertentu.

Hal-hal yang mempengaruhi perhatian dari faktor rangsangan ialah:

1)      Intensitas atau kekuatan rangsangan, intensitas atau kekuatan yang lebih tinggi akan lebih menarik pehatian.

2)      Actractiveness atau daya tarik, rangsangan yang sangat berbeda dengan rangsangan lain di lingkungannya, sehingga mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian.

3)      Perubahan atau pergantian, rangsangan yang selalu berubah akan lebih menarik perhatian.

4)      Keteraturan, rangsangan yang datang berulang-ulang secara teratur.

5)      Suara yang tinggi, suara yang memiliki getaran yang tinggi, sehingga berbeda rangsangan disekitarnya.

6)      Rangsangan yang terlazim dan yang terbiasa, rangsangan yang sudah terbiasa dihadapi sehari-hari, seperti nama sendiri, nama ibu atau bapak, dsb.

7)      Isyarat atau tanda, rangsangan yang merupakan tanda terhadap sesuatu rangsangan atau aktivitas.

Hal-hal yang mempengaruhi perhatian dari faktor individu ialah:

1)      Minat, sesuatu yang diminati akan lebih menarik perhatian.

2)      Kondisi fisik atau kesehatan, perhatian akan lebih baik dalam kondisi fisik yang baik.

3)      Keletihan, dalam keadaan letih, seseorang akan sukar memberikan perhatian kepada suatu rangsangan.

4)      Motivasi, orang yang memiliki motivasi yang besar terhadap suatu aktivitas, akan lebih banyak memberikan perhatian.

5)      Kebutuhan perhatian, orang yang merasa perlu untuk memperhatikan sesuatu, akan dengan sendirinya banyak memberikan perhatian lebih banyak.

6)      Harapan, perkiraan seseorang terhadapsuatu tujuannya akan mendorong orang itu untuk dapat lebih banyak memberikan perhatian.

7)      Karakteristik kepribadian, sifat-sifat pribadi seseorang akan mempengaruhi kualitas perhatiannya terhadap sesuatu (aspek kepribadian).

Guru dapat membantu siswa dalam memusatkan memelihara perhatian dalam proses pembelajaran, dengan hal-hal sebagai berikut:

Isyarat, memberikan isyarat tertentu kepada siswa pada saat memulai atau pergantian pelajaran.

Gerakan, senantiasa bergerak dan berkeliling keseluruh kelas selama menyajikan pelajaran.

Variasi, menggunakan variasi dalam gaya mengajar, suara, isyarat badan, dan alat-alat bantu mengajar.

Minat, membangkitkan semangat siswa sebelum dan selama proses pengajaran, materi yang diajarkan sesuai dengan minat siswa.

Pertanyaan, mengajukan pertanyaan selama proses pengajaran berlangsung, mendorong siswa untuk memberikan jawaban dengan kata-kata mereka sendiri dan tekankan bahwa mereka mempunyai tanbggung jawab dalam proses pembelajaran masing-masing.

  1. E.     Mengingat dan Lupa

Mengingat merupakan proses menerima, menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi-informasi yang telah diterima melalui pengamatan, kemudian disimpan dalam pusat kesadaran/otak (terdiri dari ingatan jangka panjang dan pendek) setelah diberikan tafsiran. Proses mengingat banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

–          Faktor individu, memiliki minat yang besar, motivasi yang kuat, memiliki metode dalam pengamatan dan pembelajaran, kondisi fisik dan kesehatan yang baik.

–          Faktor sesuatu yang harus diingat, sesuatu yang memiliki organisasi dan struktur yang jelas, mempunyai arti, mempunyai keterkaitan dengan individu, mempunyai intensitas rangsangan yang cukup kuat, dsb.

–          Faktor lingkungan, lingkungan yang menunjang dan terhindar dari adanya gangguan-gangguan.

Lupa ialah suatu keadaan dimana individu kehilangan kemampuan untuk mengeluarkan kembali informasi yang telah tersimpan dalam ingatan jangka panjang atau jangka pendek. Lupa dapat disebabkan oleh:

  1. Keusangan, hilangnya informasi dari tempat penyimpanan ingatan karena tidak pernah dipakai.
  2. Gangguan informasi baru terhadap informasi lama atau sebaliknya.
  3. Gangguan dalam otak.
  4. Kesengajaan untuk dilupakan.
  5. F.     Transfer dalam Pembelajaran

Pemindahan hasil pembelajaran dari satu situasi kesituasi lain. Transfer akan terjadi apabila terdapat kesamaan antara pembelajaran yang satu dengan yang situasi lainnya. Ada dua macam transfer yaitu:

–          Transfer positif, hasil pembelajaran yang satu menunjang hasil pembelajaran yang lainnya, dan

–          Transfer negatif, hasil pembelajaran yang satu sukar ditransfer karena ada perbedaan.

  1. G.    Kebutuhan

Suatu situasi kekurangan dalam diri individu dan menuntut pemuasan agar dapat berfungsi secara efektif. Ada dua macam kebutuhan yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Kebutuhan fisiologi (hayat), disebut juga kebutuhan biologis yang meliputi jenis kebutuhan mendapatkan makanan, minuman, tidur dan istirahat, udara, pembuangan kotoran, sek dan bergerak.
  2. Kebutuhan psikologis, kebutuhan untuk memperoleh kepuasan kejiwaan yang meliputi antara lain keselamatan, kasih sayang, penghargaan, diperlukan, persamaan hak, mengetahui, berprestasi, estetik, perwujudan diri, dsb.

 

BAB VIII

PSIKOLOGI MENGAJAR

  1. A.    Proses Pengajaran yang Efektif
    1. 1.      Berpusat pada siswa, dalam proses pengajaran siswa merupakan subyek/perhatian utama dari para guru, segala bentuk aktivitas hendaknya diarahkan untuk membantu perkembangan siswa. Keberhasilan proses pembelajaran dan pengajaran terletak dalam perwujudan diri siswa sebagai pribadi yang mandiri, pelajar efektif dan pekerja produktif.
    2. 2.      Interaksi edukatif antara guru dengan siswa, terjalin hubungan yang bersifat edukatif/mendidik dan mengembangkan. Guru harus menjadi figur yang merangsang perkembangan pribadi siswa. Adanya saling pemahaman antar guru dengan siswa.
    3. 3.      Suasana demokratis, semua pihak memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi dan potensinya, sehingga dapat memupuk rasa percaya diri, dan pada gilirannya dapat berinovasi dan berekreasi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
    4. 4.      Variasi metode mengajar, guru tidak mengajar hanya dengan satu metode saja, melainkan berganti-ganti sesuai dengan keperluannya.
    5. 5.      Guru profesional, guru memiliki keahlian yang memadai dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Guru mencintai pekerjaannya dan melaksanakannya dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab.
    6. 6.      Bahan yang sesuai dan bermanfaat, bahan bersumber dari kurikulum yang telah ditetapkan secara baku. Tugas guru adalah mengolah bahan pengajaran menjadi sajian yang dapat dicerna (sesuai dengan kondisi dan lingkungan siswa) oleh siswa secara tepat dan bermakna, sehingga siswa melakukan aktivitas pembelajaran dengan lebih bergairah.
    7. 7.      Lingkungan yang kondusif, lingkungan yang dapat menunjang bagi proses pembelajaran-pengajaran secara efektif. Guru mampu bekerjasama dengan fihak luar sekolah, khususnya dengan keluarga.
    8. 8.      Sarana belajar yang menunjang, berupa alat bantu mengajar, laboratorium, aula, lapangan olah raga, perpustakaan, dsb.
  2. B.     Mengenal Model-Model Mengajar

Bruce Joyce dan Marsha Weil (1986, model of teaching. New Jersey: Prentice Hall International) mengemukakan ada sejumlah model mengajar yang dikelompokan dalam em[pat rumpun, yaitu:

  1. Rumpun model-model informasi, berorientasi pada kecakapan siswa dalam memproses informasi dan cara-cara mereka dapat memperbaiki kecakapan untuk menguasai informasi.
  2. Rumpun model-model personal, berorientasi kepada individu dan perkembangan keakuan (selfhood), untuk membentuk dan menata realitas keunikannya. Perhatian banyak diberikan kepada kehidupan emosional.
  3. Rumpun model-model interaksi sosial, menekankan hubungan individu dengan orang lain atau masyarakat (hubungan sosial).
  4. Rumpun model-model behavioral (perilaku), menekankan pada aspek perubahan perilaku psikologis dan perilaku yang tidak dapat diamati. Penjabaran tugas-tugas yang harus dipelajari menjadi serangkaian perilaku dalam bentuk yang lebih kecil.
  5. C.    Mengembangkan Perbendaharaan Model-Model Mengajar

Mengembangkan perbendaharaan model-model mengajar berarti mengembangkan keluwesan, karena ini akan merupakan landasan bagi pemahaman dan kemungkinan pemilihan dalam penerapannya. Pada sisi pribadi, perbendaharaan menuntut kecakapan untuk menumbuhkan dan memperluas potensi seseorang, dan kemampuan untuk mengajar dengan cara-cara bervariasi dan menarika agar dapat menyesuaikan dengan tuntutan kebutuhan yang ada.

  1. D.    Memilih Model untuk Dipelajari

Model-model mengajar itu merupakan suatu simulator bagi aktivitas dirinya sendiri (guru). Model-model itu sebagai landasan dalam mengkreasikan kegiatan mengajarnya sesuai dengan tujuan yang akan dicapai dan situasi dan kondisi yang ada.

 

BAB IX

PSIKOLOGI GURU

  1. A.    Peranan Guru

Keseluruhan perilaku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru. Disekolah guru berperan sebagai perancang pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil pembelajaran, dan sebagai pembimbing murid. Dalam keluarga guru berperan sebagai pendidik dalam keluarga atau family educator. Sedangkan dimasyarakat guru berperan sebagai pembina masyarakat, pendorong masyarakat, penemu masyarakat, dan sebagai agen masyarakat.

Dalam hubungannya dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan, lebih jauh guru berperan sebagai:

  1. Pengambil inisiatif, pengarah, dan penilai aktivitas-aktivitas pendidikan.
  2. Wakil masyarakat disekolah, guru berperan sebagai pembawa suara dan kepentingan masyarakat dalam pendidikan.
  3. Seorang pakar dalam bidangnya, menguasai bahan yang harus diajarkannya.
  4. Penegak disiplin, guru harus menjaga agar siswa-siswa melaksanakan disiplin.
  5. Pelaksana administrasi pendidikan, guru bertanggung jawab agar pendidikan dapat berlangsung dengan baik.
  6. Pemimpin generasi muda, guru bertanggung jawab untuk mengarahkan perkembangan siswa sebagai generasi muda yang akan menjadi pewaris masa depan.
  7. Penterjemaah kepada masyarakat, guru berperan untuk menyampaikan berbagai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.

Dipandang dari segi dirinya pribadi (self-oriented), seorang guru dapat berperan sebagai:

  1. Pekerja sosial, memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  2. Pelajar dan ilmuan, harus senantiasa belajar secara terus menerus.
  3. Orang tua, wakil orang tua disekolah bagi setiap siswa.
  4. Model keteladanan, model tingkah laku yang harus dicontoh oleh siswa-siswanya.
  5. Pemberi keselamatan, memberikan rasa keselamatan bagi setiap siswa.

Dari sudut pandang secara psikologis, guru adalah sebagai:

  1. Pakar psikologi pendidikan, memahami psikologi pendidikan dan mampu mengamalkannya dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
  2. Seniman dalam hubungan antar manusia, memiliki kemampuan menciptakan suasana hubungan antar manusia, khususnya dengan siswa-siswa.
  3. Pembentuk kelompok, menciptakan kelompok dan aktivitas-aktivitas sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan.
  4. Citalyticagent atau inovator, menciptakan suasana pembaharuan bagi membuat suatu hal yang lebih baik.
  5. Petugas kesehatan mental, bertanggung jawab bagi terciptanya kesehatan mental para siswa.
  6. B.     Kebutuhan dan Motivasi

Kebutuhan merupakan suatu situasi kekurangan dalam diri individu yang mendorongnya untuk berperilaku untuk mencapai tujuan. Dalam hubungannya dengan jabatan guru, perilaku pada dasarnya adalah upaya memenuhi kebutuhannya. Lima tingkatan kebutuhan manusia menurut A.H. Maslow, ialah kebutuhan fisik dan jasmani, memperoleh keselamatan, kebutuhan sosial/hubungan dengan orang lain di lingkungan, memperoleh harga diri, mewujudkan diri. Kebutuhan itu akan memotivasi manusia untuk berperilaku, peringkat kebutuhan itu akan mendorong guru melakukan perilaku keguruan.

Faktor yang mempengaruhi kerja guru, ialah:

  1. Imbalan kerja, guru merasakan memperoleh kepuasan kerja dari imbalan yang diterimanya.
  2. Rasa aman dalam pekerjaan, merasakan adanya keamanan lahir bathin dalam melaksanakan tugasnya.
  3. Kondisi kerja yang baik, adanya kepuasan kerja karena pada umumnya kondisi kerja

guru lebih baik dari kondisi lainnya.

  1. Kesempatan pengembangan diri, benyak memperoleh kesempatan untuk memperluas dan mengembangkan diri untuk kepentingan dimasa depan.
  2. Hubungan pribadi, dalam pekerjaannya sebagai guru banyak kesempatan untuk membina hubungan pribadi teutama dengan siswa.
  3. C.    Kompetensi Guru

Kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam kaitan dengan sesuatu tugas tertentu. Kompetensi guru meliputi:

–          Kompetensi personal, kemampuan pribadi yang diperlukan agar dapat menjadi guru yang baik. Mencakup kemampuan pribadi yang berkenaan dengan pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri.

–          Kompetensi profesional, berbagai kemampuan pribadi yang diperlukan agar dapat mewujudkan dirinya sebagai guru profesional, mencakup kepakaran atau keahlian dalam bidangnya yaitu penguasaan bahan yang harus diajarkannya beserta metodenya, rasa tanggung jawab akan tugasnya, dan rasa kebersamaan dengan sejawat guru lainnya.

–          Kompetensi sosial, kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain atau keterampilan dalam interaksi sosial dalam melaksanakan tanggung jawab sosial.

–          Kompetensi intelektual, penguasaan berbagai ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan tugasnya sebagai guru.

–          Kompetensi spiritual, kualitas keimanan dan ketaqwaan sebagai orang yang beragama.

Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh A.M. MacKay, tentang pengajaran yang efektif (dalam Guy R. Lefrancois. 1991. Psychology for Teaching. Belmont, California, Wadwordh Publising Company, p.13-14) disarankan PERILAKU UNTUK MENGAJAR YANG EFEKTIF, sebagai berikut:

  1. Menggunakan suatu sistem aturan tertentu dalam menghadapi hal-hal pribadi atau prosedur tetentu.
  2. Mencegah agar perilaku siswa yang salah tidak keterusan.
  3. Mengarahkan tindakan dengan disiplin secara tepat.
  4. Bergerak keseluruh ruang kelas untuk mengamati seluruh siswa.
  5. Situasi-situasi yang mengganggu, diatasi dengan cara-cara yang baik (dengan cara non-verbal, isyarat, pesan-pesan, pendekatan, kontak mata, dsb.
  6. Memberikan tugas-tugas yang menarik minat siswa, terutama apabila mereka bekerja secara bebas.
  7. Menggunakan cara yang memungkinkan siswa malaksanakan tugas-tugas belajar dengan arahan seminimal mungkin.
  8. Memanfaatkan waktu pembelajaran sebaik mungkin dan siswa harus terlibat aktif dan produktif dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.
  9. Menggunakan cara-cara tertentu untuk mendapatkan perhatian siswa.
  10. Tidak memulai berbicara kepada kelas sebelum semua siswa memberikan perhatian.
  11. Menggunakan teknik-teknik mengajar yang bervariasi dan menyesuaikan pengajaran dengan keperluan pembelajaran.
  12. Menggunakan satu sistem pemeriksaan tugas-tugas.
  13. Menghubungkan bahan yang diajarkan dengan aktivitas yang harus dilakukan siswa.
  14. Menggunakan teknik-teknik yang memberikan kemudahan berpindah secara berangsur dari aktivitas yang konkrit ke yang lebih abstrak.
  15. Menggunakan campuran pertanyaan dari peringkat yang rendah dan tinggi.
  16. Menyadari apa yang sedang berlangsung didalam kelas.
  17. Dapat menghadirkan lebih dari satu hal dalam satu waktu.
  18. Mengatur perhatian pelajaran atau aktivitas secara mulus.
  19. Memelihara jalannya arahan pelajaran dengan baik.
  20. Memberikan penyajian secara jelas di dalam kelas.
  21. Dapat memotivasi siswa dalam pembelajaran.
  22. Menunjukan sikap memelihara, menerima, dan menghargai anak.
  23. Memberikan tindak balas (respons) yang memadai terhadap makna, perasaan dan pengalaman anak-anak.
  24. Mengarahkan pertanyaan kepada banyak siswa yang berbeda-beda, dan bukan hanya kepada siswa tertentu saja.
  25. Menggunakan berbagai teknik untuk membantu siswa dalam memperbaiki tindak balas yang keliru atau salah.
  26. Memberikan penghargaan dan ganjaran untuk memotivasi siswa.
  27. Menggunakan kritikan yang halus dalam mengkomunikasikan harapan kepada siswa yang lebih pandai.
  28. Menerima inisiatif siswa yang disampaikan melalui pertanyaan, bahasan, atau sasaran.
  29. D.    Profesionalisme Guru

Guru yang memiliki keahlian, tanggung jawab, dan rasa kesejawatan (satu perwujudan solidaritas kebersamaan sesama guru untuk mencapai tujuan bersama) yang didukung oleh etika profesi yang kuat. Unjuk kerja secara profesional mencakup berbagai dimensi secara terpadu, yaitu filosofi, konseptual, dan operasional. Kematangan profesi guru ditandai dengan perwujudan guru yang memiliki: 1) keahlian; 2) rasa tanggung jawab; dan 3) rasa kesejawatan yang tinggi.

Guru yang profesional ialah mereka yang memiliki keahlian, baik yang menyangkut materi keilmuan yang dikuasainya maupun keterampilan metodologinya, yang telah mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, lisensi, dan akreditasi dari pihak yang berwenang (pemerintah dan organisasi profesi).

Perwujudan unjuk kerja profesional guru di tunjang dengan jiwa profesionalisme yaitu sikap mental (intrinsik) yang senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan diri sebagai guru profesional. Profesionalisme guru mempunyai makna penting karena, profesionalisme memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum, merupakan satu cara untuk memperbaiki profesi pendidikan, memberikan kemungkinan perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan guru dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya.

Kualitas profesionalisme ditunjukan oleh lima unjuk kerja sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar ideal. Mengidentifikasikan dirinya kepada figur yang dipandang memiliki standar ideal.
  2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi. Keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perilaku profesional, seperti penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, postur, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dsb.
  3. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesempatan pengembangan profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya, berusaha mencari dan memanfaatkan kesempatan yang dapat mengembangkan profesinya, antara lain: a) mengikuti kegiatan ilmiah (lokakarya, seminar dsb); b) mengikuti penataran atau pendidikan lanjutan; c) melakukan penelitian atau pengabdian pada msyarakat; d) menelaah kepustakaan, membuat karya ilmiah; e) memasuki organisasi profesi.
  4. Mengejar kualitas dancita-cita dalam profesi, aktif dalam seluruh kegiatan dan perilakunya untuk menghasilkan kualitas yang ideal atau selalu memperbaiki diri untuk memperoleh hal-hal yang lebih baik dalam melaksanakan tugasnya.
  5. Memiliki kebanggaan terhadap profesinya, memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesinya serta berdedikasi tinggi terhadap tugas-tugasnya sekarang, dan menyakini akan potensi dirinya bagi perkembangan dimasa depan..
  6. E.     Menampilkan Kepribadian

Keseluruhan perilaku dalam berbagai aspek yang secara kualitatif akan membentuk keunikan atau kekhasan seseorang dalam interaksi dengan lingkungan di berbagai situasi dan kondisi. Sifat utama guru adalah kemampuannya dalam mewujudkan penampilan

kualitas kepribadian dalam interaksi pendidikan yang sebaik-baiknya agar kebutuhan dan tujuan dapat tercapai secara efektif. Hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

Keterangan:

  1. Komponen Penampilan, kemampuan mewujudkan berbagai perilaku kinerja yang Nampak sesuai dengan bidang jabat dan tugasnya sebagai pendidik.
  2. Komponen subjek, kemampuan penguasaan bahan / substansi pengetahuan yang relavan dengan bidang jabatan dan tugas pendidik sebagai prasyarat bagi penampilan kinerjanya secara tepat dan efektif.
  3. Komponen Subyek, kemampuan penguasaan substansi pengetahuan dan keterampilin teknis keahlian khusus dalam bidang jabatan dan tigas pendidik yang diperoleh melalu
  4. Komponen Profesional, kemampuan penguasaan proses-proses mental-intelektual yang mencakup proses berfikir (logis, kritis rasional, kreatif) dalam pemecahan masalah, pembuatan keputusan, dsb. Sebagai prasyarat bagi terwujudnya penampilan kinerja pendidik.
  5. Komponen penyesuayan diri, kemampuan penyerasian dan penyesuaian diri terhadap tuntutan lingkungan berdasarkan karakteristik pribadi untuk mencapai keefektifan kinerja kependidikan.
  6. Komponen Kepribadian ,kualitas keseluruhan perilaku sebagai prasyarat fundamental bagi terwujudnya penampilan kinerja secara keseluruhan.

Kepribadian Efektif

Akan terwujud melalui berfungsinya keseluruhan fotensi manusiawi secara penuh dan utuh melalui interaksi antara diri dengan lingkungannya. Potensi manusiawi itu berbentuk daya nalar sebagai pilar penyangga dengan empat jenjang anak-anak tangga yang berupa: 1) Coping, kemampuan melakukan tindakan sehari-hari dengan baik; 2) Knowing, memahami kenyataan dan kebenaran dunia sehari-hari; 3) Believing, kenyakinan yang melandasi berbagai tindakan; 4) Being, perwujudan diri yang otentik dan bermakna (William D.Htt,1993).

  1. Penalaran,
  2. Sumber-sumber daya, seseorang memerlukan atau daya berupa kecakapan untuk melakukan sesuatu, mempengaruhi pihak lain, dan mendapatkan hasil dari tindakannya. Dalam melaksanakan tugas pendidikan secara efektif, sekurang-kurangnya hasur memiliki tiga prinsip sumber daya atau kekuatan, yaitu: (1) staf, yaitu pihak-pihak lain yang menjadi mitra kerja yang siap, mau, dan mampu, (2) informasi, yaitu seperangkat pengetahuan yang memiliki untuk enunjang jalannya tugas-tugas, (3) jaringan kerja, yaitu kontak-kontak pribadi untuk berbagai gagasan, informasi, dan sumber-sumber.  
  3. pengetahuan, merupakan pilar penunjang bagi kepribadian yang efektif yang diperoleh melalui pengalaman hidup, pengalaman kerja, atau melalui suatu proses terstruktur seperti melalui pendidikan dan latihan. Untuk perwujudan kepribadian efektif, pengetahuan yang harus dikuasai secara utuh mencakup: (1) pengetahuan tentang diri sendiri, yaitu sejauh mana mengenal, memahami, dan menerima berbagai aspek tentang dirinya secara utuh dan benar; (2) pengetahuan tentang tugas atau pekerjaan, yaitu pemahaman mengenai berbagai tugas-tugas utama yang harus dilaksanakan dalam hubungan dengan jabatan atau pekerjaannya; (3) pengetahuan tentang organisasi, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek organisasi tempat tugas; (4) pengetahuan tentang bisnis utma, yaitu pemahaman mengenai visi dan misi secara khusus organisasi tempat tugas; dan (5) pengetahuan tentang dunia, yaitu pemahaman mengenai berbagai aspek lingkungan dan perkembangannya, baik local maupun global.      
  4. Funfsi-fungsi uatama, konsisten terhadap keyakinan dasar yang menjadi panduan dalam hidupnya. Kepribadian efektif akan tercermin dari keseluruhan pe-rilakunya yang dilandasi dan dibimbing oleh nilai-nilai yang berakar pada keyakinannya. Atas dasar itu, ada enam fungsi dasar yang dilakukan oleh pendidik berkepribadian efktif yang meliputi; (1) valving, yaitu kemampuan penguasaan nilai-nilai yang baik da-lam lingkungan pendidikan dan mampu menterjemahkan nilai-nilai itu dalam praktek, (2) visioning, yaitu memiliki gambaran mental yang jelas mengenai masa depan yang diinginkan bagi pendidikan, (3) coaching, yaitu membantu orang lain mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yangdiperlukan untuk mencapaai visi, (4) empowering, yaitu memberdayakan orang lain untuk bergerak sampai visi, (5) team bulding, yaitu mengembangkan kebersamaan dengan orang-orang yang bersedia untuk bersama-sama mencapai visi, dan (6) promoting quality, yaitu mencapai suatu reputasi meningkatnya mutu kinerja lembaga pendidikan.           
  5. Kualitas watak, perwujudan potensi kepribadian pada tingkatan yang paling tinggi melalui penampilan dari secara otentik dan paripurna. Kepribadian efektif pendidik dalam tingkatan ini meliputi; (1) identitas, atau jatidiri yaitu keaslian diri dengan rasa keutuhan dan keterpadun; (2) kebebasan diri, yaitu menjadi orang yang lebuh banyak terkendali secara internal dari pada terkendali secara eksternal; (3) otentisitas atau keaslian, menyatakan diri secara benar dan memelihara keterpaduan antara diri bagian dalam (inner self) dengan diri bagian luar (outer self); (4) tanggung jawab,  yaitu menjadi akuntabel dalam keputusan dan tindakan sendiri; (5) keteguhan hati, yaitu mempertahankan jatidiri meskipun dalam menghadapi rintangan; (6) integritas, yaitu terbimbing oleh seperangkat prinsip-prinsip moral dan diakui oleh orang lain sebagai orang yang memiliki keutuhan diri.            
  6. F.     Menampilkan Kewibawaan

 

  1. G.    Fleksibilitas Kognitif dan Keterbukaan Psikologis

 

  1. H.    Etika, Etos, dan Kode Etik Guru

 

 

BUKU REFERENSI :

PROF. DR. H. MOHAMAD SURYA (2004). PSIKOLOGI PEMBELAJARAN & PENGAJARAN. BANDUNG : PUSTAKA BANI QURAISY

 

%d blogger menyukai ini: